- Penembakan di Debsirin Nonthaburi School menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku berusia 14 tahun.
- Pelaku diduga lebih dahulu menembak kakek dan neneknya sebelum menyerang guru serta pegawai sekolah.
- Kementerian Kesehatan Thailand mencatat 27 korban luka, enam di antaranya dalam kondisi berat atau kritis.
- Pemerintah Thailand meningkatkan keamanan sekolah dan menyiapkan aturan baru untuk membatasi membawa senjata api.
JAMLIMA.COM, NONTHABURI — Penembakan massal di sekolah Thailand menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku, serta mengakibatkan puluhan korban terluka.
Serangan terjadi di Debsirin Nonthaburi School, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, pada Jumat, (7/8/2026).
Pelaku merupakan siswa laki-laki berusia 14 tahun.
Sebelum menyerang sekolahnya, remaja tersebut diduga menembak mati kakek dan neneknya di rumah mereka.
Setelah itu, pelaku membawa pistol milik kakeknya menuju sekolah.
Ia kemudian menembaki sejumlah guru dan pegawai sebelum menembak dirinya sendiri.
Jumlah korban meninggal bertambah pada Sabtu, 8 Agustus 2026, yakni Seorang siswi kelas VII berusia 12 tahun meninggal setelah sempat menjalani perawatan.
Dengan demikian, total korban meninggal mencapai sembilan orang.
Angka tersebut terdiri atas delapan korban serangan dan seorang pelaku.
Lima Guru dan Pegawai Sekolah Tewas
Lima korban meninggal di lingkungan sekolah merupakan guru dan pegawai Debsirin Nonthaburi School.
Sementara itu, dua korban lainnya merupakan kakek dan nenek pelaku.
Polisi menemukan keduanya meninggal di rumah setelah menelusuri latar belakang remaja tersebut.
Korban meninggal berikutnya adalah seorang siswi berusia 12 tahun.
Ia mengembuskan napas terakhir sehari setelah penembakan.
Adapun pelaku meninggal setelah menembak dirinya sendiri ketika aparat mulai menguasai lokasi.
Reuters melaporkan jumlah sembilan orang meninggal tersebut sudah termasuk pelaku.
Artinya, serangan itu merenggut delapan nyawa selain pelaku.
Jumlah Korban Luka Mencapai 27 Orang
Jumlah korban luka sempat berubah karena proses evakuasi dan pendataan berlangsung secara bertahap.
Kepolisian Thailand sebelumnya mencatat 23 orang terluka.
Namun, Kementerian Kesehatan Thailand kemudian memperbarui jumlah korban luka menjadi 27 orang.
Hingga Sabtu siang, sebanyak 15 korban masih menjalani perawatan di delapan rumah sakit.
Dari jumlah tersebut, enam pasien berada dalam kondisi berat atau kritis.
Selain itu, empat korban memerlukan penanganan mendesak, sedangkan lima lainnya mengalami luka lebih ringan.
Sebagian besar korban yang masih dirawat merupakan pelajar berusia sekitar 12 hingga 14 tahun.
Pelaku Tembak Kakek dan Neneknya
Rangkaian penembakan massal tersebut diduga bermula sekitar pukul 05.00 waktu Thailand.
Polisi menduga pelaku mengambil pistol dari kamar kakeknya.
Selanjutnya, ia menembak kakek dan neneknya di rumah mereka yang berada di Bang Bua Thong.
Pelaku kemudian menaiki bus menuju Debsirin Nonthaburi School.
Jarak rumahnya dengan sekolah mencapai sekitar 18 kilometer.
Remaja tersebut tiba di sekolah menjelang pukul 10.00.
Tidak lama kemudian, ia mengeluarkan pistol dan mulai melepaskan tembakan.
Debsirin Nonthaburi School diketahui memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru pada tahun ajaran 2025.
Siswa Mengunci Diri di Dalam Kelas
Suara tembakan pertama sempat dianggap sebagai bunyi petasan atau aktivitas pembangunan.
Namun, suara letusan kembali terdengar secara berulang.
Para guru kemudian mengarahkan siswa masuk ke kelas dan mengunci pintu.
Sejumlah siswa mendorong meja untuk menghalangi pintu.
Mereka juga mematikan lampu serta membisukan telepon seluler agar keberadaan mereka tidak diketahui pelaku.
“Saya tidak mengira itu suara senjata pada awalnya,” kata seorang siswa berusia 18 tahun kepada media setempat.
Sementara itu, sejumlah orang tua berkomunikasi dengan anak-anak mereka melalui pesan singkat.
Mereka meminta para siswa tetap tenang dan tidak menyalakan suara telepon.
Penembakan dilaporkan berlangsung sekitar 40 menit.
Selama waktu tersebut, pelaku berpindah dari satu bagian gedung menuju bagian lainnya.
Polisi Kerahkan Unit Khusus
Kepolisian setempat langsung menutup akses menuju sekolah setelah menerima laporan.
Selain polisi Nonthaburi, unit khusus Arintaraj 26 dan tim operasi khusus Kepolisian Wilayah I ikut melakukan penyisiran.
Sekitar pukul 10.50, petugas menemukan pelaku setelah terdengar tembakan terakhir.
Pelaku ditemukan dalam keadaan terluka akibat menembak kepalanya sendiri.
Tim medis sempat memberikan resusitasi jantung paru atau CPR.
Namun, petugas medis kemudian menyatakan pelaku meninggal dunia di rumah sakit.
Selanjutnya, sekitar pukul 11.40, aparat menyatakan situasi telah terkendali.
Polisi kemudian mengevakuasi siswa, guru, dan pegawai secara bertahap.
Sekolah Chanrat Witthaya yang berada di dekat lokasi dijadikan area aman.
Para orang tua dapat bertemu dan menjemput anak-anak mereka di tempat tersebut.
Sedikitnya 26 Peluru Ditembakkan
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan pelaku menggunakan pistol milik kakeknya. Senjata tersebut tercatat secara legal.
Kepolisian menyebut remaja itu menembakkan sedikitnya 26 peluru selama rangkaian serangan.
Selain itu, petugas menemukan 34 butir peluru tambahan yang masih dibawa pelaku.
Polisi kemudian memeriksa riwayat penggunaan dan latihan senjata pelaku.
Pemeriksaan dilakukan karena beberapa korban terkena tembakan pada bagian tubuh vital.
Sementara itu, tim forensik menyisir rumah pelaku serta lingkungan sekolah.
Petugas turut mengamankan pistol, amunisi, telepon seluler, dan barang lainnya sebagai bukti.
Motif Penembakan Masih Diselidiki
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan pelaku diduga mengalami tekanan yang berkaitan dengan pendidikan.
Meski demikian, kepolisian belum menetapkan tekanan akademik sebagai motif pasti.
Penyidik masih memeriksa keterangan keluarga, guru, siswa, dan saksi lainnya.
Selain itu, aparat menelusuri aktivitas digital pelaku untuk mengetahui apakah serangan tersebut telah direncanakan.
Polisi turut memeriksa riwayat latihan menembak serta kemungkinan pelaku mempelajari penembakan massal di negara lain.
Di sisi lain, penyidik belum menemukan catatan perawatan psikiatri yang dapat mengonfirmasi dugaan bahwa pelaku memiliki riwayat gangguan mental.
Oleh karena itu, motif penembakan masih menjadi bagian dari penyelidikan.
Pemerintah Tingkatkan Keamanan Sekolah
Anutin menyampaikan kesedihan setelah menerima laporan mengenai serangan tersebut.
“Ini mengerikan. Saya berduka atas mereka yang meninggal,” kata Anutin.
Pemerintah Thailand kemudian memerintahkan sejumlah pejabat mendatangi lokasi.
Selain itu, pemerintah meminta tenaga medis memberikan penanganan maksimal kepada seluruh korban.
Kementerian Pendidikan Thailand juga memerintahkan peningkatan keamanan di sekolah-sekolah.
Langkah tersebut bertujuan mencegah serangan serupa sekaligus memulihkan rasa aman siswa, guru, dan orang tua.
Sebanyak 70 Unit Darah Disalurkan
Pusat Layanan Darah Nasional Thailand mengirimkan sedikitnya 70 unit darah untuk membantu penanganan korban.
Sebanyak 34 unit dikirim ke Bang Yai Hospital. Sementara itu, 36 unit lainnya disalurkan ke Phranangklao Hospital.
Otoritas kesehatan turut mengajak masyarakat yang memenuhi persyaratan untuk mendonorkan darah.
Selain layanan medis, pemerintah menyiapkan dukungan psikologis bagi siswa, guru, keluarga korban, dan petugas yang terlibat dalam evakuasi.
Sekolah Ditutup Sementara
Debsirin Nonthaburi School menghentikan kegiatan belajar tatap muka pada 10–14 Agustus 2026.
Penutupan sementara dilakukan untuk mendukung penyelidikan, pemulihan psikologis, dan evaluasi sistem keamanan sekolah.
Selama masa tersebut, kegiatan pembelajaran direncanakan berlangsung secara daring.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan bagi keluarga korban meninggal, korban luka berat, korban yang mengalami disabilitas, dan korban luka ringan.
Thailand Siapkan Aturan Senjata Baru
Penembakan massal di sekolah Thailandk kembali memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api.
Anutin mengatakan pemerintah akan mengusulkan aturan baru yang membatasi masyarakat membawa senjata di ruang publik.
Dalam rencana awal, izin membawa senjata akan dibatasi kepada pejabat pemerintah yang sedang bertugas.
Namun, pemerintah belum mengumumkan secara terperinci perubahan persyaratan kepemilikan senjata.
Berdasarkan estimasi Small Arms Survey tahun 2017, sekitar 10,3 juta senjata berada di tangan warga sipil Thailand.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 15 senjata untuk setiap 100 penduduk.
Dari angka itu, lebih dari enam juta senjata tercatat secara resmi.
Sementara itu, sekitar empat juta lainnya diperkirakan tidak terdaftar.
Serangan di Nonthaburi menjadi penembakan di sekolah kedua yang tercatat di Thailand sepanjang 2026.
Selain itu, insiden tersebut menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak tragedi Nong Bua Lamphu pada 2022.
Peristiwa ini pun memperkuat desakan agar pemerintah Thailand memperketat akses terhadap senjata dan memperbaiki sistem keamanan sekolah.
















