Scroll untuk baca artikel
Nasional

Subduksi Picu Gempa M6,4 di Simalungun, Guncangan Menjalar hingga Aceh

×

Subduksi Picu Gempa M6,4 di Simalungun, Guncangan Menjalar hingga Aceh

Sebarkan artikel ini
Peta guncangan gempa M6,4 Simalungun, Sumatra Utara, berdasarkan data BMKG
GEMPA SUMUT - Gempa M6,4 yang berpusat di darat wilayah Simalungun, Sumatra Utara, Sabtu, (15 /8/2026). BMKG mencatat gempa M6,4 berpusat 11 kilometer tenggara Simalungun pada kedalaman 168 kilometer dan tidak berpotensi tsunami. (foto/ilustrasi)

  • Gempa M6,4 mengguncang Simalungun pada Sabtu, (15/8/2026), pukul 17.54.52 WIB.
  • Hasil analisis terbaru BMKG menempatkan episenter 11 kilometer tenggara Simalungun pada kedalaman 168 kilometer.
  • Aktivitas subduksi lempeng memicu gempa dengan mekanisme sesar geser turun.
  • Gempa tidak berpotensi tsunami, tetapi masyarakat tetap perlu mewaspadai gempa susulan dan bangunan retak.

JAMLIMA.COM, SIMALUNGAN — Gempa M6,4 mengguncang Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, Sabtu, (15/8/2026).

BMKG menyatakan aktivitas subduksi lempeng memicu gempa tersebut dan memastikan tidak ada potensi tsunami.

Gempa terjadi pada pukul 17.54.52 WIB. Getarannya terasa kuat di sejumlah daerah Sumatra Utara hingga menjangkau Aceh dan Kepulauan Nias.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama unsur terkait telah melakukan pemantauan dan asesmen.

Sampai pembaruan resmi terakhir yang tersedia pada Minggu, (16/8/2026), pemerintah belum mengumumkan adanya korban maupun kerusakan terverifikasi akibat gempa tersebut.

BMKG memperbarui lokasi gempa Simalungun

Informasi otomatis pertama BMKG mencatat gempa M6,4 berada pada koordinat 2,97 derajat Lintang Utara dan 98,95 derajat Bujur Timur.

Data awal menempatkan sumber gempa pada kedalaman 163 kilometer.

Sedangkan pusat gempa berada di darat, sekitar 12 kilometer barat laut Pematangsiantar.

Namun, BMKG kemudian memperbarui parameter setelah menganalisis data dari jaringan sensor seismik.

“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4 pada kedalaman 168 kilometer,” kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan resminya, Sabtu (15/8/2026).

Hasil analisis terbaru menempatkan episenter pada koordinat 2,91 derajat Lintang Utara dan 98,93 derajat Bujur Timur.

Lokasi tersebut berada di darat, sekitar 11 kilometer tenggara Simalungun, Sumatra Utara.

Perbedaan antara informasi otomatis pertama dan parameter terbaru bukan menandakan dua gempa berbeda.

BMKG memperbaiki data setelah menerima dan mengolah informasi dari lebih banyak sensor.

Gempa tidak berpotensi tsunami

BMKG memastikan gempa M6,4 Simalungun tidak menimbulkan ancaman tsunami.

“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelas Wijayanto.

Karena itu, masyarakat pesisir Sumatra Utara dan Aceh tidak perlu melakukan evakuasi tsunami akibat kejadian ini.

Namun, warga harus tetap mengikuti informasi resmi.

BMKG masih memantau kemungkinan gempa susulan setelah gempa utama.

Subduksi lempeng memicu gempa

BMKG menggolongkan kejadian ini sebagai gempa bumi menengah karena sumbernya berada pada kedalaman 168 kilometer.

Aktivitas subduksi lempeng memicu gempa tersebut.

Proses subduksi terjadi ketika satu lempeng tektonik bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme sesar geser turun atau oblique normal fault,” tulis BMKG dalam siaran pers resminya.

Mekanisme tersebut menggabungkan gerakan mendatar dan gerakan turun pada sumber gempa.

Kedalaman sumber ikut memengaruhi luas wilayah yang merasakan getaran.

Gempa menengah dapat menyalurkan energi ke daerah yang jauh dari episenter.

Namun, tingkat kerusakan tidak hanya bergantung pada magnitudo.

Kedalaman sumber, jarak dari episenter, kondisi tanah, dan kekuatan bangunan turut menentukan dampaknya.

Guncangan mencapai V MMI

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, BMKG mencatat intensitas tertinggi mencapai V MMI di Tebingtinggi, Kabanjahe, dan Limapuluh.

Pada skala V MMI, hampir semua penduduk dapat merasakan getaran.

Gempa juga dapat membangunkan orang yang sedang tidur dan membuat barang-barang tidak stabil bergeser atau jatuh.

Sementara itu, guncangan dengan intensitas IV MMI terasa di:

  • Raya, Kabupaten Simalungun
  • Panombeian Panei, Kabupaten Simalungun
  • Panei, Kabupaten Simalungun
  • Kota Pematangsiantar
  • Pangururan, Kabupaten Samosir

Pada intensitas IV MMI, banyak orang di dalam rumah merasakan getaran.

Pintu dan jendela dapat bergetar, sedangkan benda yang digantung dapat bergoyang.

Getaran terasa hingga Aceh

Catatan gempa dirasakan BMKG menunjukkan guncangan menjangkau sebagian besar wilayah Sumatra bagian utara.

BMKG mencatat intensitas IV MMI di Sibolga dan Aceh Selatan.

Getaran pada tingkat tersebut dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah.

Sementara itu, guncangan III–IV MMI terasa di Nagan Raya, Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa.

Getaran dengan intensitas III MMI juga menjangkau:

  • Medan dan Deli Serdang
  • Padangsidimpuan
  • Banda Aceh dan Aceh Besar
  • Aceh Barat dan Simeulue
  • Pidie dan Pidie Jaya
  • Bireuen dan Lhokseumawe
  • Bener Meriah

Pada skala III MMI, warga di dalam rumah dapat merasakan getaran seperti kendaraan berat sedang melintas.

Kepulauan Nias ikut merasakan gempa

Getaran gempa juga menjangkau Kepulauan Nias.

BMKG mencatat intensitas II–III MMI di Nias, Nias Barat, Nias Selatan, Nias Utara, dan Gunungsitoli.

Pada tingkat II MMI, hanya sebagian orang yang merasakan getaran.

Benda ringan yang digantung juga dapat bergoyang.

Luasnya wilayah yang merasakan gempa berkaitan dengan sumber yang cukup dalam.

Meski demikian, luas jangkauan getaran tidak berarti seluruh wilayah mengalami kerusakan.

Warga Aceh Barat sempat keluar rumah

Sebagian masyarakat Aceh Barat memilih keluar rumah setelah merasakan bangunan bergoyang.

Namun, masyarakat perlu membedakan antara laporan getaran dan laporan kerusakan.

Getaran yang terasa kuat belum tentu menimbulkan kerusakan struktural.

Guncangan kuat berlangsung sekitar 30 detik

BPBD Provinsi Sumatra Utara melaporkan gempa terasa di Kabupaten Simalungun, Kota Medan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Warga Simalungun, Medan, dan Pakpak Bharat merasakan guncangan kuat selama sekitar 30 detik.

Sementara itu, warga Tapanuli Tengah merasakan guncangan kuat selama sekitar 10 detik.

BNPB kemudian berkoordinasi dengan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan unsur terkait untuk memantau situasi.

“Personel diturunkan untuk melakukan asesmen terhadap dampak dan korban jiwa yang mungkin ditimbulkan akibat peristiwa ini,” tulis BNPB dalam laporan resmi, Sabtu (15/8/2026).

Petugas memeriksa kondisi masyarakat, rumah, fasilitas umum, jaringan listrik, serta akses transportasi di wilayah yang merasakan guncangan.

Belum ada laporan resmi korban atau kerusakan

Sampai pembaruan resmi terakhir yang ditemukan pada Minggu, 16 Agustus 2026, BNPB belum mengumumkan korban jiwa, korban luka, atau kerusakan terverifikasi akibat gempa M6,4 Simalungun.

Pernyataan tersebut tidak otomatis berarti tidak ada dampak.

Petugas tetap perlu menyelesaikan pendataan dan verifikasi di lapangan.

Masyarakat juga perlu mewaspadai foto atau video kerusakan yang beredar di media sosial.

Pengguna media sosial dapat keliru mengaitkan dokumentasi gempa lain dengan kejadian di Simalungun.

Karena itu, warga sebaiknya menunggu konfirmasi BMKG, BNPB, BPBD, atau pemerintah daerah sebelum menyebarkan informasi.

Belum terdeteksi gempa susulan dalam pemantauan awal

BMKG belum mendeteksi aktivitas gempa susulan hingga Sabtu pukul 18.16 WIB.

Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

Gempa susulan tidak selalu terjadi. Para ahli juga tidak dapat menentukan secara tepat waktu, lokasi, dan kekuatannya sebelum kejadian.

Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus menyiapkan langkah penyelamatan.

BMKG minta warga menghindari bangunan retak

BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Warga juga harus menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” demikian imbauan BMKG.

Saran/tindakan sebelum kembali ke dalam rumah, warga perlu memeriksa:

  • Kolom dan balok utama
  • Retakan pada dinding
  • Pergeseran atap
  • Instalasi listrik
  • Saluran gas
  • Lemari dan benda berat
  • Kaca atau bagian bangunan yang berpotensi jatuh

Warga sebaiknya tidak memasuki bangunan jika menemukan retakan besar pada struktur, dinding miring, atap bergeser, atau bagian bangunan terlepas.

Jika gempa susulan terjadi, masyarakat perlu melindungi kepala, menjauhi kaca dan lemari, serta berlindung di bawah meja yang kuat.

Setelah guncangan berhenti, warga dapat keluar dengan tertib menuju tempat terbuka.