- Proyeksi Mercator mempertahankan sudut dan arah, tetapi memperbesar wilayah di lintang tinggi sehingga ukuran benua tidak terlihat proporsional.
- Greenland terlihat hampir sebesar Afrika pada peta Mercator, padahal luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar.
- Majelis Umum PBB pada Jumat (4/9/2026) mengadopsi resolusi yang mendorong penggunaan Equal Earth dan proyeksi equal-area saat perbandingan luas menjadi penting.
- Resolusi tersebut tidak mengikat dan tidak melarang Mercator, termasuk untuk kebutuhan navigasi maritim maupun penerbangan.
JAMLIMA.COM, TEKNOLOGI – Peta dunia yang selama puluhan tahun muncul di ruang kelas, media, situs web, hingga sejumlah layanan digital ternyata tidak selalu menggambarkan ukuran negara dan benua secara proporsional.
Masalah utama bukan karena peta tersebut salah cetak.
Distorsi muncul karena permukaan bumi yang hampir bulat harus dipindahkan ke bidang datar.
Salah satu contoh paling terkenal terdapat pada proyeksi Mercator.
Proyeksi ini mempertahankan sudut dan membantu menunjukkan arah.
Namun, semakin jauh sebuah wilayah dari khatulistiwa, ukurannya dapat terlihat semakin besar dibandingkan luas sebenarnya.
Persoalan tersebut kembali menjadi perhatian dunia setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi resolusi mengenai representasi peta dunia pada Jumat (4/9/2026).
Resolusi bertajuk “Correct the map: rebalancing global cartographic representation and promoting equitable representation of the world’s regions, particularly Africa”
Atau dokumen A/80/L.104 itu mendapat dukungan 164 negara.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sedangkan enam negara abstain.
Enam negara yang memilih abstain adalah Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.
Resolusi tersebut mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth atau proyeksi equal-area lainnya ketika peta digunakan untuk membandingkan luas negara dan benua.
Mengapa Peta Dunia Tidak Bisa Akurat?
Bumi memiliki permukaan tiga dimensi. Sementara itu, layar telepon seluler, monitor komputer, kertas, atlas, dan papan peta berbentuk dua dimensi.
Ketika permukaan yang melengkung dipindahkan ke bidang datar, sebagian karakteristik geografis harus dikorbankan.
Akibatnya, tidak ada satu proyeksi peta datar yang dapat mempertahankan luas, bentuk, jarak, arah, dan sudut secara sempurna pada seluruh permukaan bumi.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “peta mana yang sepenuhnya benar”, tetapi “peta mana yang paling sesuai untuk tujuan tertentu.”
Peta navigasi membutuhkan karakteristik berbeda dari peta yang digunakan untuk membandingkan luas negara.
Demikian pula, peta jalan suatu kota tidak harus menggunakan proyeksi yang sama dengan peta dunia dalam buku geografi.
Cara Kerja Mercator
Proyeksi Mercator diperkenalkan oleh kartografer Flemish, Gerardus Mercator, pada 1569.
Salah satu keunggulan terbesarnya adalah sifat conformal.
Sudut lokal dipertahankan sehingga rute dengan arah kompas tetap atau rhumb line dapat digambarkan sebagai garis lurus.
Karakteristik tersebut membuat Mercator sangat berguna dalam sejarah navigasi laut.
Dokumentasi sistem proyeksi PROJ juga menjelaskan bahwa sifat tersebut menjadikan Mercator sesuai untuk tujuan navigasi.
Namun, keuntungan itu memiliki konsekuensi besar.
Luas wilayah tidak dipertahankan.
Semakin mendekati kutub, skala pada peta Mercator meningkat dengan cepat.
Karena itu, wilayah pada lintang tinggi dapat terlihat jauh lebih besar dibandingkan wilayah dengan luas sebenarnya yang sama di dekat khatulistiwa.
Inilah alasan Rusia, Kanada, Greenland, Alaska, dan kawasan Eropa Utara terlihat sangat dominan pada peta Mercator.
Sebaliknya, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian kawasan tropis terlihat relatif lebih kecil.
Greenland Terlihat Hampir Sebesar Afrika
Greenland menjadi contoh paling mudah untuk melihat distorsi Mercator.
Pada banyak peta Mercator, Greenland terlihat hampir sebesar Afrika.
Padahal, Afrika memiliki luas sekitar 14 kali Greenland.
Fakta tersebut juga menjadi salah satu contoh utama dalam kampanye perubahan peta yang kemudian memperoleh dukungan Majelis Umum PBB.
Distorsinya bukan hanya terjadi pada Greenland.
Mercator juga dapat membuat kawasan lintang tinggi terlihat jauh lebih dominan daripada wilayah tropis.
Dokumentasi PROJ bahkan menyebut Mercator tidak tepat digunakan sebagai peta dunia untuk membandingkan luas karena distorsi areanya sangat besar.
Greenland, misalnya, dapat terlihat lebih luas daripada Amerika Selatan pada proyeksi tersebut, padahal luas sebenarnya jauh lebih kecil.
Distorsi Membesar Dekat Kutub
Secara matematis, distorsi Mercator meningkat berdasarkan garis lintang.
Pada khatulistiwa, skalanya paling mendekati kondisi dasar.
Namun, ketika bergerak menuju kutub, pembesaran semakin kuat.
Pada garis lintang sekitar 60 derajat, skala panjang pada Mercator dapat mencapai sekitar dua kali skala di khatulistiwa.
Karena pembesaran terjadi pada dua dimensi, distorsi luas menjadi jauh lebih besar.
Itulah sebabnya kesalahan visual Mercator tidak tersebar merata di seluruh dunia.
Wilayah tropis tidak mengalami pembesaran sebesar kawasan utara dan selatan pada lintang tinggi.
Peta Digital Menggunakan Mercator
Persoalan ini tidak terbatas pada atlas lama.
Teknologi pemetaan digital juga menggunakan keluarga proyeksi Mercator.
Dokumentasi Google Maps menjelaskan bahwa sistemnya menggunakan proyeksi Mercator.
Kemudian, bertujuan mengubah koordinat lintang dan bujur menjadi koordinat pada peta digital. Dalam implementasi pemetaan web, pendekatan ini lazim dikenal sebagai Web Mercator.
Ada alasan teknis di balik penggunaannya.
Mercator memudahkan penyusunan peta dalam bentuk tiles atau petak-petak digital yang dapat dimuat berdasarkan tingkat pembesaran.
Sistem seperti itu sangat efisien untuk menampilkan jalan, lokasi, rute perjalanan, bangunan, dan berbagai data spasial pada layar.
Namun, kegunaan tersebut tidak berarti tampilan Mercator cocok dipakai untuk membandingkan luas benua.
Dengan kata lain, teknologi yang sangat efektif untuk navigasi dapat menghasilkan persepsi ukuran wilayah yang keliru apabila digunakan sebagai peta dunia.
Adopsi Resolusi “Correct the Map”
Perdebatan mengenai distorsi peta kemudian mencapai Majelis Umum PBB.
Pada Jumat (4/9/2026), sebanyak 164 negara mendukung resolusi yang dipimpin Togo dan didukung negara-negara Afrika.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak.
Sementara itu, enam negara memilih abstain.
Resolusi tersebut merupakan bagian dari kampanye Correct the Map yang didukung Uni Afrika.
Tujuannya adalah mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional, media, penerbit, serta perusahaan teknologi untuk menggunakan peta yang mempertahankan perbandingan luas ketika informasi tersebut relevan.
Namun, keputusan PBB tidak berarti seluruh dunia diwajibkan memakai satu jenis peta.
Resolusi tersebut tidak mengikat secara hukum. PBB juga tidak melarang Mercator.
Mengapa Equal Earth Dipilih?
Salah satu proyeksi yang didorong adalah Equal Earth.
Proyeksi ini dikembangkan oleh Bojan Šavrič, Tom Patterson, dan Bernhard Jenny. Penelitian pertamanya dipublikasikan pada 2018.
Equal Earth termasuk proyeksi equal-area pseudocylindrical.
Artinya, proyeksi tersebut dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah di seluruh dunia.
Makalah ilmiah yang memperkenalkannya menjelaskan bahwa Equal Earth terinspirasi oleh tampilan proyeksi Robinson, tetapi berbeda karena mempertahankan ukuran relatif suatu area.
Akibatnya, Afrika terlihat jauh lebih besar dibandingkan Greenland pada Equal Earth.
Amerika Selatan juga memperoleh proporsi yang lebih realistis dibandingkan banyak tampilan Mercator.
Perbandingan ukuran antarbenua menjadi lebih dekat dengan keadaan sebenarnya.
Equal Earth Bukan Peta Sempurna
Meski demikian, Equal Earth tidak menghilangkan seluruh distorsi.
Proyeksi tersebut mengutamakan akurasi perbandingan luas.
Sebagai konsekuensinya, bentuk, sudut, jarak, dan arah pada bagian tertentu tetap dapat mengalami perubahan.
Ini menjadi poin penting.
Equal Earth tidak berarti seluruh unsur geografis menjadi lebih akurat daripada Mercator.
Keduanya memiliki prioritas berbeda.
Mercator mempertahankan sudut lokal dan sangat berguna untuk kebutuhan tertentu.
Equal Earth mempertahankan luas relatif sehingga lebih sesuai untuk peta dunia.
Khususnya dalam dunia pendidikan, infografik, statistik, atau perbandingan antarnegara dan benua.
Mercator Tidak Akan Langsung Hilang
Resolusi PBB tidak memerintahkan penghentian total Mercator.
Reuters melaporkan bahwa resolusi itu bahkan secara eksplisit tidak mempersoalkan penggunaan Mercator untuk navigasi maritim dan penerbangan.
Karena proyeksi tersebut tetap memiliki fungsi teknis pada bidang tersebut.
Karena itu, perubahan terbesar kemungkinan terjadi pada penggunaan Mercator sebagai peta dunia untuk menunjukkan perbandingan luas.
Atlas pendidikan, infografik, media, lembaga internasional, dan tampilan digital berskala dunia menjadi area yang paling relevan untuk menggunakan proyeksi equal-area.
Sementara itu, peta navigasi dan pemetaan digital lokal dapat tetap menggunakan sistem yang berbeda.
Eksistensi Google Maps
Adopsi resolusi tersebut juga tidak berarti Google Maps, GPS, atau seluruh aplikasi navigasi harus langsung mengganti sistem pemetaannya.
Platform digital memiliki kebutuhan teknis yang berbeda.
Google Maps, misalnya, menggunakan Mercator dalam sistem koordinat peta digitalnya.
Dokumentasi Google menjelaskan bahwa sistem tersebut memanfaatkan proyeksi Mercator.
Khususnya menerjemahkan koordinat dunia menjadi posisi pada peta dan petak digital.
Karena itu, mengganti proyeksi bukan sekadar mengganti gambar latar.
Perubahan dapat menyentuh cara tiles dibuat, koordinat ditampilkan, data spasial dirender, serta bagaimana berbagai lapisan informasi geografis berinteraksi.
Namun, sebuah platform tidak harus menggunakan satu representasi untuk seluruh fungsi.
Peta digital dapat menggunakan globe tiga dimensi pada tingkat global, proyeksi tertentu untuk navigasi, dan proyeksi equal-area saat pengguna ingin membandingkan luas wilayah.
Togo Mulai dari Buku Pelajaran
Togo tidak hanya membawa resolusi tersebut ke PBB.
Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan negaranya berencana mengubah materi geografi sekolah dan menggunakan representasi baru pada tahun ini.
Togo juga berencana mendorong pemerintah lain, lembaga pendidikan, organisasi internasional, dan perusahaan teknologi untuk mempertimbangkan penggunaan peta yang lebih proporsional.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa dampak resolusi kemungkinan akan berlangsung bertahap.
Perubahan tidak terjadi dalam satu malam, tetapi dapat dimulai dari buku pelajaran, atlas, materi edukasi, infografik, media, hingga layanan digital.
Prinsip Kartografi
Perdebatan mengenai Mercator dan Equal Earth pada akhirnya menunjukkan satu prinsip penting dalam kartografi.
Tidak ada satu proyeksi yang ideal untuk seluruh kebutuhan.
Mercator unggul ketika sudut dan arah menjadi prioritas.
Equal Earth unggul ketika luas relatif negara dan benua harus dipertahankan.
Proyeksi Robinson menawarkan kompromi visual untuk peta dunia.
Proyeksi azimutal dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu di sekitar wilayah kutub.
Sementara itu, pemetaan kota, pertanahan, konstruksi, dan wilayah administrasi dapat menggunakan sistem koordinat lokal yang jauh lebih sesuai.
Karena itu, “peta yang benar” selalu bergantung pada informasi apa yang ingin ditampilkan.
Arah Baru Peta Dunia
Resolusi Majelis Umum PBB tidak membuktikan bahwa seluruh peta yang digunakan selama ini salah.
Sebaliknya, keputusan tersebut menegaskan bahwa setiap proyeksi mempunyai fungsi sekaligus keterbatasan.
Mercator memainkan peran besar dalam sejarah navigasi dan kemudian menjadi fondasi berbagai sistem pemetaan digital.
Namun, proyeksi itu dapat memberikan gambaran yang sangat menyesatkan apabila digunakan untuk membandingkan luas negara dan benua.
Greenland yang terlihat hampir sebesar Afrika merupakan contoh paling jelas, karena luas Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih besar.
Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda dengan mempertahankan perbandingan luas wilayah.
Karena itu, proyeksi tersebut lebih sesuai untuk pendidikan, media, statistik, infografik, serta tampilan dunia ketika ukuran negara dan benua menjadi informasi utama.
Resolusi PBB pada Jumat (4/9/2026) tidak menghapus Mercator.
Namun, keputusan itu membuka perubahan penting dalam cara sekolah, media, pemerintah, dan perusahaan teknologi memilih bagaimana dunia ditampilkan di atas peta.
















