- Erupsi Gunung Anak Krakatau berlanjut hingga Minggu (6/9/2026), dengan status Level III atau Siaga. Abu vulkanik mencapai ketinggian 20.000–50.000 kaki.
- Sebaran abu vulkanik mengganggu penerbangan dan menyebabkan enam bandara menghentikan sementara operasional.
- Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sejak Minggu dini hari dan diperkirakan kembali beroperasi pukul 17.30 WIB, saat berita ini ditayangkan.
- Sebanyak 301 penerbangan di Soekarno-Hatta terdampak, termasuk 58 penerbangan internasional.
JAMLIMA.COM, TANGERANG – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu gangguan besar terhadap penerbangan nasional pada Minggu (6/9/2026).
Abu vulkanik yang terbawa angin memasuki ruang udara sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatera.
Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan menghentikan sementara operasional di sejumlah bandara.
Berdasarkan perkembangan terbaru, enam bandara tercatat menghentikan operasi penerbangan akibat abu vulkanik.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sedikitnya 301 penerbangan terdampak hingga Minggu siang.
Gangguan ini menjadi perkembangan lanjutan dari rangkaian erupsi Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Erupsi Menguat Jejak Jumat Malam
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak Kamis (2/7/2026).
Sejak saat itu, status aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda tersebut berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas kemudian berkembang menjadi rangkaian erupsi Strombolian dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.
Pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026), aktivitas kembali meningkat.
Badan Geologi mencatat erupsi menerus yang disertai suara gemuruh dan semburan merah menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Ancaman yang harus diwaspadai meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu lebat.
Badan Geologi juga melarang masyarakat dan wisatawan melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.
BMKG Terbitkan 50 SIGMET
Dampak erupsi kemudian meluas ke atmosfer.
BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam sejak aktivitas erupsi meningkat.
SIGMET pertama diterbitkan setelah erupsi pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.23 WIB.
Hingga Minggu (6/9/2026), BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET untuk mendukung keselamatan navigasi penerbangan.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan abu vulkanik menyebar pada dua lapisan ketinggian.
“Sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9/2026).
Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan.
Wilayah yang terdampak mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.
Sementara abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke barat daya hingga barat laut.
Sebarannya menjangkau Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.
Abu Terdeteksi di Bandara Soekarno-Hatta
Gangguan terhadap Bandara Soekarno-Hatta mulai terkonfirmasi pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Kementerian Perhubungan melakukan paper test pada pukul 00.35 hingga 01.05 WIB.
Pemeriksaan tersebut menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik.
Ditjen Perhubungan Udara kemudian menutup sementara Bandara Soekarno-Hatta berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26.
Penutupan awal diberlakukan mulai pukul 01.30 hingga 05.30 WIB.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menegaskan keputusan tersebut mengutamakan keselamatan.
“Aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” kata Lukman, Minggu (6/9/2026).
Karena abu masih terdeteksi, penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB melalui NOTAM A3344/26.
Penutupan Bandara
AirNav Indonesia kembali memperbarui status operasional pada Minggu menjelang siang.
Bandara Soekarno-Hatta masih berstatus closed berdasarkan NOTAM A3346/26.
Penutupan berlaku sejak pukul 08.36 WIB dengan estimasi pembukaan kembali pukul 17.30 WIB, hingga berita ini ditayangkan.
Bandara Halim Perdanakusuma juga diperpanjang penutupannya melalui NOTAM A3347/26 sejak pukul 09.49 WIB.
Bandara tersebut diperkirakan dapat dibuka kembali pukul 14.00 WIB.
Sementara Bandara Radin Inten II di Lampung diperpanjang penutupannya melalui NOTAM B1125/26 sejak pukul 09.55 WIB, dengan estimasi pembukaan pukul 14.00 WIB.
Waktu tersebut bukan jaminan bandara otomatis dibuka.
Status tetap bergantung pada perkembangan abu vulkanik dan asesmen keselamatan.
Enam Bandara Hentikan Operasi
Pada perkembangan awal Minggu pagi, BMKG mengonfirmasi penutupan sementara empat bandara.
Bandara tersebut yakni Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto Curug.
BNPB juga menyampaikan penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan navigasi penerbangan.
“Status operasional dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu dan kondisi meteorologi,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Minggu (6/9/2026).
Perkembangan berikutnya menunjukkan gangguan meluas.
Reuters melaporkan enam bandara menghentikan operasi penerbangan pada Minggu akibat abu vulkanik Anak Krakatau.
Dengan demikian, jumlah bandara terdampak berkembang seiring perubahan arah dan konsentrasi abu.
301 Penerbangan Soetta Terdampak
Besarnya dampak juga terlihat dari jumlah penerbangan di Soekarno-Hatta.
Data terbaru menunjukkan 301 penerbangan terdampak akibat penghentian operasional.
Sebanyak 58 di antaranya merupakan penerbangan internasional.
Angka tersebut merupakan pembaruan dari data sebelumnya.
Pada periode pukul 01.30 hingga 09.30 WIB, InJourney Airports mencatat 209 pergerakan pesawat terjadwal dibatalkan.
Jumlah itu terdiri atas 160 penerbangan domestik, 39 internasional, serta 10 penerbangan kargo.
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta Yudistiawan mengatakan pengelola bandara terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait.
“Bandara Internasional Soekarno-Hatta terus melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait,” kata Yudistiawan di Tangerang, Minggu (6/9/2026).
Perbedaan angka 209 dan 301 bukan merupakan koreksi.
Angka 209 merupakan data untuk periode penutupan hingga pukul 09.30 WIB.
Sementara angka 301 mencakup perkembangan gangguan operasional yang lebih luas hingga penutupan diperpanjang.
Dampak Penerbangan Internasional
Gangguan tidak hanya terjadi pada rute domestik.
Penerbangan internasional menuju dan dari Jakarta turut terkena dampak.
Reuters mencatat 58 penerbangan internasional masuk dalam total 301 penerbangan terdampak.
Singapore Airlines juga membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta untuk sisa hari Minggu akibat kondisi tersebut.
Sementara penerbangan domestik dari sejumlah kota menuju Jakarta turut mengalami pembatalan dan keterlambatan.
Efeknya meluas karena Soekarno-Hatta merupakan hub utama penerbangan nasional.
Gangguan di Jakarta dapat mengubah rotasi pesawat, jadwal awak, dan jadwal penerbangan lanjutan di berbagai daerah.
Layanan Penumpang Bandara
InJourney Airports mengaktifkan langkah pemulihan untuk penumpang terdampak.
Pengelola menyediakan makanan dan minuman ringan.
Bus juga disiapkan di setiap terminal untuk membawa penumpang menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai.
Posko penanganan kondisi operasional dibuka di Terminal 1B.
Pengelola bandara juga berkoordinasi dengan tenant agar kebutuhan penumpang tetap terlayani selama periode gangguan.
Normalisasi operasional akan dilakukan bertahap.
Pesawat tidak serta-merta dapat kembali terbang secara bersamaan setelah bandara dinyatakan aman.
Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?
Abu vulkanik berbeda dengan asap biasa.
Partikelnya mengandung material batuan dan mineral berukuran sangat kecil.
Saat masuk ke mesin pesawat, partikel dapat mengalami pelelehan akibat temperatur tinggi.
Material kemudian berpotensi menempel pada bagian mesin dan mengganggu aliran udara.
Abu juga dapat mengurangi visibilitas, mencemari instrumen, dan mengikis bagian luar pesawat.
Karena itu, keberadaan abu di ruang udara menjadi faktor penting dalam keputusan penutupan bandara.
BMKG menerbitkan SIGMET dan Volcanic Ash Advisory.
Sementara AirNav menggunakan NOTAM untuk menyampaikan perubahan kondisi serta potensi bahaya penerbangan.
Status Penerbangan Dinamis
Kebijakan penerbangan akibat erupsi Anak Krakatau bersifat dinamis.
Penutupan dapat diperpanjang apabila abu masih ditemukan.
Sebaliknya, operasional dapat dipulihkan setelah asesmen memastikan ruang udara dan kawasan bandara aman.
Karena itu, penumpang yang akan melakukan perjalanan pada Minggu (6/9/2026) diminta tidak hanya mengandalkan jadwal tiket.
Masyarakat perlu mengecek langsung status penerbangan melalui maskapai dan pengelola bandara sebelum berangkat.
BMKG, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, Badan Geologi, serta pengelola bandara masih melakukan pemantauan karena aktivitas Anak Krakatau belum kembali normal.
















