- Dokter di London berhasil melakukan operasi tumor otak dengan bantuan AI secara real time.
- Prosedur tersebut disebut sebagai penggunaan pertama AI secara langsung dalam operasi tumor otak pada pasien.
- AI membantu menandai saraf dan pembuluh darah penting di sekitar tumor kelenjar pituitari.
- Rhys Hibbert berhasil mempertahankan penglihatannya setelah tumor berukuran 11 milimeter diangkat.
JAMLIMA.COM, LONDON — Dokter bedah saraf di Inggris berhasil menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Penggunaannya secara langsung pada operasi pengangkatan tumor otak.
UCLH menyebut, prosedur tersebut sebagai operasi tumor otak pertama di dunia yang menggunakan AI.
Bahkan secara real time untuk membantu dokter selama tindakan berlangsung.
Operasi itu dilakukan pada Mei 2026 di National Hospital for Neurology and Neurosurgery, London.
Pihak rumah sakit mengumumkan keberhasilan prosedur tersebut pada Kamis, (27/8/2026).
Pasien dalam operasi itu ialah Rhys Hibbert, pria berusia 48 tahun asal Bedfordshire, Inggris.
Dokter mengangkat tumor berukuran sekitar 11 milimeter pada kelenjar pituitari.
Tumor tersebut berada di dekat saraf penglihatan dan pembuluh darah penting.
Kondisi itu menyebabkan penglihatan Hibbert terus menurun dan berisiko berkembang menjadi kebutaan.
AI Menganalisis Video Operasi
Selama prosedur berlangsung, sistem AI menganalisis rekaman kamera endoskopi secara langsung.
Teknologi tersebut membantu tim medis mengenali saraf, pembuluh darah, jaringan, serta struktur penting lain di sekitar tumor.
AI memberikan penanda visual menggunakan warna tertentu.
Penanda itu membantu dokter membedakan area yang harus dihindari saat mengangkat tumor.
Teknologi tersebut juga membantu dokter memperoleh informasi dari kondisi yang terlihat selama operasi.
Sehingga bukan hanya berdasarkan hasil pemindaian sebelum tindakan.
Dokter Memegang Kendali
Penggunaan AI tidak berarti robot melakukan operasi secara mandiri.
Dokter bedah saraf tetap menentukan tindakan, mengendalikan alat operasi, dan mengambil keputusan medis berdasarkan kondisi pasien.
Hani Marcus, konsultan bedah saraf di National Hospital for Neurology and Neurosurgery, memimpin operasi tersebut bersama dokter residen Danyal Khan.
“Ini merupakan langkah penting secara global untuk membantu mengurangi risiko selama prosedur yang sangat rumit,” kata Marcus dalam keterangan resmi UCLH.
AI dalam prosedur itu berfungsi sebagai alat bantu visual.
Sistem tersebut tidak memotong jaringan, mengangkat tumor, atau menentukan tindakan tanpa pengawasan dokter.
Penglihatan Berhasil Dipertahankan
Operasi berhasil mengangkat tumor dan mempertahankan penglihatan Hibbert.
Pasien tersebut mengatakan penglihatannya membaik setelah menjalani operasi.
Ia juga dapat berjalan tanpa kacamata atau alat bantu dalam waktu sekitar satu pekan.
“Saat sadar dari operasi, saya dapat melihat seluruh ruangan dengan jelas,” ujar Hibbert.
Tanpa operasi, tumor tersebut berpotensi terus menekan saraf penglihatan.
Dokter menilai kondisi itu dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen.
Hibbert kemudian kembali bekerja dan melanjutkan aktivitasnya.
Ia juga menyatakan kesediaannya mengikuti penelitian karena menilai keterlibatan pasien penting bagi kemajuan pengobatan.
Dikembangkan oleh University College London
Sistem AI tersebut dikembangkan oleh peneliti University College London atau UCL.
Peneliti melatih sistem itu menggunakan ratusan video operasi.
Data tersebut membantu AI mengenali anatomi, instrumen bedah, serta interaksi antara jaringan dan alat operasi.
Sophia Bano, profesor madya bidang robotika dan AI di UCL, mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk membantu dokter mengenali struktur penting secara real time.
Menurut Bano, AI dapat mempelajari berbagai contoh operasi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai melalui pengalaman manusia.
Namun, hasil analisis AI tetap harus diperiksa dan dinilai oleh dokter.
Sistem tersebut juga tidak menggantikan keahlian, tanggung jawab, dan keputusan klinis tenaga medis.
Bagian dari Uji Klinis
Operasi tersebut menjadi bagian dari uji klinis yang menggunakan teknologi AI hasil pengembangan UCL.
Penelitian itu memperoleh pendanaan dari National Institute for Health and Care Research (NIHR).
Pihak peneliti masih memerlukan data dari lebih banyak pasien untuk menilai keamanan dan manfaat teknologi tersebut.
Para ahli berharap AI dapat membantu operasi tumor yang berada dekat saraf penglihatan, pembuluh darah, pusat bahasa, serta bagian otak lain yang memiliki fungsi penting.
Meski demikian, penerapan teknologi ini tetap membutuhkan pengawasan ketat.
Sehingga, Dokter harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan, kondisi pasien.
Termasuk risiko tindakan sebelum mengambil keputusan.
Operasi Hibbert menjadi tonggak baru dalam bedah saraf modern.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa AI dapat membantu dokter bekerja lebih presisi.
Namun demikian, tetap menempatkan tenaga medis sebagai pengendali utama tindakan.
















