- CYBEREX Super Garuda Shield 2026 melibatkan 13 negara untuk menghadapi skenario ancaman terhadap infrastruktur digital kritis.
- Sebanyak 10 negara mengikuti latihan secara aktif, sedangkan Laos, Italia, dan Brunei Darussalam menjadi observer.
- Peserta menguji koordinasi, interoperabilitas, dan respons terpadu dalam menghadapi ancaman siber.
- CYBEREX menjadi bagian Super Garuda Shield 2026 yang melibatkan 4.743 personel dari 21 negara.
JAMLIMA.COM, LAMPUNG — Ancaman terhadap infrastruktur digital kritis menjadi fokus dalam Cyber Exercise atau CYBEREX Super Garuda Shield (SGS) 2026.
Sebanyak 13 negara terlibat dalam rangkaian latihan pertahanan siber tersebut.
TNI bersama militer negara mitra menguji kemampuan menghadapi berbagai skenario ancaman.
Khususnya yang dapat mengganggu keamanan sistem digital kritis.
CYBEREX merupakan bagian dari Latihan Gabungan Bersama Super Garuda Shield ke-V Tahun 2026.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan tempur siber gabungan atau Joint Cybersecurity Warfighting Capabilities.
Peserta 10 Negara, Tiga Observer
CYBEREX SGS 2026 diikuti Indonesia, Amerika Serikat, Singapura, Australia, Selandia Baru, Belanda, Korea Selatan, India, Inggris, dan Kanada.
Sementara itu, Laos, Italia, dan Brunei Darussalam terlibat sebagai negara observer.
Dengan komposisi tersebut, total 13 negara terlibat dalam rangkaian CYBEREX 2026.
Perbedaan status tersebut penting karena tidak seluruh 13 negara memiliki peran yang sama dalam pelaksanaan latihan.
Sepuluh negara menjadi peserta, sedangkan tiga lainnya mengikuti kegiatan sebagai observer.
Krisis Infrastruktur Digital
TNI menempatkan ancaman terhadap infrastruktur digital kritis sebagai salah satu skenario utama dalam CYBEREX.
Para peserta menguji kemampuan koordinasi san interoperabilitas.
Termasuk respons terpadu ketika menghadapi ancaman siber.
Latihan juga diarahkan untuk memperkuat kerja sama pertahanan siber antarnegara.
Rangkaian CYBEREX dimulai dengan sesi akademik sebagai bekal sebelum peserta menjalankan skenario dan manuver.
Salah satu materi yang diberikan yakni Multinational Force Standard Operating Procedure atau MNF SOP terkait Network Enumeration.
Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami lingkungan jaringan dalam tahapan latihan berikutnya.
Perkuat Kemampuan Siber
Kemampuan siber juga mendapat perhatian khusus dalam keseluruhan Super Garuda Shield 2026.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan satuan siber TNI baru dibentuk sekitar tiga tahun terakhir.
Karena itu, latihan bersama negara mitra menjadi ruang untuk bertukar kemampuan.
Selain itu, bertukar dari sisi pengalaman di bidang pertahanan siber.
“Kita di TNI, baru tiga tahun kita punya satuan siber,” kata Agus saat pembukaan Super Garuda Shield 2026 di Bandung, Senin (31/8/2026).
Menurut Agus, unsur siber TNI menjalani latihan posko bersama unsur dari negara lain.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari peningkatan kemampuan sekaligus interoperabilitas antarmiliter.
SGS Libatkan 4.743 Personel
Secara keseluruhan, Super Garuda Shield 2026 berlangsung mulai 31 Agustus hingga 11 September 2026.
Latihan melibatkan 4.743 personel multinasional dan 21 negara pengirim pasukan.
Kegiatan berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja di Sumatera Selatan, serta Nunukan di Kalimantan Utara.
Panglima TNI menilai perkembangan lingkungan strategis Indo-Pasifik menghadirkan tantangan keamanan yang semakin kompleks dan multidimensi.
Situasi tersebut membutuhkan penguatan kolaborasi, interoperabilitas, serta kesiapsiagaan bersama antara TNI dan negara-negara mitra.
Melalui CYBEREX SGS 2026, kemampuan menghadapi ancaman digital kini ditempatkan sebagai bagian dari kesiapan pertahanan modern.
Fokusnya tidak hanya pada kemampuan teknis setiap peserta.
Akan tetapi juga pada kecepatan koordinasi dan respons bersama ketika infrastruktur digital kritis menghadapi ancaman siber.
















