Scroll untuk baca artikel
Internasional

Trump Ancam Serang Oman, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Memasuki Babak Baru

×

Trump Ancam Serang Oman, Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Memasuki Babak Baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Donald Trump, kapal tanker dan bendera Oman di Selat Hormuz
ANCAMAN SERANGAN - Donald Trump mengancam menyerang Oman jika negara tersebut dianggap menghalangi kepentingan Amerika Serikat dalam pengelolaan jalur pelayaran Selat Hormuz. (foto/ilustrasi)

  • Donald Trump mengancam menyerang Oman jika negara itu dianggap menghalangi kebijakan AS di Selat Hormuz.
  • Iran dan Oman telah menyepakati peta awal jalur pelayaran, tetapi masih membahas sejumlah persoalan teknis.
  • Tenggat 60 hari perundingan damai AS-Iran berakhir tanpa kesepakatan baru.
  • Belum ada laporan mengenai perintah operasi militer AS terhadap Oman hingga Selasa, (18/8/2026).

JAMLIMA.COM, WASHINTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serangan terhadap Oman ketika perundingan Washington dan Teheran menghadapi kebuntuan.

Pernyataan Trump berkaitan dengan pembicaraan Iran dan Oman mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Jalur laut strategis itu menjadi salah satu titik utama perselisihan antara AS dan Iran.

Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui wawancara telepon dengan Kepala Koresponden Luar Negeri Fox News, Trey Yingst, Senin (17/8/2026) waktu setempat, dari Fox News.

Trump mengatakan AS akan mengebom Oman jika negara itu menghalangi kebijakan Washington.

Trump Kritik Sikap Oman

Trump kembali menyinggung Oman ketika menjawab pertanyaan wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.

Ia menilai Oman tidak menunjukkan sikap yang baik. Trump juga mengklaim AS dapat menangani negara Teluk tersebut dengan mudah.

Ancaman terbaru bukan yang pertama. Dalam rapat kabinet pada Mei 2026, Trump juga mengancam mengambil tindakan militer jika Oman tidak mengikuti kebijakan Washington.

Oman merupakan mitra keamanan lama AS sekaligus salah satu negara yang aktif menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran.

Muscat menggunakan hubungan baiknya dengan kedua pihak untuk mendorong penyelesaian melalui diplomasi.

Belum ada bukti terbuka yang menunjukkan Oman sengaja menggagalkan perundingan AS-Iran.

Fakta yang tersedia, justru memperlihatkan Oman sedang menjalankan pembicaraan teknis dengan Iran mengenai Selat Hormuz.

Karena itu, istilah “menghalangi” dalam ancaman tersebut merupakan penilaian Trump terhadap posisi Oman.

Iran dan Oman Sepakati Peta Jalur Pelayaran

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran dan Muscat telah mencapai kesepahaman mengenai peta jalur pelayaran.

“An understanding has been reached regarding the map of the transit route,” kata Baghaei sebagaimana dikutip Associated Press.

Iran dan Oman kini menyusun rincian akhir sebelum menerbitkan pernyataan bersama.

Informasi awal menunjukkan kapal kemungkinan akan memasuki Selat Hormuz.

Kemudain, melalui jalur yang berdekatan dengan Iran dan keluar melalui perairan dekat Oman.

Kapal tidak akan membayar tarif selama masa sementara, tetapi kedua negara belum mengumumkan ketentuan final.

Washington menuntut pembukaan Selat Hormuz sebelum menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Pemerintah AS juga menolak skema yang memberi Iran kewenangan memungut tarif dari kapal yang melintas.

Perbedaan mengenai pengelolaan jalur pelayaran itu menghambat upaya mencapai kesepakatan lebih luas.

Tenggat 60 Hari AS-Iran Berakhir

Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026.

Dokumen tersebut memberi kedua pihak waktu maksimal 60 hari untuk merumuskan kesepakatan akhir.

Perundingan mencakup program nuklir Iran, sanksi ekonomi AS, penghentian operasi militer dan masa depan pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan sementara awalnya menyerukan penghentian operasi militer di semua front.

Namun, perselisihan mengenai Hormuz segera meruntuhkan pelaksanaannya.

Trump menyatakan kesepakatan itu berakhir pada 7 Juli.

Kementerian Luar Negeri Iran kemudian mengumumkan penangguhan kesepakatan sekitar satu pekan setelahnya.

Tenggat 60 hari resmi berakhir pada Senin, 17 Agustus 2026.

Namun Trump menolak memperpanjang kesepakatan sementara tersebut.

Meski begitu, Trump mengaku tidak menetapkan jadwal baru untuk mengakhiri konflik.

“I have no time schedule. I’m not in a hurry,” ujarnya.

Trump menegaskan Washington tetap memprioritaskan pencegahan pengembangan senjata nuklir Iran.

Ia juga mengonfirmasi keberadaan saluran komunikasi tidak resmi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Teheran sebelumnya membantah sedang menjalankan perundingan formal dengan Washington.

Pemerintah Iran menyatakan pembicaraan yang berlangsung hanya menyangkut pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman.

Iran Siapkan Eskalasi jika Diplomasi Gagal

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, bahwa Teheran dapat mengubah posisi militernya menjadi lebih ofensif jika diplomasi gagal.

Iran juga mengancam mengambil tindakan militer untuk mematahkan blokade laut AS.

Pernyataan itu meningkatkan risiko bentrokan baru di sekitar Hormuz dan kawasan Teluk.

Trump tetap mendesak Iran menyerah serta menerima persyaratan Washington.

Namun, Teheran meminta AS mencabut sanksi, menghentikan ancaman militer dan memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Perbedaan tersebut membuat peluang kesepakatan akhir tetap tipis.

Selat Hormuz Tekan Pasokan Energi Dunia

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Iran menguasai perairan di sisi utara, sedangkan Oman berada di sisi selatan jalur sempit tersebut.

Gangguan pelayaran Hormuz langsung memengaruhi pasokan minyak dan gas dunia.

Badan Informasi Energi AS atau EIA, memperkirakan pengiriman minyak mentah dan produk petroleum melalui Hormuz, hanya mencapai rata-rata 4,9 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026.

Volume tersebut merosot tajam dibandingkan 21,6 juta barel per hari pada kuartal keempat 2025, sebelum konflik pecah.

EIA memperkirakan arus minyak tetap sangat terbatas sepanjang Agustus 2026.

Harga minyak Brent juga ditutup pada posisi 90,87 dolar AS per barel, Senin, (17/8)

Ketidakpastian diplomasi dan ancaman konflik baru terus menekan pasar energi internasional.

Kongres AS Mulai Bereaksi

Senator Demokrat Tim Kaine berencana mengajukan resolusi kewenangan perang untuk mencegah Trump melancarkan serangan terhadap Oman tanpa persetujuan Kongres.

Kaine akan mengajukan resolusi tersebut setelah Senat AS menyelesaikan masa reses Agustus.

Ia menilai ancaman terhadap Oman dapat merusak hubungan strategis Washington dengan salah satu mitranya di kawasan Teluk.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga meminta AS dan Iran kembali ke meja perundingan.

“lower the rhetoric that we’ve been hearing in recent days.” ujarnya.

Hingga Selasa (18/8/2026), laporan Reuters dan Associated Press belum mencantumkan, tanggapan resmi pemerintah Oman terhadap ancaman terbaru Trump.

Selain itu, belum ada pula laporan yang menunjukkan Gedung Putih telah mengeluarkan perintah operasi militer terhadap Oman.

Ancaman tersebut sejauh ini masih berbentuk tekanan verbal, di tengah sengketa mengenai Selat Hormuz dan kebuntuan diplomasi AS-Iran.