Scroll untuk baca artikel
Nasional

Formula Pemadam X-Fire Dipakai Polri di Tiga Provinsi, Hasil Lapangan Positif tapi Bukti Ilmiah Masih Terbatas

×

Formula Pemadam X-Fire Dipakai Polri di Tiga Provinsi, Hasil Lapangan Positif tapi Bukti Ilmiah Masih Terbatas

Sebarkan artikel ini
Petugas Polri menunjukkan formula pemadam X-Fire yang digunakan untuk membantu pemadaman karhutla dan bara gambut.
X-FIRE POLRI - Petugas Polri menunjukkan formula pemadam X-Fire yang digunakan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama bara di bawah permukaan gambut. Formula tersebut telah digunakan atau diuji di Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Hingga Minggu, 13 September 2026, hasil lapangan menunjukkan respons positif, namun bukti ilmiah independen mengenai efektivitas X-Fire masih terbatas. (foto/ilustrasi)

  • Polri mulai menggunakan dan menguji formula X-Fire untuk membantu pemadaman kebakaran lahan gambut di Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.
  • Sebanyak 4.000 liter X-Fire dikirim ke Sumatera Selatan, sedangkan uji di Pelalawan dilakukan pada lahan bekas terbakar sekitar 3,4 hektare.
  • Hasil awal di lapangan dinilai positif. Namun, asesmen tetap diperlukan untuk memastikan bara di bawah permukaan gambut benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
  • Belum ditemukan publikasi ilmiah independen yang membandingkan efektivitas X-Fire dengan air biasa dalam kondisi kebakaran gambut yang setara.

JAMLIMA.COM, JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia mulai menggunakan formula pemadam X-Fire untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, terutama di kawasan gambut.

Formula tersebut telah digunakan atau diuji dalam operasi pemadaman di Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Hasil awal dari sejumlah lokasi menunjukkan respons positif.

Namun, data yang tersedia saat ini masih didominasi laporan operasional kepolisian.

Belum tersedia bukti ilmiah independen yang cukup untuk menyimpulkan X-Fire lebih efektif dibanding metode pemadaman gambut lainnya.

Diuji di Riau

Polda Riau menguji X-Fire saat proses pendinginan lahan bekas terbakar sekitar 3,4 hektare di Desa Sering, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Kamis, 10 September 2026.

Pengujian diarahkan pada salah satu tantangan terbesar kebakaran gambut, yakni bara yang tetap tersimpan di bawah permukaan tanah.

Karo SDM Polda Riau Kombes Boy Jeckson Situmorang mengatakan hasil awal penggunaan formula tersebut menunjukkan respons yang cukup efektif.

“Hari ini kita mencoba langsung penggunaan cairan X Fire dan hasil awalnya cukup efektif,” kata Boy.

Namun, Polda Riau tidak langsung menyimpulkan seluruh bara telah padam.

Boy mengatakan tim tetap melakukan asesmen selama satu hingga dua hari.

Pemantauan diperlukan untuk memastikan bara di bawah permukaan gambut benar-benar mati dan tidak muncul kembali.

Langkah tersebut menjadi penting karena hilangnya api di permukaan belum selalu menandakan kebakaran gambut telah selesai.

Bara dapat bertahan di lapisan tanah dan kembali berkembang ketika kondisi lingkungan mendukung.

Empat Ribu Liter

Penggunaan X-Fire juga diperluas ke Sumatera Selatan.

Staf Logistik Polri mengirim sekitar 4.000 liter formula tersebut untuk mendukung penanganan karhutla di provinsi itu.

Jumlah tersebut terdiri atas 200 jeriken dengan kapasitas masing-masing 20 liter.

Pengiriman dilakukan menggunakan dua truk dari gudang Staf Logistik Polri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan dukungan tersebut ditujukan terutama untuk kebakaran lahan gambut.

Menurut Polri, X-Fire digunakan dengan campuran air pada rasio sekitar satu banding empat.

Artinya, satu bagian formula X-Fire dicampurkan dengan sekitar empat bagian air.

Polri menyebut metode itu dapat mendukung proses pemadaman di medan yang sulit sekaligus membantu pembasahan lapisan gambut.

Teknik tersebut juga dikombinasikan dengan pembasahan tanah untuk menekan risiko bara bawah permukaan kembali menyala.

Dipakai di Kalbar

Penggunaan X-Fire juga tercatat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Polres Ketapang mengaplikasikan campuran air dan X-Fire di kawasan Kilometer 7 Jalan Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kamis, 10 September 2026.

Petugas menyasar lahan gambut yang masih memiliki titik api dan bara.

Campuran digunakan untuk mempercepat pendinginan sekaligus mencegah munculnya api kembali.

Dalam operasi tersebut, petugas menggunakan sekitar 40 liter X-Fire untuk satu drum berisi 200 liter air.

Komposisinya setara dengan satu bagian X-Fire untuk lima bagian air.

Polres Ketapang menyebut rasio itu mengikuti petunjuk Staf Khusus Asisten Logistik Kapolri.

Komposisi itu sedikit berbeda dengan rasio satu banding empat yang dipublikasikan Polri untuk operasi di Sumatera Selatan.

Perbedaan tersebut menunjukkan aplikasi X-Fire di lapangan dapat menyesuaikan kebutuhan operasi.

Namun, belum tersedia dokumen teknis terbuka yang menjelaskan secara rinci parameter penentuan dosis berdasarkan jenis gambut, kedalaman bara atau tingkat kebakaran.

Bara Sulit Padam

Karakter kebakaran gambut memang berbeda dengan kebakaran vegetasi di permukaan.

Api dapat berkembang melalui proses pembakaran membara atau smouldering di bawah lapisan tanah.

Kondisi tersebut membuat titik panas dapat bertahan meski nyala api sudah tidak terlihat.

Penelitian yang diterbitkan dalam Fire Safety Journal pernah menguji pemadaman gambut Indonesia menggunakan semprotan air.

Penelitian menggunakan sampel gambut dari Papua dan Sumatera Selatan.

Hasil penelitian menunjukkan penyemprotan air dalam waktu singkat tidak cukup untuk memadamkan seluruh pembakaran.

Fenomena penyalaan kembali atau re-ignition juga ditemukan akibat panas yang masih tersimpan di inti gambut.

Dalam eksperimen tersebut, pemadaman penuh membutuhkan sekitar enam liter air untuk setiap satu kilogram gambut.

Temuan itu memperlihatkan mengapa penilaian keberhasilan pemadaman gambut tidak cukup hanya berdasarkan hilangnya api atau asap.

Kondisi lapisan bawah tetap perlu dipantau.

Injeksi Lebih Efisien

Penelitian lain membandingkan penyemprotan air dengan injeksi langsung menuju titik panas di bawah permukaan gambut.

Eksperimen menggunakan gambut dari Papua dan Jambi.

Hasilnya menunjukkan injeksi air dapat memadamkan titik panas dengan durasi sekitar setengah dari metode penyemprotan.

Kebutuhan air tercatat sekitar 4,22 liter per kilogram gambut Papua dan 3,81 liter per kilogram gambut Jambi.

Temuan tersebut mendukung pendekatan pemadaman yang mampu mencapai bara bawah permukaan.

Namun, penelitian itu menguji teknik menggunakan air dan bukan X-Fire.

Karena itu, hasil penelitian tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan efektivitas X-Fire secara langsung.

Tantangan Pemadaman Gambut

Penelitian terbaru yang terbit dalam Fire Safety Journal pada 2026 kembali menunjukkan sulitnya memadamkan kebakaran gambut.

Studi tersebut membandingkan air, es, dry ice dan nitrogen cair untuk memadamkan pembakaran gambut dalam kondisi laboratorium.

Peneliti menemukan air membutuhkan jumlah yang relatif besar untuk mencapai peluang pemadaman yang sebanding dengan beberapa agen lain.

Penelitian itu juga menyoroti keterbatasan penetrasi dan durasi pendinginan air pada struktur gambut yang berpori.

Sekali lagi, penelitian tersebut tidak menguji X-Fire.

Namun, hasilnya memperkuat alasan mengapa formula tambahan untuk membantu penetrasi, pembasahan atau pendinginan gambut perlu diuji menggunakan parameter ilmiah yang terukur.

Bukti Ilmiah Terbatas

Data operasional menunjukkan X-Fire mulai digunakan secara lebih luas oleh kepolisian.

Hasil awal di Riau dinilai cukup efektif.

Polisi di Kalimantan Barat juga menggunakannya untuk membantu pendinginan titik api dan bara gambut.

Di Sumatera Selatan, Polri bahkan telah mengirim ribuan liter formula untuk mendukung operasi karhutla.

Namun, klaim efektivitas tetap perlu ditempatkan secara proporsional.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ditemukan publikasi ilmiah independen.

Yakni, membandingkan X-Fire dengan air biasa dalam kondisi kebakaran gambut yang sama.

Belum tersedia pula data terbuka yang lengkap mengenai penurunan suhu gambut sebelum dan setelah aplikasi.

Selain itu, terkait kedalaman penetrasi formula, volume cairan per hektare, waktu pemadaman, serta tingkat munculnya kembali bara setelah 24 hingga 72 jam.

Data mengenai dampak formula terhadap tanah, air dan ekosistem gambut juga penting untuk melengkapi evaluasi apabila penggunaan X-Fire diperluas.

Karena itu, hasil lapangan yang positif menjadi indikasi awal yang menjanjikan.

Namun, pengujian terkontrol dan evaluasi independen masih diperlukan.

Karena untuk mengetahui seberapa besar keunggulan X-Fire dibanding metode pemadaman gambut yang sudah digunakan selama ini.

Bagi pemadaman gambut, ukuran keberhasilan bukan sekadar api yang hilang dari permukaan.

Ukuran terpenting adalah memastikan panas dan bara di bawah tanah benar-benar berhenti secara total.