- Hujan es melanda tiga distrik di Lanny Jaya, Papua Pegunungan, sejak Minggu, (16/8/2026).
- Wilayah terdampak meliputi Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Goa Baliem.
- BMKG menjelaskan awan Cumulonimbus yang kuat menjadi faktor utama terbentuknya hujan es.
- Fenomena berlangsung saat Papua Pegunungan masih mengalami musim kemarau dan menyebabkan kerusakan tanaman pertanian warga.
JAMLIMA.COM, LANNY JAYA – Fenomena hujan es melanda tiga distrik di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, ketika wilayah tersebut masih berada dalam periode musim kemarau.
Peristiwa itu terjadi pada sejak Minggu, (16/8/2026). Hujan es berdampak di Distrik Kuyawage, Wano Barat, dan Goa Baliem.
Butiran es menutupi sejumlah area permukiman hingga membuat permukaan tanah terlihat memutih.
Dampak paling serius terjadi pada lahan pertanian masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya menyebut tanaman warga mengalami kerusakan.
Bahkan, sebagian hasil pertanian bahkan tidak dapat dipanen.
BMKG kemudian menjelaskan, fenomena tersebut berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus atau Cb yang kuat.
Kondisi geografis Lanny Jaya yang berada di dataran tinggi juga membuat butiran es dapat bertahan hingga mencapai permukaan.
Awal Kejadian Hujan Es
Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya menerima laporan masyarakat mengenai hujan es yang melanda sejumlah wilayah pada Minggu, (16/8).
Pemkab kemudian memusatkan penanganan pada tiga distrik, yakni Kuyawage, Wano Barat, dan Goa Baliem.
Bupati Lanny Jaya Aletinus Yigibalom mengatakan, pemerintah daerah membutuhkan data lapangan untuk menentukan kebijakan penanggulangan.
“Kami menerima laporan masyarakat adanya bencana hujan es,” kata Aletinus.
Pemerintah daerah selanjutnya membentuk Tim Tanggap Darurat.
Tim tersebut dipimpin Asisten II Sekretariat Daerah Lanny Jaya.
Kemudian melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), termasuk sejumlah organisasi perangkat daerah.
Petugas mendapat tugas mendata kerusakan secara terperinci.
Selain itu, tim melakukan koordinasi dan menyiapkan langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang.
Pertanian Warga Terdampak
Hujan es tidak hanya menimbulkan fenomena visual berupa hamparan putih di permukaan tanah.
Butiran es juga menghantam tanaman yang menjadi sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Pemkab Lanny Jaya menyatakan hujan es kali ini memberi dampak berbeda dibandingkan sejumlah kejadian sebelumnya.
Tanaman mengalami kerusakan dan sebagian hasil pertanian tidak dapat dipanen.
Pemerintah daerah karena itu menjadikan pendataan lahan pertanian sebagai salah satu prioritas.
Data tersebut penting untuk menghitung kebutuhan bantuan.
Sekaligus memetakan risiko terhadap ketahanan pangan masyarakat.
Bupati Aletinus juga meminta dukungan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.
Termasuk pemerintah pusat dalam penanganan dampak kerusakan pertanian.
Sampai Rabu, (26/8), dilaporan adanya kerusakan sektor pertanian.
Namun, data final mengenai luas seluruh lahan terdampak belum diumumkan dalam keterangan resmi.
BMKG: Awan Cumulonimbus Jadi Pemicu Utama
BMKG Wilayah V Jayapura menjelaskan, hujan es di Lanny Jaya terjadi ketika awan Cumulonimbus berkembang cukup kuat.
Awan Cumulonimbus merupakan awan konvektif yang dapat tumbuh secara vertikal, hingga mencapai lapisan atmosfer dengan suhu sangat rendah.
Di dalam awan tersebut terdapat arus udara naik atau updraft yang kuat.
Arus ini membawa butiran air menuju bagian awan yang lebih dingin.
Butiran air kemudian membeku dan membentuk partikel es.
Saat ukurannya cukup berat, es mulai jatuh menuju permukaan.
Pada daerah yang lebih rendah dan hangat, butiran tersebut biasanya mencair sebelum mencapai tanah.
Namun, prosesnya dapat berbeda di daerah pegunungan.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura Arif Setiawan mengatakan, ketinggian Lanny Jaya ikut mendukung fenomena tersebut.
“Apalagi Kabupaten Lanny Jaya berada di daerah pegunungan dengan ketinggian cukup tinggi,” ujar Arif.
Suhu udara cenderung semakin rendah seiring bertambahnya ketinggian.
Akibatnya, butiran es membutuhkan waktu lebih lama untuk mencair.
Jika lapisan udara yang dilewati tetap cukup dingin, es dapat mencapai permukaan dalam kondisi masih membeku.
Penyebab Hujan Es Saat Kemarau
Fenomena di Lanny Jaya terjadi ketika Papua Pegunungan masih berada dalam musim kemarau.
BMKG sebelumnya memperkirakan, musim kemarau di Papua Pegunungan berlangsung sejak akhir April hingga sekitar akhir Agustus 2026.
Analisis BMKG pada Dasarian II Agustus 2026, menunjukkan Papua Pegunungan termasuk wilayah yang sedang mengalami musim kemarau.
Pada periode tersebut, sekitar 79,9 persen Zona Musim atau 559 ZOM di Indonesia berada dalam musim kemarau.
Namun, musim kemarau tidak berarti hujan sama sekali tidak dapat terjadi.
Secara meteorologis, penetapan musim kemarau berkaitan dengan pola dan jumlah curah hujan dalam suatu periode.
Atmosfer tetap dapat menghasilkan hujan secara lokal, apabila tersedia kelembapan dan mekanisme pembentukan awan yang cukup kuat.
BMKG bahkan mencatat hujan intensitas sedang masih terjadi di Papua Pegunungan pada 10–13 Agustus 2026, beberapa hari sebelum kejadian hujan es di Lanny Jaya.
Pemanasan Siang Hari Dapat Memicu Awan Konvektif
BMKG menjelaskan pemanasan permukaan pada siang hari dapat berlangsung kuat selama periode kemarau.
Permukaan yang menerima panas akan menghangatkan udara di dekatnya.
Udara hangat kemudian bergerak naik.
Jika atmosfer memiliki kelembapan dan tingkat ketidakstabilan yang memadai, proses tersebut dapat memicu perkembangan awan konvektif.
Awan dapat berkembang menjadi Cumulonimbus, apabila proses konveksi berlangsung sangat kuat.
Karena itu, hujan es di Lanny Jaya tidak dapat dijelaskan hanya melalui suhu malam yang dingin atau musim kemarau.
BMKG menekankan pertumbuhan awan Cumulonimbus, suhu atmosfer, ketinggian wilayah, serta dinamika udara menjadi faktor penting yang bekerja secara bersamaan.
Papua Pegunungan dalam Periode Kemarau
Secara nasional, BMKG sebelumnya memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada periode Juli hingga September.
Sebagian besar Pulau Papua termasuk wilayah yang mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Sementara itu, sebagian wilayah Papua Pegunungan bagian tengah diperkirakan baru mencapai puncak kemarau pada September 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan hujan es di Lanny Jaya bukan tanda bahwa musim kemarau otomatis telah berakhir.
Fenomena itu lebih tepat dipahami sebagai kejadian cuaca lokal.
Yang kemudian terbentuk ketika kondisi atmosfer mendukung perkembangan awan konvektif kuat.
BMKG meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah dataran tinggi, tetap mewaspadai perkembangan awan Cumulonimbus.
Termasuk untuk selalu mengikuti informasi cuaca terbaru.
Fenomena Lanny Jaya juga menunjukkan, bahwa cuaca ekstrem tetap dapat muncul di tengah dominasi musim kemarau.
Bagi masyarakat setempat, dampak terpenting bukan sekadar permukaan tanah yang berubah putih.
Kerusakan tanaman dan potensi gangguan, terhadap ketersediaan pangan menjadi persoalan yang kini harus ditangani pemerintah bersama masyarakat.
















