Scroll untuk baca artikel
Daerah

Gibran Jamin Biaya Pengobatan Siswa Diduga Keracunan MBG di Karo, Dokter Pribadi Disiagakan

×

Gibran Jamin Biaya Pengobatan Siswa Diduga Keracunan MBG di Karo, Dokter Pribadi Disiagakan

Sebarkan artikel ini
Gibran tinjau korban dugaan keracunan MBG di Karo
MBG KARO – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memastikan pemerintah menanggung biaya pengobatan siswa terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat (11/9/2026). Gibran juga menyiapkan opsi rujukan ke Medan atau Jakarta bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. (foto/istimewa

  • Gibran memastikan pemerintah menanggung biaya pengobatan siswa terdampak dugaan keracunan MBG di Karo.
  • Pemerintah membuka pilihan rujukan pasien ke rumah sakit di Medan maupun Jakarta sesuai kebutuhan medis.
  • Gibran meminta dokter pribadinya tinggal sementara di Karo untuk membantu koordinasi penanganan pasien.
  • Dugaan keracunan MBG di Berastagi sebelumnya dilaporkan berdampak terhadap sekitar 361 pelajar dari lima sekolah.

 

 

 

JAMLIMA.COM, KARO – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memastikan pemerintah menanggung biaya pengobatan siswa yang terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Gibran menyampaikan kepastian tersebut saat menemui sejumlah siswa dan keluarga korban di Berastagi, Jumat (11/9/2026).

Ia juga membuka pilihan rujukan ke rumah sakit di Medan maupun Jakarta bagi siswa yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Jamin Biaya Pengobatan

Gibran bersama Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mendatangi RS Efarina Etaham dan fasilitas kesehatan lain di Berastagi.

Dalam kunjungan itu, Gibran berbicara langsung dengan siswa, orang tua dan tenaga kesehatan yang menangani pasien.

Ia menegaskan pemerintah akan mengambil tanggung jawab terhadap biaya perawatan para korban.

“Kita tadi sudah memastikan ini dengan Pak Gubernur untuk semua biaya akan ditangani oleh pemerintah,” kata Gibran.

Pemerintah juga memberikan pilihan kepada keluarga jika kondisi anak membutuhkan fasilitas kesehatan dengan dukungan lebih lengkap.

“Kita juga memberikan opsi kepada keluarga apakah anak tersebut mau dirujuk, apakah dirawat di RS di Medan atau bisa juga di RS di Jakarta,” ujarnya.

Siapkan Rujukan Pasien

Gibran mengatakan kunjungannya bertujuan memastikan seluruh anak memperoleh pelayanan kesehatan dan obat sesuai kebutuhannya.

Ia berharap kondisi para siswa segera pulih sehingga dapat kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

“Kedatangan saya kemari untuk memastikan anak bapak ibu bisa sembuh dan bersekolah kembali,” kata Gibran.

Ia menambahkan kebutuhan rujukan akan dipenuhi berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

“Apakah butuh rujukan ke Jakarta atau Medan, semua pasti kami penuhi,” ujarnya.

Perkembangan terbaru pada Sabtu (12/9/2026) menyebut salah seorang siswi kemudian dipersiapkan untuk mendapat penanganan lanjutan di Jakarta setelah kunjungan tersebut.

Dokter Pribadi Disiagakan

Selain menjamin pembiayaan, Gibran membawa dokter pribadinya ke Karo.

Ia meminta dokter tersebut tinggal sementara untuk membantu memantau kondisi siswa sekaligus berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat.

“Ini saya ke sini membawa dokter pribadi saya. Saya minta dokter saya tinggal di sini dulu,” kata Gibran.

Dokter tersebut diminta membantu koordinasi jika ditemukan anak yang membutuhkan penanganan lebih intensif, termasuk kemungkinan dirujuk ke Jakarta.

Langkah itu dilakukan agar keputusan medis dan proses rujukan dapat berlangsung sesuai kondisi setiap pasien.

Keluhan Masih Muncul

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mencatat masih ada siswa yang menjalani pemeriksaan setelah kasus dugaan keracunan MBG tersebut.

Salah seorang siswa berinisial SV dilaporkan masih mengeluhkan sakit kepala, sesak dan sakit perut.

Pada Jumat, 11 September 2026, siswa tersebut menjalani pengobatan jalan di RS Efarina Etaham dengan biaya mandiri sebelum pemerintah memastikan pembiayaan para korban.

Gibran dan Bobby juga menjenguk Agnesia Paruliana br Silitonga yang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Berastagi.

Pemerintah kemudian menawarkan pemeriksaan dan perawatan lanjutan sesuai kebutuhan medisnya.

Berawal Agustus Lalu

Kasus dugaan keracunan MBG di Berastagi terjadi pada 13 Agustus 2026.

Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan kesehatan yang melibatkan ratusan pelajar.

Sekitar 361 siswa dari lima sekolah dilaporkan terdampak dalam rangkaian kejadian tersebut.

Sejumlah orang tua selanjutnya membawa persoalan itu ke Rapat Dengar Pendapat DPRD Kabupaten Karo pada 7 September 2026.

Mereka meminta kepastian tanggung jawab terhadap kondisi anak-anak yang masih menjalani pengobatan.

Orang tua juga meminta seluruh biaya pengobatan dan biaya operasional selama perawatan ditanggung pemerintah serta pihak terkait dalam penyelenggaraan MBG.

Pemulihan Terus Dipantau

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan pemulihan siswa tidak berhenti pada penanganan medis.

Pendampingan juga diperlukan untuk memantau kondisi psikologis anak setelah mengalami kejadian tersebut.

“Proses pemulihan para siswa tidak berhenti setelah mereka mendapatkan perawatan medis,” demikian keterangan Pemprov Sumut.

Pemerintah berjanji terus memantau kondisi kesehatan dan psikologis siswa hingga pulih.

Kementerian Kesehatan juga menyatakan akan memastikan kebutuhan pelayanan medis korban terpenuhi.

Kemenkes menyiapkan koordinasi rujukan dari Sumatera Utara ke Jakarta apabila pemeriksaan dokter menunjukkan pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dengan jaminan pembiayaan dan opsi rujukan tersebut, pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memastikan setiap korban memperoleh penanganan hingga tuntas.

Di sisi lain, investigasi terhadap penyebab kasus tetap penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program MBG.