Scroll untuk baca artikel
Nasional

Kebakaran Bromo Mulai Terkendali, 899 Hektare Terdampak dan Empat Titik Panas Masih Ditangani

×

Kebakaran Bromo Mulai Terkendali, 899 Hektare Terdampak dan Empat Titik Panas Masih Ditangani

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Bromo berdampak pada 899 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada 11 Agustus 2026.
KARHUTLA GUNUNG BROMO - Asap menyelimuti kawasan Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan. Hingga Selasa, 11 Agustus 2026, sekitar 899 hektare kawasan TNBTS terdampak dan empat titik panas masih ditangani. (foto/exct)

  • Kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mulai terkendali, tetapi petugas masih menangani titik panas di empat kawasan.
  • BPBD Jawa Timur mencatat luas kumulatif wilayah terdampak mencapai sekitar 899 hektare.
  • Tim gabungan mengandalkan tiga helikopter water bombing, drone penyemprot, mobil pemadam, sekat bakar, dan pemadaman manual.
  • Penutupan Bromo memengaruhi 3.062 pemegang tiket daring, sedangkan dugaan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

JAMLIMA.COM, PROBOLINGGO — Petugas gabungan mulai mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

Namun, hingga Selasa, (11/8/2026), petugas masih menangani titik panas di empat kawasan.

Empat lokasi tersebut meliputi Watangan, Argowulan, Dingklik–Pakis, serta Bincil–Mungal.

Oleh karena itu, Balai Besar TNBTS masih menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo.

BPBD Jawa Timur mencatat luas kumulatif kawasan terdampak kebakaran mencapai sekitar 899 hektare.

Data tersebut masih bersifat sementara karena petugas terus memetakan batas area kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan petugas terus memaksimalkan operasi udara dan darat.

“Luas wilayah terdampak 899 hektare akibat kebakaran dari awal hingga tadi malam,” kata Gatot.

Sementara itu, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut kebakaran telah memengaruhi hampir 900 hektare kawasan.

Api membakar padang rumput, semak belukar, vegetasi pegunungan, serta tanaman edelweis yang dilindungi.

Laporan terbaru juga menyebut petugas telah mengendalikan sebagian besar kebakaran. Meski demikian, mereka belum dapat menyatakan api padam total karena sejumlah titik panas masih bertahan.

Kebakaran Bermula dari Blok Bantengan

Kebakaran Bromo pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan pada Senin, 3 Agustus 2026 sekitar pukul 17.00 WIB.

Lokasi tersebut berada di jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dengan Ranupani.

Pada tahap awal, api hanya membakar area terbatas.

Namun, angin kencang, cuaca kering, dan tumpukan serasah mempercepat penyebaran api.

Kemudian, kebakaran bergerak ke sejumlah kawasan, termasuk Watugede, P30 atau Pundak Lembu.

Selanjutnya ke kawasan Penanjakan, Dingklik, Argowulan, dan beberapa bagian padang savana.

Petugas sempat memadamkan kobaran di beberapa lokasi.

Akan tetapi, bara yang tertinggal pada akar tanaman, batang kayu, dan lapisan serasah kembali memicu api ketika angin bertiup kencang.

Selain itu, vegetasi yang sangat kering membuat api mudah berpindah.

Karena itu, petugas terus melakukan pendinginan meskipun kobaran tidak lagi terlihat.

Luas Kebakaran Bromo Terus Bertambah

Pemerintah beberapa kali memperbarui luas kawasan terdampak karena proses pemetaan berlangsung bertahap.

Pada Kamis, 6 Agustus 2026, BNPB mencatat sedikitnya 60 hektare kawasan terdampak.

Selanjutnya, luas tersebut bertambah menjadi sekitar 176 hektare pada akhir pekan.

Balai Besar TNBTS kemudian memperbarui angka menjadi sekitar 520 hektare pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Pada Senin, data kembali berkembang dari sekitar 550 hektare menjadi 742,70 hektare.

Sementara itu, pembaruan BPBD Jawa Timur pada Selasa menunjukkan luas kumulatif kawasan terdampak telah mencapai sekitar 899 hektare.

Perbedaan angka tersebut tidak menunjukkan pertentangan data.

Setiap angka menggambarkan kondisi berdasarkan waktu pendataan yang berbeda.

Namun, angka 899 hektare tidak berarti seluruh kawasan tersebut hangus secara merata.

Pemerintah menggunakan angka itu untuk menggambarkan luas kumulatif wilayah yang terdampak.

Petugas baru dapat menetapkan luas akhir setelah mereka memadamkan seluruh titik api dan menyelesaikan pemetaan lapangan.

Tiga Helikopter Lakukan Water Bombing

Tim gabungan menjalankan pemadaman melalui jalur udara dan darat.

Dari udara, BNPB mengoperasikan dua helikopter water bombing.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menambahkan satu helikopter sehingga total armada udara mencapai tiga unit.

Petugas mengarahkan operasi udara ke P30, Dingklik, Penanjakan, dan lereng curam yang sulit dijangkau tim darat.

Pada Senin, 10 Agustus 2026, tiga helikopter menjatuhkan sekitar 24.000 liter air.

Sementara itu, total kumulatif air yang dijatuhkan sejak Jumat, 7 Agustus 2026, mencapai sekitar 168.000 liter.

Namun, operasi udara menghadapi berbagai kendala:

  • Lokasi sumber air cukup jauh dari titik kebakaran.
  • Kabut dan perubahan arah angin membatasi pergerakan helikopter.

Gatot mengatakan angin kencang, cuaca yang cepat berubah, topografi curam, serta ilalang kering menyulitkan proses pemadaman.

Helikopter mengambil air dari sumber yang telah disiapkan, termasuk Ranu Pani dan Ranu Regulo.

Selanjutnya, petugas mengatur penerbangan secara bergantian untuk menjaga keselamatan kru.

Tim Darat Buat Sekat Bakar

Selain mengerahkan helikopter, pemerintah memperkuat operasi darat.

Tim tersebut melibatkan BNPB, BPBD Jawa Timur, BPBD kabupaten dan kota, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, Basarnas, Manggala Agni, polisi kehutanan, pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat sekitar.

Petugas menggunakan mobil pemadam, truk tangki, kendaraan pembawa tandon, selang penyemprot, serta alat pemukul api atau gebyok.

Kemudian, mereka membuat sekat bakar untuk memutus jalur rambatan api.

Petugas juga membasahi area bekas kebakaran agar bara tidak kembali menyala.

BPBD turut mengoperasikan drone water spray. Peralatan tersebut membantu petugas menyiram lereng sempit dan lokasi yang sulit dijangkau kendaraan.

Meski demikian, tim darat tetap memegang peranan utama dalam proses pendinginan.

Helikopter dapat menyiram kobaran besar, tetapi petugas darat harus memeriksa akar, batang pohon, dan tumpukan serasah.

Juru Bicara BNPB Abdul Muhari sebelumnya mengatakan lereng curam menjadi salah satu hambatan terbesar.

“Sejumlah titik panas berada di lereng Bromo yang curam dan sulit dijangkau petugas darat,” kata Abdul.

Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan

Pemerintah sempat mempertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC untuk membantu pemadaman kebakaran Bromo.

Namun, BMKG belum menemukan awan konvektif yang memenuhi persyaratan penyemaian.

Karena itu, pemerintah belum dapat menjalankan OMC.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko mengatakan kondisi atmosfer menjadi kendala utama.

“Awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC,” kata Satyawan dalam keterangannya pada Senin, 10 Agustus 2026.

Oleh sebab itu, tim gabungan masih mengandalkan water bombing, penyemprotan darat, sekat bakar, pendinginan, serta pemantauan titik panas.

Edelweis dan Vegetasi Pegunungan Terdampak

Kebakaran Bromo merusak padang rumput, semak belukar, dan sejumlah vegetasi pegunungan.

BPBD Jawa Timur mencatat tumbuhan terdampak meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, ilalang, serta edelweis.

Namun, pemerintah belum mengumumkan nilai kerugian ekologis secara keseluruhan.

Balai Besar TNBTS masih memprioritaskan pemadaman dan pengamanan kawasan.

Setelah api padam, petugas perlu memetakan tingkat kerusakan vegetasi, habitat satwa, struktur tanah, dan daerah tangkapan air.

Selain itu, hilangnya tutupan vegetasi berpotensi meningkatkan erosi, terutama pada lereng curam.

Meski demikian, pemerintah masih harus melakukan asesmen untuk mengukur risiko tersebut.

Hingga 11 Agustus 2026, pemerintah juga belum mengumumkan data resmi tentang jumlah satwa yang mati atau kehilangan habitat akibat kebakaran.

Api Sempat Bergerak ke Arah Permukiman

Pada Senin pagi, petugas melaporkan api dari kawasan P30 bergerak ke arah permukiman.

Selain itu, kobaran besar sempat terlihat di Lembah Dingklik.

Tim gabungan kemudian memperkuat pemadaman di sisi Probolinggo dan Pasuruan.

Petugas juga memantau arah angin agar api tidak mencapai rumah warga.

Hingga Selasa, pemerintah belum melaporkan korban jiwa maupun rumah warga yang terbakar akibat kebakaran Bromo.

Namun, asap tetap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

Karena itu, pemerintah perlu terus memantau kualitas udara di permukiman sekitar.

Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memprioritaskan keselamatan masyarakat.

“Padamkan api secepat mungkin, cegah perluasan kerusakan, dan lindungi masyarakat sekitar dari dampak turunannya,” kata Puan.

Seluruh Akses Wisata Bromo Masih Ditutup

Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses wisata Gunung Bromo sejak Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB.

Penutupan berlaku hingga pemerintah menyatakan kondisi aman.

Pintu masuk yang ditutup meliputi Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan.

Termasuk wilayah Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.

Berdasarkan data TNBTS, penutupan tersebut memengaruhi 3.062 wisatawan yang telah membeli tiket daring untuk periode 9–15 Agustus 2026.

Jumlah itu terdiri atas 2.671 wisatawan domestik dan 391 wisatawan asing.

Pengelola menawarkan penjadwalan ulang tanpa biaya hingga 31 Desember 2026.

Namun demikian, wisatawan dapat mengajukan pengembalian dana tiket masuk sebesar 100 persen.

Wisatawan harus mengajukan permohonan paling lambat 31 Agustus 2026.

Sementara itu, pengelola membutuhkan sekitar 3–14 hari kerja untuk memproses pengembalian dana.

Namun, kebijakan tersebut hanya berlaku untuk tiket masuk TNBTS. Hotel dan penginapan tetap menerapkan kebijakan masing-masing.

Penutupan Menekan Ekonomi Pelaku Wisata

Penutupan Bromo berpotensi menekan pendapatan sopir jip, penyewa kuda, pemandu, pedagang, rumah makan, pengelola penginapan, dan pelaku UMKM.

Namun, pemerintah belum mengumumkan nilai pasti kerugian ekonomi akibat penutupan tersebut.

Puan meminta pemerintah mulai menghitung dampak ekonomi dan menyiapkan dukungan apabila penutupan berlangsung lama.

Meski demikian, pemerintah tetap harus mengutamakan keselamatan.

Balai Besar TNBTS hanya dapat membuka kawasan setelah petugas memastikan seluruh titik api padam dan jalur wisata aman.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Balai Besar TNBTS menduga aktivitas manusia memicu kebakaran.

Dugaan itu muncul karena petugas menemukan titik awal api di Blok Bantengan yang menjadi jalur tradisional masyarakat.

Rudijanta menduga seorang pelintas membuat perapian untuk menghangatkan tubuh, tetapi tidak memadamkan baranya secara sempurna.

“Ada kemungkinan faktor manusia, bukan alam,” kata Rudijanta.

Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan penyidikan.

Aparat masih menyelidiki penyebab pasti dan mencari pihak yang bertanggung jawab.

Karena itu, publik tidak boleh menuduh individu atau kelompok tertentu sebelum penyidik menemukan bukti yang cukup.

Pemulihan Bromo Membutuhkan Waktu

Kebakaran Bromo mulai terkendali, tetapi proses penanganan belum selesai.

Tim gabungan masih memadamkan titik panas, melakukan pendinginan, serta menyisir kawasan terdampak.

Setelah itu, pemerintah harus mengukur kerusakan ekosistem, memulihkan vegetasi, memperbaiki jalur terdampak, dan mengantisipasi erosi.

Balai Besar TNBTS juga perlu memastikan kawasan benar-benar aman sebelum membuka kembali aktivitas wisata.

Untuk sementara, wisatawan diminta tidak memasuki kawasan yang ditutup.

Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dari Balai Besar TNBTS, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.