Scroll untuk baca artikel
Lokal

Kuota Haji DIY Tembus 3.830 Jemaah, Pakai Hotel Haji di Tengah Kuota Nasional 221 Ribu

×

Kuota Haji DIY Tembus 3.830 Jemaah, Pakai Hotel Haji di Tengah Kuota Nasional 221 Ribu

Sebarkan artikel ini
jemaah haji lansia mengikuti manasik sebelum keberangkatan di yogyakarta
HAJI — Jemaah haji lansia mengikuti manasik sebelum keberangkatan di Yogyakarta. Kuota haji DIY 2026 mencapai 3.830 jemaah. (foto/ist)

JAMLIMA.COM, YOGYAKARTA — Kuota haji DIY 2026 melonjak menjadi 3.830 jemaah.

Angka ini menempatkan DIY sebagai bagian dari sistem haji nasional yang menampung sekitar 221.000 jemaah, dengan kompleksitas layanan yang jauh lebih besar.

Kenaikan ini terjadi setelah tambahan kuota sebanyak 601 jemaah haji dari pemerintah pusat.

Sebelumnya, DIY hanya memperoleh 3.147 jemaah. Lonjakan tahun ini pun menjadi salah satu yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam skala nasional, kontribusi DIY mencapai sekitar 1,7 persen dari total kuota haji Indonesia.

Angka ini menunjukkan peran signifikan DIY dalam penyelenggaraan haji nasional, meskipun jumlah penduduknya relatif lebih kecil dibanding provinsi lain.

Sebagai perbandingan, provinsi dengan jumlah jemaah besar seperti Jawa Tengah setiap tahun memberangkatkan sekitar 30.000 jemaah haji.

Perbedaan ini menunjukkan skala DIY yang lebih kecil, namun tetap memiliki peran strategis dalam sistem haji nasional.

Posisi DIY Nasional

Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam X, menyebut musim haji 1447 Hijriah menjadi titik perubahan.

Untuk pertama kalinya, tata kelola dilakukan di bawah Kementerian Haji dan Umrah RI.

Selain itu, jemaah juga akan merasakan inovasi baru berupa model hotel haji yang mulai diterapkan di Indonesia.

“Jemaah haji DIY musim ini menjadi yang pertama diberangkatkan melalui Embarkasi Yogyakarta dan akan merasakan pengalaman baru melalui penerapan model hotel haji,” ujarnya.

Di tengah dinamika global, jemaah diimbau menjaga kondisi fisik dan tetap fokus menjalankan ibadah dengan khusyuk.

Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY, Jauhar Mosthofa, memastikan kesiapan teknis telah dilakukan secara menyeluruh.

Total 3.830 jemaah yang berangkat sudah termasuk petugas, dengan 187 orang masuk kategori prioritas lansia atau sekitar 4,8 persen dari total jemaah.

Kondisi ini juga menjadi tantangan tersendiri mengingat tingginya jumlah jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus selama ibadah.


Baca juga: Bupati Wajo Lepas 1.941 CJH 2026 di Sengkang, Terbanyak di Sulsel


Komposisi Usia Jemaah

Dari sisi profil, kelompok usia 46–60 tahun mendominasi sebanyak 1.721 orang.

Disusul usia 61–75 tahun sebanyak 1.321 orang.

Jemaah perempuan tercatat lebih banyak, yakni 2.095 orang dibandingkan laki-laki sebanyak 1.757 orang.

Rentang usia ekstrem juga terlihat jelas.

Jemaah termuda berusia 14 tahun asal Bantul, sementara jemaah tertua mencapai 102 tahun, seorang petani dari Piyungan.

Sebanyak 11 kelompok terbang (kloter) akan diberangkatkan melalui Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Untuk jemaah gelombang pertama, penempatan hotel berada di kawasan Misfalah, Makkah, dengan jarak sekitar 2 hingga 2,5 kilometer dari Masjidil Haram.

Untuk mendukung mobilitas, bus shalawat akan beroperasi selama 24 jam penuh.

Ini menjadi faktor penting di tengah kepadatan musim haji.

Seluruh jemaah juga telah mengikuti rangkaian bimbingan manasik sebanyak lima kali secara tatap muka dan 26 kali secara daring.

Di sisi lain, petugas haji daerah juga telah menjalani pembekalan intensif.

Fokus utama tahun ini adalah menjaga kondisi kesehatan jemaah, terutama lansia.

“Slogan kami adalah berangkat sehat, pulang sehat,” kata salah satu petugas haji daerah.

Dengan dominasi jemaah usia lanjut dan tingginya jumlah keberangkatan, keberhasilan penyelenggaraan haji tahun ini tidak hanya ditentukan oleh kuota.

Namun juga kesiapan sistem layanan dan ketahanan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Artinya, lonjakan kuota haji DIY tahun ini bukan hanya soal jumlah jemaah, tetapi juga menjadi ujian nyata bagi kesiapan sistem layanan dalam menghadapi dinamika global dan dominasi jemaah usia lanjut.