- Tim SAR gabungan memperluas pencarian lima jurnalis, dua awak speedboat, dan seorang pemandu pada hari keempat, Jumat (11/9/2026).
- Operasi dibagi menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus dengan total area pencarian sekitar 3.243,7 nautical mile persegi.
- Sebanyak 12 unsur alat utama dikerahkan untuk menyisir perairan Banten hingga Lampung, didukung dua drone thermal dan sarana pendukung lainnya.
- Pulau Sertung menjadi salah satu sasaran pencarian, sementara life jacket oranye yang ditemukan KAL Anyer sehari sebelumnya belum dipastikan berkaitan dengan rombongan.
JAMLIMA.COM, PANDEGLANG — Operasi pencarian lima jurnalis bersama dua awak speedboat dan seorang pemandu yang hilang kontak di Selat Sunda memasuki hari keempat, Jumat (11/9/2026).
Tim SAR gabungan kembali memperluas wilayah operasi dengan membagi pencarian menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus.
Total area yang disisir mencapai sekitar 3.243,7 nautical mile persegi.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan, tim mengerahkan 12 unsur alat utama atau alut dalam operasi hari keempat.
“Untuk hari ini kami mengerahkan 12 unsur alut yang terbagi dari empat sektor. Untuk alut tersebut ada beberapa yang kami libatkan, ada KRI, ada KP, dan ada RIB dan RBB,” kata Al Amrad, Jumat (11/9/2026).
Perubahan pola pencarian tersebut membuat penyisiran menjangkau wilayah perairan yang semakin luas dari Banten hingga Lampung.
Empat Sektor Pencarian
Tim SAR membagi operasi laut ke dalam sektor A, B, C, dan D.
Sektor A mencakup area sekitar 1.026 nautical mile persegi di sekitar Tanjung Belimbing, Lampung.
KRI Kerambit, KP Sanjaya, dan KAL Pahawang dikerahkan untuk melakukan pencarian di sektor tersebut.
Sektor B memiliki luas sekitar 1.020 nautical mile persegi.
KRI Leuser dan KAL Anyer menyisir sektor B yang berada di bagian utara sektor A hingga wilayah barat Lampung.
Sementara itu, sektor C memiliki area pencarian sekitar 585 nautical mile persegi.
KN SAR Basudewa dan RIB Lampung dikerahkan di sektor ini.
KN SAR Basudewa menyisir bagian tengah sektor C, sedangkan RIB melakukan pencarian di kawasan pesisir sekitar Tanjung Belimbing.
Sektor D juga memiliki luas sekitar 585 nautical mile persegi.
KP Hayabusa melakukan penyisiran dari bagian utara sektor C hingga Tanjung Panaitan.
Selain empat sektor tersebut, tim SAR menambahkan beberapa area pencarian di luar sektor utama.
“Dan ada beberapa sektor yang kami tambahkan yang ini di luar empat sektor tadi. Hal ini sudah kita lakukan sebelumnya mulai hari pertama sampai dengan hari ketiga,” ujar Al Amrad.
Sisir Pulau Sertung
Perkembangan penting lainnya terjadi di sekitar Pulau Sertung.
Basarnas memberangkatkan personel untuk memantau kawasan tersebut setelah sebelumnya pencarian langsung terkendala status radius bahaya Gunung Anak Krakatau.
Pulau Sertung berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
PVMBG sebelumnya menyatakan kawasan tersebut masih termasuk daerah rawan.
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan,” kata Al Amrad.
Basarnas sebelumnya hanya dapat melakukan pemantauan visual menggunakan teropong.
Hasil pemantauan tersebut belum menunjukkan tanda keberadaan rombongan.
Namun, Basarnas tetap berupaya memastikan kondisi Pulau Sertung dengan mempertimbangkan informasi keselamatan dari instansi terkait.
“Tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” ujarnya.
Drone Thermal Dikerahkan
Pencarian hari keempat tidak hanya mengandalkan kapal.
Tim SAR juga memperkuat operasi dengan dua unit drone thermal.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu pemantauan area yang sulit dijangkau secara langsung.
Pada operasi sebelumnya, KN SAR Tetuka juga menggunakan drone untuk melakukan pemantauan.
Namun, kabut dan asap tebal sempat membatasi jarak pandang.
“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” kata Al Amrad dalam perkembangan operasi sebelumnya.
Basarnas terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk memantau cuaca serta aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan keselamatan pergerakan personel di sekitar kawasan gunung.
12 Alut Dikerahkan
Operasi hari keempat melibatkan sejumlah kapal dari Basarnas, TNI AL, Polri, dan unsur pendukung lainnya.
Unsur yang dilibatkan antara lain KN SAR Tetuka 247, KN SAR Basudewa, KRI Leuser, KRI Kerambit, KRI Lepu, KP Sanjaya, KP Hayabusa, KAL Anyer, KAL Pahawang, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, dan RBB Pulau Peucang.
Operasi juga mendapat dukungan TB Gunung Santri serta berbagai sarana darat dan peralatan pendukung.
Pembagian kapal disesuaikan dengan karakter dan luas masing-masing sektor.
Tim SAR terus mengevaluasi hasil penyisiran untuk menentukan perkembangan area pencarian berikutnya.
Enam Sektor Sebelumnya
Pola pencarian hari keempat berbeda dengan operasi sehari sebelumnya.
Pada Kamis (10/9/2026), Basarnas membagi wilayah pencarian menjadi enam sektor dengan mengerahkan 11 kapal.
Lebih dari 300 personel dari berbagai unsur juga terlibat.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan perluasan dilakukan secara bertahap sejak operasi dimulai.
“Hari pertama kita melaksanakan di tiga sektor, hari kedua kita melaksanakan di lima sektor, dan hari ini kita kembangkan sampai di enam sektor dengan 11 kekuatan kapal,” kata Syafii, Kamis (10/9/2026).
Sebelas kapal tersebut terdiri atas KRI Kerambit-627, KN SAR Tetuka, KRI Lepu, KN SAR Basudewa, KRI Leuser-924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB Peucang, RIB Lampung, dan KAL Pahawang.
Identifikasi Life Jacket
Operasi hari ketiga juga menghasilkan temuan berupa objek yang diduga life jacket berwarna oranye.
KAL Anyer menemukan benda tersebut pada Kamis sekitar pukul 15.10 WIB.
Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan, benda ditemukan pada koordinat 6 derajat 4 menit 40 detik Lintang Selatan dan 105 derajat 45 menit 17 detik Bujur Timur.
“Pada pukul kurang lebih 15.10 WIB, Kapal Angkatan Laut (KAL) Anyer melihat objek yang diduga sebagai swam vest atau life jacket berwarna oranye,” kata Wawan.
Personel KAL Anyer kemudian mendekati dan mengangkat benda tersebut.
Petugas juga menemukan benda menyerupai pelampung berbentuk botol berwarna putih di sekitar lokasi.
Namun, TNI AL belum memastikan benda tersebut berasal dari speedboat yang membawa rombongan.
Barang temuan masih memerlukan proses identifikasi sebelum dapat dikaitkan dengan delapan orang yang hilang.
Polri Selidiki Speedboat
Di tengah operasi SAR, Polri juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum speedboat hilang kontak.
Penyidik telah meminta keterangan dari empat pihak yang berkaitan dengan kapal.
Mereka terdiri atas pemilik kapal, dua pekerja galangan, serta pihak yang berkaitan dengan proses docking atau perbaikan speedboat.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan kepolisian belum menarik kesimpulan.
“Penyelidikan ini merupakan bagian dari tanggung jawab kami untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa dapat diketahui secara utuh. Kami tidak berspekulasi dan tidak mendahului kesimpulan,” kata Trunoyudo.
Menurut dia, seluruh informasi akan diverifikasi berdasarkan fakta yang ditemukan.
Penyelidikan tersebut berjalan bersamaan dengan operasi pencarian.
Delapan Orang Dicari
Rombongan yang hilang terdiri atas lima jurnalis, dua awak speedboat, dan seorang pemandu.
Lima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhistira dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal Husni yang merupakan fotografer lepas.
Mereka hilang kontak saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan pada Senin (7/9/2026).
Hingga perkembangan operasi hari keempat pada Jumat (11/9/2026), belum ada konfirmasi resmi bahwa speedboat maupun delapan orang tersebut telah ditemukan.
Basarnas memastikan operasi SAR akan dioptimalkan selama tujuh hari sesuai pedoman pencarian dan pertolongan.
Hingga berita ini ditayangkan, tim terus memperluas penyisiran melalui laut, drone dan pemantauan pulau.
Termasuk analisa kondisi cuaca serta pergerakan arus untuk menemukan rombongan.
















