Scroll untuk baca artikel
Nasional

80.026 Personel TNI Tangani Karhutla, 316 Titik Air Perkuat Operasi Pemadaman

×

80.026 Personel TNI Tangani Karhutla, 316 Titik Air Perkuat Operasi Pemadaman

Sebarkan artikel ini
Kapuspen TNI Muhammad Nas menyampaikan pengerahan 80.026 personel TNI untuk menangani karhutla
KARHUTLA dan TNI — Kapuspen TNI Muhammad Nas menyampaikan pengerahan 80.026 personel TNI untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, Selasa (8/9/2026). TNI juga menyiapkan 316 titik sumber air untuk mendukung operasi pemadaman. (foto/ist)

  • TNI mengerahkan 80.026 personel untuk menangani karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
  • Sebanyak 316 titik sumber air disiapkan untuk mendukung pemadaman.
  • Kalimantan Barat mendapat tambahan 1.260 personel serta dukungan pesawat dan helikopter.
  • BNPB/Sipongi mencatat indikasi lahan terbakar di enam provinsi mencapai 76.922,30 hektare.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — TNI mengerahkan 80.026 personel untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Kapuspen TNI Muhammad Nas mengatakan puluhan ribu personel tersebut telah disiagakan dan diterjunkan untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla.

“TNI sudah menyiagakan dan mengerahkan sejumlah 80.026 personel,” kata Nas dalam konferensi pers, Selasa (8/9/2026).

Personel TNI menjalankan sejumlah tugas, mulai dari pemadaman kebakaran, patroli, pencegahan, hingga penanganan dampak karhutla terhadap masyarakat.

Pengerahan dilakukan secara terpadu melalui komando TNI di masing-masing wilayah terdampak.

TNI Tambah 1.260 Personel Tangani  Kalimantan Barat

TNI juga mengerahkan 1.260 personel tambahan untuk memperkuat operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Personel tambahan tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Mereka diterjunkan untuk mendukung daerah yang membutuhkan tambahan kekuatan dalam operasi pemadaman dan pengendalian karhutla.

Selain itu, TNI menyiapkan 1.482 personel penyuluh.

Para penyuluh bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.

TNI juga menyiagakan Tim Alpha untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.

Personel dapat diterjunkan menggunakan helikopter maupun metode fast rope sesuai kondisi di lapangan.

13 Pesawat dan 8 Helikopter

Operasi penanganan karhutla juga mendapat dukungan kekuatan udara.

TNI Angkatan Udara mengerahkan 13 unit pesawat untuk mendukung operasi di wilayah terdampak.

Dari jumlah tersebut, delapan helikopter digunakan untuk membantu water bombing, operasi modifikasi cuaca, serta patroli udara.

Dukungan udara menjadi penting karena sejumlah titik kebakaran berada di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

TNI Temukan 316 Titik Air

Ketersediaan air menjadi salah satu kebutuhan utama dalam operasi pemadaman karhutla.

TNI kemudian melakukan pencarian dan pemetaan sumber air yang dapat digunakan untuk pemadaman serta pembasahan lahan gambut.

“Sampai saat ini sudah ditemukan atau didapatkan 316 titik sumber air,” ujar Nas.

Sebanyak 316 titik tersebut berasal dari sumur bor yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung, dan Riau.

Sumber air itu dibutuhkan karena sebagian lokasi kebakaran berada cukup jauh dari sungai maupun sumber air alami lainnya.

Karhutla Enam Provinsi Capai 76.922 Hektare

Enam provinsi menjadi prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Berdasarkan data BNPB/Sipongi per 8 September 2026 pukul 10.17 WIB, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi tersebut mencapai 76.922,30 hektare.

Rinciannya:

  • Kalimantan Barat: 38.310,89 hektare
  • Riau: 19.151,78 hektare
  • Kalimantan Selatan: 8.019,63 hektare
  • Kalimantan Tengah: 7.634,46 hektare
  • Sumatera Selatan: 1.926,23 hektare
  • Jambi: 1.879,31 hektare

Kalimantan Barat mencatat indikasi luas lahan terbakar terbesar.

Wilayah tersebut mencapai 38.310,89 hektare atau sekitar 49,81 persen dari total enam provinsi prioritas.

Cakupan Data BNPB dan Sipongi

Angka 76.922,30 hektare memiliki cakupan berbeda dengan laporan BNPB pada 7 September 2026.

Dalam laporan tersebut, BNPB mencatat sekitar 72.009,10 hektare lahan gambut terbakar di enam provinsi prioritas.

Dari jumlah itu, sekitar 71.069,65 hektare dilaporkan telah dipadamkan.

Sementara sekitar 939,45 hektare masih menjadi sasaran penanganan.

Perbedaan angka tersebut dipengaruhi waktu pemutakhiran dan cakupan data.

Angka 76.922,30 hektare merupakan indikasi luas lahan terbakar berdasarkan data per 8 September 2026.

Sementara angka 72.009,10 hektare merujuk pada luas lahan gambut terbakar dalam laporan BNPB sehari sebelumnya.

Pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.