Scroll untuk baca artikel
Entertainment

Dari Kegiatan Resmi ke Layar Film, Ibu Gubernur dan Ibu Sekda Lampung Tampil di Ageman

×

Dari Kegiatan Resmi ke Layar Film, Ibu Gubernur dan Ibu Sekda Lampung Tampil di Ageman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Purnama Wulan Sari Mirza dan Agnesia Bulan Rurianti terkait keterlibatan dalam film Ageman Lampung
FILM AGEMAN - Purnama Wulan Sari Mirza dan Agnesia Bulan Rurianti yang terlibat dalam film Ageman. Purnama berperan sebagai kepala sekolah, sedangkan Agnesia tampil sebagai guru. (foto/ilustrasi)

  • Purnama Wulan Sari Mirza tampil sebagai kepala sekolah, sedangkan Agnesia Bulan Rurianti berperan sebagai guru dalam film Ageman.
  • Ageman mengangkat toleransi, pencarian identitas, budaya Lampung, enam rumah ibadah, serta sejumlah destinasi wisata dan kuliner daerah.
  • Sutradara Jasper Lance Piscasio memilih pendekatan akting dan visual yang natural dengan penggunaan rekayasa digital secara terbatas.
  • Tim produksi menjadwalkan gala premiere Ageman pada Kamis, 1 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

JAMLIMA.COM, LAMPUNG – Kesibukan mendampingi aktivitas pemerintahan, tak menghalangi Purnama Wulan Sari Mirza dan Agnesia Bulan Rurianti mencoba pengalaman berbeda.

Keduanya ikut berakting dalam film Ageman yang mengangkat toleransi dan kearifan lokal Lampung.

Purnama Wulan Sari Mirza merupakan Ketua TP PKK Provinsi Lampung sekaligus istri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Dalam film tersebut, Purnama mendapat peran sebagai kepala sekolah.

Sementara itu, Agnesia Bulan Rurianti, istri Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan, tampil sebagai seorang guru.

Keterlibatan keduanya menjadi salah satu sisi menarik dari produksi Ageman menjelang penayangan perdananya pada 1 Oktober 2026.

Dari Kegiatan Resmi ke Depan Kamera

Purnama Wulan Sari selama ini lebih banyak beraktifitas di berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat di Lampung.

Ia juga menyandang sejumlah peran publik, termasuk sebagai Bunda Literasi Provinsi Lampung periode 2025–2030.

Namun, Ageman membawa Purnama ke suasana berbeda.

Ia harus menjalani adegan sebagai kepala sekolah dan berinteraksi dengan pemain lain di depan kamera.

Agnesia Bulan Rurianti juga mendapat pengalaman serupa.

Sebagai Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Lampung, kesehariannya lebih banyak berkaitan dengan kegiatan organisasi.

Namun, dalam Ageman ia masuk ke karakter seorang guru.

Sutradara Jasper Lance Piscasio mengatakan adegan dalam film dibuat senatural mungkin.

Pendekatan tersebut juga melibatkan Purnama, Agnesia, sejumlah kepala dinas, serta tokoh agama dalam berbagai adegan.

“Dialog toleransi oleh talent dan pemeran tokoh agama serta pengambilan gambar keindahan alam pariwisata Lampung yang ditampilkan di dalam film murni tanpa rekayasa digital berlebihan, dibuat mengalir dan senatural mungkin,” kata Jasper.

Suka Duka di Balik Produksi Ageman

Proses syuting Ageman tidak hanya berlangsung di satu tempat.

Tim produksi harus berpindah ke berbagai lokasi untuk mendapatkan suasana yang sesuai dengan jalan cerita.

Di sinilah tantangan produksi muncul.

Tim harus mencari lokasi syuting di enam rumah ibadah.

Selain itu, kru mengambil gambar di lokasi wisata, tempat budaya, serta kawasan yang menampilkan kuliner khas Lampung.

Jasper mengatakan, pengalaman tersebut akan menjadi bagian dari cerita di balik layar yang dibahas melalui program “Sudut Pandang Ageman”.

“Acara Talk Show Sudut Pandang akan membagikan cerita mengenai tantangan besar saat harus mencari lokasi syuting di enam tempat ibadah, tempat pariwisata, budaya dan kuliner khas Lampung yang dijadikan tempat shooting,” kata Jasper.

Bagi para pemain yang bukan berasal dari dunia akting profesional, pendekatan natural menjadi bagian penting dalam produksi.

Purnama dan Agnesia Bertemu Enam Tokoh Agama

Film Ageman tidak sekadar menghadirkan Purnama dan Agnesia sebagai pemanis cerita.

Keduanya masuk dalam rangkaian adegan yang membawa pesan toleransi.

Jasper menjelaskan beberapa adegan mempertemukan Purnama, Agnesia, jajaran kepala dinas, dan enam tokoh agama.

Para tokoh agama kemudian menyampaikan pesan toleransi kepada dua karakter utama, Ratri dan Bianka.

Dalam cerita, Ratri dan Bianka sedang menjalani proses pencarian jati diri.

Ageman juga menghadirkan tokoh budaya Anshori Djausal.

Ia mendapat bagian untuk menjelaskan lima falsafah hidup masyarakat Lampung.

Sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Lampung turut mengambil peran.

Mereka antara lain Thomas Amirico, Ganjar Jationo, Tony Ferdinansyah, dan Hanita Farial.

Ageman Angkat Wajah Lampung

Nuansa Lampung menjadi salah satu kekuatan visual film ini.

Tim produksi menggunakan sejumlah lokasi nyata sebagai latar cerita.

Lokasi tersebut antara lain SMAN 3 Bandar Lampung, Pondok Rimbawan, Wira Garden, serta Pantai Bensam di Pesawaran.

Film juga memperkenalkan kuliner seruit.

Selain itu, enam rumah ibadah yang mewakili agama resmi di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan visual Ageman.

Produser Ageman, Ken Setiawan, mengatakan film tersebut tidak hanya dirancang sebagai hiburan.

Tim ingin membawa pesan tentang pentingnya hidup berdampingan di tengah keberagaman.

“Melalui AGEMAN, kami ingin menyampaikan pesan edukasi tentang pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama demi merawat persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia,” kata Ken.

Cerita Ageman Berangkat dari Pengalaman Produser

Di balik cerita Ageman terdapat pengalaman pribadi Ken Setiawan.

Ken pernah berada dalam lingkungan yang menurut keterangannya membuat dirinya terpapar pemahaman radikal.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi dalam mengembangkan cerita.

Ken menjelaskan, kata “Ageman” secara filosofis berkaitan dengan pakaian atau identitas yang melekat pada manusia.

Film kemudian mengembangkan gagasan itu menjadi perjalanan tentang identitas, agama, hubungan dengan Tuhan, serta hubungan dengan sesama manusia.

Cerita dimulai melalui gambaran manusia saat lahir.

Menurut Ken, manusia lahir tanpa membawa identitas yang kemudian melekat dalam perjalanan hidupnya.

“Film ini dibuka dengan adegan proses kelahiran. Saat lahir, manusia tidak membawa apa-apa dan belum mengenakan ‘pakaian’ atau identitas,” kata Ken.

Jadwalkan Tayang 1 Oktober 2026

Ageman kini bergerak menuju penayangan perdana.

Film tersebut dijadwalkan menjalani gala premiere pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Tanggal itu bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Menjelang penayangan, tim menyiapkan rangkaian promosi bertajuk “Sudut Pandang Ageman”.

Program tersebut akan menyambangi sekolah, kampus, hingga pesantren.

Sutradara dan pemain akan berbagi cerita mengenai proses kreatif serta pesan yang dibawa dalam film.

Eksekutif Produser Ageman, M. Firsada, mengatakan respons terhadap materi promosi film mulai terlihat.

“Kami menerima banyak tanggapan positif melalui teaser film ini. Banyak masyarakat yang menanyakan kapan tayang,” kata Firsada.

Kini, keterlibatan Purnama Wulan Sari dan Agnesia Bulan Rurianti memberi warna tersendiri dalam Ageman.

Dari kegiatan organisasi dan aktivitas resmi, keduanya mencoba menghadirkan karakter kepala sekolah dan guru di layar.

Penonton baru akan melihat penampilan lengkap mereka saat Ageman memasuki jadwal penayangan pada 1 Oktober 2026.