- Sebanyak 354 siswa tercatat mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.
- Gejala yang muncul meliputi mulut terasa gatal dan getir, gatal pada kulit hingga sesak napas.
- BGN menduga sekitar 200–300 ekor ikan dibiarkan pada suhu ruang selama lebih dari 12 jam.
- BGN menghentikan operasional dapur dan mencopot Kepala SPPG terkait.
JAMLIMA.COM, KARO — Jumlah siswa yang terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencapai 354 orang.
Angka tersebut melampaui laporan awal yang menyebut sekitar 200 siswa.
Insiden itu terjadi setelah para siswa menyantap makanan MBG pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Mereka kemudian mengalami gangguan kesehatan dan menjalani pemeriksaan di sejumlah rumah sakit.
Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan dugaan kelalaian dalam penyimpanan ikan.
Namun, pihak berwenang masih harus mengonfirmasi penyebab pasti melalui hasil pemeriksaan laboratorium.
Siswa mengalami gatal hingga sesak napas
Kasus dugaan keracunan MBG di Karo mulai terungkap pada Kamis siang.
Sejumlah siswa mengeluhkan gangguan kesehatan, tidak lama setelah menyantap makanan yang disalurkan melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Adapun menu yang dibagikan saat itu antara lain nasi, sayur kol dan wortel serta gulai ikan dencis.
Para siswa mulai merasakan gatal dan sensasi getir di dalam mulut.
Sebagian siswa juga mengalami gatal pada kulit dan sesak napas.
“Gejala awal itu langsung mulutnya gatal-gatal, getir, baru ada yang ke kulitnya gatal dan sesak,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatera Utara Wilayah IV, Zulkarnain Barus, Kamis (13/8/2026).
Laporan awal mencatat 269 siswa dari tiga sekolah menengah terdampak.
Mereka berasal dari SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama dan SMK Swasta Bersama.
Petugas kemudian menerima laporan dari SMP Negeri 3 Kabanjahe dan SMP Swasta Bersama.
Kelima sekolah tersebut menerima makanan dari dapur SPPG yang sama.
Data korban bertambah menjadi 354 siswa
Selanjutnya, Pemkab Karo memperbarui jumlah siswa yang mendapatkan penanganan medis, setelah menghimpun data dari seluruh fasilitas kesehatan.
Berdasarkan rekapitulasi Tim Satuan Tugas dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo per Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, jumlah siswa terdampak mencapai 354 orang.
Berikut rincian penanganannya:
- RS Efarina Etaham menangani 101 pasien.
- RS Amanda Raya Berastagi menangani 212 pasien.
- RSU Kabanjahe menangani 35 pasien.
- RS Mina Kabanjahe menangani lima pasien.
- RS Yoreskitha menangani satu pasien.
Dari jumlah tersebut, 110 siswa menjalani rawat inap dan 242 siswa telah dipulangkan setelah kondisinya membaik. Petugas juga merujuk dua siswa ke rumah sakit di Medan untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Bupati Karo Antonius Ginting memastikan pemerintah mengawal perawatan seluruh siswa.
“Pemerintah Kabupaten Karo bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kesembuhan anak-anak kita,” tegas Antonius Ginting.
Pemkab juga membantu kepulangan siswa yang telah mendapat izin dari dokter.
Kondisi sebagian besar siswa membaik
Jumlah siswa yang menjalani perawatan berangsur berkurang.
Pemkab Karo melaporkan 56 siswa masih dirawat di RS Efarina Etaham pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Tiga siswa lainnya menjalani observasi, sedangkan delapan siswa masih dirawat di RS Amanda.
BGN juga memantau seorang siswa yang sempat menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan.
Kepala BGN Sudaryono menyebutkan, kondisi pasien tersebut berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan selama tiga hari.
Tim medis tetap melakukan pemantauan karena pasien masih membutuhkan penanganan intensif.
Ratusan ikan diduga tidak masuk freezer
BGN melakukan pemeriksaan terhadap proses pengadaan, penyimpanan dan pengolahan bahan makanan di dapur SPPG Karo Berastagi Sempajaya.
Investigasi sementara menemukan sebagian bahan baku ikan tidak masuk ke freezer.
Petugas diduga membiarkan ikan tersebut pada suhu ruang selama 12 jam atau lebih sebelum memasaknya.
“Ada sekitar 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer,” kata Sudaryono saat mengunjungi pasien di RS Haji Medan, Minggu (16/8/2026).
Sudaryono menilai tindakan tersebut sebagai kelalaian serius karena dapat membahayakan penerima manfaat MBG.
“Tidak boleh ada kelalaian, tidak boleh! Zero tolerance, enggak boleh lalai!” tegasnya.
Temuan itu masih bersifat sementara. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan, untuk memastikan apakah ikan tersebut menjadi penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Dapur dihentikan dan Kepala SPPG dicopot
BGN langsung menghentikan operasional dapur SPPG yang menyalurkan makanan kepada sekolah-sekolah terdampak.
Lembaga tersebut juga mencopot Kepala SPPG terkait.
“Sanksinya yang pertama, dapurnya disuspend berat,” ujar Sudaryono.
BGN bahkan membuka kemungkinan membawa dugaan kelalaian itu ke ranah hukum.
Selain itu, Sudaryono juga menyatakan akan mengusulkan pemecatan tidak dengan hormat, apabila pemeriksaan membuktikan Kepala SPPG yang berstatus aparatur sipil negara melakukan kelalaian berat.
BGN meminta seluruh pengelola dapur menjalankan prosedur keamanan pangan tanpa pengecualian.
Pengawasan harus mencakup penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi makanan kepada siswa.
Penyebab pasti menunggu hasil laboratorium
Dinas Kesehatan Kabupaten Karo bersama BGN telah mengambil sampel sisa makanan dan bahan baku dari dapur SPPG.
Pemeriksaan mencakup uji mikrobiologi dan toksikologi untuk mencari sumber gangguan kesehatan.
Namun hingga saat ini, hasil akhir pemeriksaan laboratorium belum diumumkan.
Temuan mengenai penyimpanan ikan belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan laboratorium.
Pemkab Karo juga menegaskan bahwa BGN menanggung biaya penanganan medis siswa.
Pemerintah meminta masyarakat mengabaikan pihak yang mengatasnamakan korban untuk meminta biaya, sumbangan atau donasi tanpa keterangan resmi.
















