Scroll untuk baca artikel
Nasional

Pencarian 5 Jurnalis Hilang saat Liput Anak Krakatau Diperluas, 4 SRU hingga 3 KRI Dikerahkan

×

Pencarian 5 Jurnalis Hilang saat Liput Anak Krakatau Diperluas, 4 SRU hingga 3 KRI Dikerahkan

Sebarkan artikel ini
Para jurnalis sebelum berangkat meliput Gunung Anak Krakatau
JURNALIS HILANG — Para jurnalis terlihat sesaat sebelum berangkat menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau dari kawasan Carita, Pandeglang, Senin (7/9/2026). Rombongan tersebut kemudian dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. (foto/tangkapan layar video)

  • Tim SAR gabungan memperluas pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang kontak saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
  • Operasi hari kedua, Rabu (9/9/2026), dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit atau SRU.
  • TNI AL memperkuat pencarian dengan mengerahkan tiga kapal perang, yakni KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.
  • Hingga sekitar pukul 17.07 WIB, speedboat dan delapan orang dalam rombongan belum ditemukan.

JAMLIMA.COM, PANDEGLANG — Pencarian lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terus diperluas.

Tim SAR gabungan melanjutkan operasi hari kedua pada Rabu (9/9/2026) sejak sekitar pukul 07.00 WIB.

Pencarian tidak hanya melibatkan Basarnas dan unsur SAR lainnya.

TNI Angkatan Laut juga mengerahkan tiga kapal perang untuk memperkuat operasi di perairan Selat Sunda.

Hingga sekitar pukul 18.00 WIB, tim SAR belum menemukan speedboat maupun delapan orang yang berada dalam rombongan tersebut.

Pencarian Dibagi Empat SRU

Kasubsie Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto mengatakan, operasi hari kedua dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit atau SRU.

Pembagian tersebut bertujuan memperluas cakupan penyisiran dan mempercepat pencarian di sejumlah sektor.

“Dalam pelaksanaan pencarian hari kedua, Tim SAR Gabungan membagi operasi menjadi empat Search and Rescue Unit atau SRU untuk memperluas cakupan area pencarian,” kata Rizky.

SRU pertama menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran sejauh 68,3 mil laut.

SRU kedua menggunakan KAL Anyer dengan rencana pencarian sepanjang 69,5 mil laut.

Sementara itu, unsur RIB dari Banten dan Lampung menyisir sektor lainnya.

Penyisiran juga dilakukan di sekitar Pulau Rakata, Pulau Panjang, serta sejumlah kawasan yang dinilai berpotensi menjadi lokasi keberadaan rombongan.

TNI AL Kerahkan Tiga KRI

Operasi pencarian kemudian diperkuat oleh TNI Angkatan Laut.

Tiga kapal perang dikerahkan untuk membantu menyisir perairan Selat Sunda.

Ketiga kapal tersebut yakni KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.

Kehadiran unsur KRI menambah kekuatan pencarian yang sebelumnya telah melibatkan KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, serta sejumlah RIB dari Banten dan Lampung.

Basarnas Banten dan Basarnas Lampung juga terlibat dalam operasi bersama TNI-Polri, pemerintah daerah, Balawista, nelayan, dan masyarakat.

Delapan Orang dalam Pencarian

Rombongan yang belum ditemukan berjumlah delapan orang.

Lima di antaranya merupakan jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan.

Mereka yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan pewarta lepas.

Selain lima jurnalis tersebut, terdapat kapten kapal bernama Warta.

Rombongan juga bersama anak buah kapal bernama Surakman dan pemandu bernama Heriyanto.

Data awal sebelumnya sempat mencatat tujuh orang.

Jumlah tersebut kemudian diperbarui menjadi delapan setelah pendataan terhadap seluruh rombongan dilakukan.

Berangkat dari Carita Senin Siang

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Mereka menggunakan speedboat untuk menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.

Perjalanan dari Carita menuju kawasan Krakatau diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Salah seorang jurnalis, M. Bagus Khoirunnas, sempat membagikan lokasi kepada rekannya di Lampung sekitar pukul 14.42 WIB.

Namun, sekitar pukul 15.04 WIB, Bagus sudah tidak dapat dihubungi.

Lokasi yang sempat dibagikan tercatat pada koordinat 6°14’40.52” Lintang Selatan dan 105°40’49.48” Bujur Timur.

Meski demikian, pukul 15.04 WIB bukan komunikasi terakhir dari seluruh rombongan.

Pemandu Kirim Foto Pukul 18.13 WIB

Pemandu rombongan, Heriyanto, diketahui masih sempat mengirimkan foto dari sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin sekitar pukul 18.13 WIB.

Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam penyusunan kronologi terakhir keberadaan rombongan.

Dengan demikian, hilangnya komunikasi dengan Bagus sekitar pukul 15.04 WIB tidak dapat langsung dianggap sebagai waktu hilang kontak seluruh penumpang.

Setelah komunikasi Heriyanto tersebut, belum diketahui adanya kontak lain dari rombongan.

Tim SAR kemudian menjadikan berbagai informasi lokasi dan komunikasi terakhir sebagai bahan untuk menentukan sektor pencarian.

Abu Vulkanik Batasi Pencarian dari Udara

Operasi SAR menghadapi tantangan dari kondisi Gunung Anak Krakatau.

Material abu vulkanik masih terlihat cukup tebal di sekitar kawasan tersebut.

Kondisi tersebut membatasi penggunaan helikopter maupun pesawat untuk melakukan pencarian dari udara.

Sebagai alternatif, Basarnas menyiapkan dua drone termal di KN SAR Tetuka 247.

Drone tersebut digunakan untuk membantu pemantauan dari udara terhadap objek atau kemungkinan tanda keberadaan korban.

Tim SAR juga harus mempertimbangkan kondisi angin, gelombang laut, dan jarak pandang selama operasi berlangsung.

Pada Rabu sore, kondisi cuaca di area pencarian dilaporkan cerah berawan.

Kecepatan angin sekitar 14 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.

Pulau Kecil dan Dermaga Diperiksa

Selain melakukan penyisiran di laut, tim SAR terus berkoordinasi dengan nelayan dan masyarakat pesisir.

Pulau-pulau kecil dan dermaga di sekitar Selat Sunda ikut diperiksa.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kemungkinan rombongan sempat berlindung atau bersandar di lokasi yang tidak langsung terpantau oleh kapal SAR.

Informasi mengenai kemungkinan rombongan berada di sekitar Pulau Sebesi juga masih diverifikasi.

“Kita juga belum memastikan. Sampai saat ini informasi tersebut belum ada kebenarannya,” ujar Rizky.

Speedboat Layak Berlayar

Pemilik kapal, Sandi Wiasa, menyatakan speedboat yang digunakan rombongan dalam kondisi layak berlayar.

Menurut dia, kapal juga memiliki dokumen dan dilengkapi jaket pelampung.

“Masih layak. Kapal layak untuk jalan,” kata Sandi.

Namun, hingga Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 17.07 WIB, keberadaan speedboat dan delapan orang dalam rombongan tersebut belum diketahui.

Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian dengan memperluas penyisiran di perairan Selat Sunda dan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pengerahan empat SRU, kapal SAR, RIB, dua drone termal, hingga tiga KRI menjadi bagian dari upaya memperbesar peluang menemukan rombongan tersebut.