Scroll untuk baca artikel
Nasional

Potret Terkini Gempa Flores: Korban Tewas 75 Jiwa, Pengungsi Tembus 92 Ribu Orang

×

Potret Terkini Gempa Flores: Korban Tewas 75 Jiwa, Pengungsi Tembus 92 Ribu Orang

Sebarkan artikel ini
GEMPA NTT - Kondisi wilayah terdampak gempa M7,7 di Flores, NTT. Hingga Kamis, (20/8/2026) malam, BNPB mencatat 75 orang meninggal, 907 luka dan 92.735 warga mengungsi. (foto/ist)

  • Korban meninggal akibat gempa M7,7 NTT (20/8/2026) malam, bertambah menjadi 75 orang, sedangkan korban luka mencapai 907 orang.
  • Jumlah warga yang mengungsi melonjak menjadi 92.735 jiwa, naik 33.088 orang dibandingkan data sebelumnya.
  • BMKG mencatat 3.752 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar M6,2.
  • Gempa susulan M5,2 kembali mengguncang kawasan Flores pada Kamis sore, tetapi BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

JAMLIMA.COM, KUPANG – Dampak gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berkembang.

Hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 75 orang meninggal dunia, 907 orang luka-luka, dan 92.735 jiwa mengungsi.

Jumlah korban meninggal bertambah empat orang dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 71 jiwa.

Tambahan korban berasal dari Kabupaten Sikka sebanyak dua orang, Kabupaten Manggarai satu orang, serta Kabupaten Nagekeo satu orang.

Pada saat yang sama, aktivitas seismik di Flores belum mereda.

BMKG mencatat 3.752 gempa susulan hingga Kamis pukul 14.00 WIB. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Korban Gempa NTT Bertambah Menjadi 75 Orang

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan korban meninggal bertambah empat jiwa pada Kamis.

“Hari ini, bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, di Nagekeo bertambah satu,” kata Berton.

Dengan tambahan tersebut, jumlah korban meninggal mencapai 75 jiwa.

Sementara itu, jumlah korban luka bertambah dari 898 menjadi 907 jiwa.

Sembilan korban luka tambahan seluruhnya berasal dari Kabupaten Ngada.

“Demikian juga korban yang luka sebanyak 907 jiwa, yang semula 898 jiwa. Untuk hari ini kami mendapatkan data ketambahan sembilan jiwa yaitu berasal dari Kabupaten Ngada,” ujar Berton.

Petugas masih melakukan verifikasi dan validasi sehingga angka korban dapat kembali berubah.

Rincian Korban Meninggal

Data Posko BPBD NTT sebelumnya mencatat 71 korban meninggal yang tersebar di tujuh kabupaten.

Rinciannya yakni Manggarai 27 orang, Manggarai Barat tiga orang, Manggarai Timur 25 orang, Ende dua orang, Sikka empat orang, Ngada dua orang, dan Nagekeo delapan orang.

BNPB kemudian pada 20 Agustus, mengumumkan tambahan empat korban: dua di Sikka, satu di Manggarai, dan satu di Nagekeo.

Bila kedua pembaruan tersebut direkonsiliasi, komposisi 75 korban menjadi:

  1. Manggarai: 28 orang
  2. Manggarai Timur: 25 orang
  3. Nagekeo: 9 orang
  4. Sikka: 6 orang
  5. Manggarai Barat: 3 orang
  6. Ende: 2 orang
  7. Ngada: 2 orang

Total: 75 orang meninggal dunia.

Rincian tersebut merupakan rekonsiliasi data Posko BPBD NTT, dengan tambahan korban yang diumumkan BNPB pada 20 Agustus.

Namun, Angka tetap tersebut dapat berubah mengikuti proses verifikasi lapangan.

Pengungsi Melonjak Menjadi 92.735 Jiwa

Perubahan paling mencolok terjadi pada jumlah pengungsi.

BNPB mencatat 92.735 jiwa berada di pengungsian hingga Kamis sore.

Jumlah itu bertambah 33.088 jiwa dibandingkan data sebelumnya sebanyak 59.647 jiwa.

Penambahan pengungsi terbesar berasal dari:

  • Nagekeo: 21.883 jiwa
  • Manggarai: 9.649 jiwa
  • Manggarai Barat: 1.556 jiwa

Peningkatan jumlah pengungsi tidak serta-merta menunjukkan puluhan ribu rumah baru mengalami kerusakan.

Pada pembaruan 18 Agustus, BNPB menjelaskan bahwa sebagian masyarakat mengungsi karena dampak psikologis.

Selain itu, adanya kekhawatiran terhadap gempa susulan, bukan hanya karena rumah mereka rusak.

Saat itu, BNPB mencatat 40.040 pengungsi.

Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 59.647 jiwa pada 19 Agustus dan mencapai 92.735 jiwa pada 20 Agustus.

Gempa Susulan terhadap Warga di Pengungsian

Ribuan gempa susulan menjadi salah satu alasan warga belum berani kembali ke rumah.

BNPB mengingatkan masyarakat untuk memastikan bangunan dalam kondisi aman sebelum memasukinya kembali.

“Dengan masih banyaknya gempa susulan dan tergolong besar, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tetap siaga,” kata Berton.

BNPB juga meminta warga menghindari bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktural.

Kondisi ini membuat kebutuhan tenda, air bersih, makanan, obat-obatan, selimut, tikar, velbed hingga generator masih menjadi bagian penting dalam penanganan pengungsi.

Pada tahap awal penanganan, BNPB mencatat kebutuhan di Manggarai antara lain tenda pengungsi, tenda posko, 30 ton beras dan obat-obatan.

Selain itu, 1.000 velbed, 1.000 selimut, 1.000 tikar, perangkat dapur, tandon air, genset, alat komunikasi dan penerangan.

Pendataan Kerusakan Rumah dan Fasilitas Umum

Pendataan kerusakan berubah cepat sejak hari pertama bencana.

Pada 18 Agustus, BNPB mencatat 11.925 rumah rusak, terdiri atas:

  • 5.516 rumah rusak berat
  • 1.916 rumah rusak sedang
  • 4.493 rumah rusak ringan

BNPB saat itu menyebut kerusakan rumah paling besar terdapat di Nagekeo, Manggarai Barat dan Ngada.

Namun, proses asesmen di tingkat kabupaten masih terus berlangsung.

Sehingga data tersebut belum dapat diperlakukan sebagai angka final kerusakan hingga 20 Agustus.

Selain rumah warga, gempa juga merusak fasilitas kesehatan, sekolah, kantor pemerintahan, rumah ibadah, jalan dan infrastruktur pelayanan publik.

Pada fase awal pendataan, BNPB juga mencatat kerusakan pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan kantor pemerintah.

Kerusakan jalan bahkan menjadi persoalan penting karena menghambat akses menuju sejumlah daerah terdampak.

Pemerintah memprioritaskan pembukaan akses untuk mempercepat distribusi bantuan dan mobilisasi petugas.

Kronologi Gempa M7,7 di Flores

Gempa utama mengguncang kawasan Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.

Parameter awal menempatkan pusat gempa di Laut Flores, sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay.

Lokasi ini berada di Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Guncangan kuat dirasakan di sejumlah kabupaten di Flores, termasuk Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat dan Sikka.

Getaran juga dirasakan hingga sejumlah daerah di NTB dan Sulawesi Selatan.

Gempa kemudian memicu peringatan dini tsunami. Warga di wilayah pesisir segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.

Sedangkan BMKG mengevaluasi hasil observasi muka laut dan tidak lagi menemukan kenaikan signifikan yang membahayakan.

Kemudian, peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.31 WIB.

Korban Bertambah Cepat pada Hari Pertama

Pendataan korban berubah cepat sepanjang 15 Agustus.

Pada pukul 12.30 WIB, BNPB masih mencatat 14 orang meninggal, dua luka berat dan 11 luka ringan.

Korban saat itu teridentifikasi di Sikka, Manggarai dan Manggarai Timur.

Beberapa jam kemudian jumlah korban meningkat menjadi 38 orang.

Menjelang malam, BNPB memperbarui jumlah korban menjadi 47 orang meninggal dunia.

Pada 16 Agustus, angka tersebut naik lagi menjadi 53 kemudian 54 jiwa setelah proses pencarian dan verifikasi berlangsung.

Selanjutnya korban meningkat menjadi 70 orang pada 18 Agustus, 71 orang pada 19 Agustus, dan akhirnya 75 orang pada Kamis, 20 Agustus 2026.

3.752 Gempa Susulan Tercatat

Aktivitas kegempaan di Flores belum berhenti.

BMKG mencatat hingga 20 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB terdapat 3.752 aktivitas gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan Kamis pagi.

Hingga pukul 05.00 WIB, BMKG masih mencatat 3.394 gempa susulan dengan rentang magnitudo M1,1 hingga M6,2.

Dari jumlah tersebut, 26 gempa memiliki magnitudo di atas M5 dan 99 kejadian dirasakan masyarakat.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto sebelumnya memperkirakan, rangkaian gempa susulan masih dapat berlangsung selama beberapa pekan.

“Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir tiga hingga empat minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang terjadi,” kata Wijayanto.

Gempa M5,2 Kembali Guncang Flores Kamis Sore

Aktivitas gempa kembali terasa kuat pada Kamis sore.

BMKG mencatat gempa M5,2 pada 20 Agustus 2026 pukul 15.01 WIB.

Episenter berada sekitar 42 kilometer timur laut Manggarai Timur dengan kedalaman 10 kilometer.

Dalam analisis yang diperbarui, BMKG memperoleh parameter M5,0 dengan episenter sekitar 47 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai.

BMKG mengidentifikasi gempa tersebut sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Sedangkan pada sistem mekanisme, pergerakan geser turun atau oblique normal fault.

Gempa dirasakan hingga skala V MMI di Lamba Leda, Manggarai Timur.

Guncangan IV MMI tercatat di Sambi Rampas, Reok dan Kota Ruteng. Getaran III MMI dirasakan di Borong, Bajawa dan Mbay, sedangkan Labuan Bajo merasakan getaran II MMI.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Flores Back-Arc Thrust Jadi Perhatian

BMKG menyebut gempa susulan Kamis sore berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Zona sesar naik belakang busur Flores merupakan salah satu struktur tektonik aktif di kawasan tersebut.

Aktivitasnya membuat wilayah Flores dan sekitarnya memiliki tingkat kegempaan tinggi.

Karena itu, banyaknya gempa susulan setelah gempa utama M7,7 menjadi bagian penting dalam pemantauan BMKG.

Namun, jumlah gempa susulan yang besar tidak dapat digunakan untuk memastikan kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.

BMKG meminta masyarakat tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG,” demikian imbauan BMKG dalam keterangan resminya.

Warga Diminta Mengutamakan Keselamatan

BMKG secara khusus meminta masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

Imbauan tersebut penting karena gempa susulan dapat memperburuk kerusakan struktur yang sebelumnya sudah melemah.

BNPB juga meminta masyarakat tetap tenang, tetapi mempertahankan kesiapsiagaan.

Warga yang rumahnya rusak berat atau belum dinyatakan aman, sebaiknya tetap berada di lokasi pengungsian.

Atau berada di lokasi aman yang telah ditentukan pemerintah.

Sementara itu, pendataan korban, rumah rusak, fasilitas umum dan kebutuhan pengungsi terus berjalan.

Dengan kondisi lapangan yang masih dinamis serta ribuan gempa susulan, angka dampak gempa NTT masih mungkin berubah.

Hal ini, setelah proses verifikasi BNPB, BPBD dan pemerintah daerah selesai.

Ringkasan Data hingga 20 Agustus 2026

  • Gempa utama: M7,7
  • Tanggal: Sabtu, 15 Agustus 2026
  • Korban meninggal: 75 jiwa
  • Korban luka: 907 jiwa
  • Pengungsi: 92.735 jiwa
  • Gempa susulan: 3.752 kejadian hingga pukul 14.00 WIB
  • Gempa susulan terbesar: M6,2
  • Gempa susulan terbaru yang menonjol: M5,2 pada Kamis sore
  • Status tsunami: Tidak ada peringatan tsunami aktif
  • Wilayah terdampak utama: Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Nagekeo, Ngada dan Ende.