Scroll untuk baca artikel
LokalNasional

Abu Anak Krakatau Belum Hilang dari Jakarta, Pramono Siapkan Modifikasi Cuaca 7–8 September

×

Abu Anak Krakatau Belum Hilang dari Jakarta, Pramono Siapkan Modifikasi Cuaca 7–8 September

Sebarkan artikel ini
Modifikasi cuaca DKI Jakarta untuk meluruhkan abu Anak Krakatau dengan ilustrasi Pramono Anung
MODIFIKASI CUACA — Ilustrasi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dengan latar operasi modifikasi cuaca di Jakarta. Pemprov DKI menyiapkan OMC pada 7–8 September 2026 untuk membantu meluruhkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (foto/ilustrasi)

  • Pemprov DKI Jakarta menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 7–8 September 2026 untuk membantu mengurangi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
  • Pelaksanaan OMC bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat serta kondisi keselamatan penerbangan.
  • BNPB juga menyiapkan OMC untuk meluruhkan abu vulkanik di Jakarta, Banten, dan Lampung.
  • BMKG terus memantau sebaran abu Anak Krakatau setelah material vulkanik sebelumnya terdeteksi melintasi DKI Jakarta dan mengganggu operasional sejumlah bandara.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC pada Senin hingga Selasa, 7–8 September 2026.

Langkah tersebut disiapkan untuk membantu mengurangi abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak hingga wilayah Jakarta.

Namun, operasi tidak bisa dilakukan sembarangan.

Pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk proses penyemaian.

Selain itu, aspek keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama karena abu vulkanik juga mengganggu ruang udara dan operasional sejumlah bandara.

BPBD DKI Siapkan OMC

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan rencana OMC pada Senin, 7 September 2026.

Namun, eksekusinya harus menyesuaikan kondisi atmosfer.

“Sebenarnya hari ini ada rencana untuk OMC. Tetapi karena memang sangat bergantung pada awannya,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/9/2026), kepada awak media.

Pramono mengatakan peluang pertumbuhan awan diperkirakan tersedia pada periode 7–8 September.

Karena itu, ia telah meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD DKI Jakarta bersiap menjalankan operasi ketika kondisi memungkinkan.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat juga menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG.

Koordinasi dilakukan untuk menentukan waktu yang paling tepat dalam menjalankan OMC.

Posko penanganan juga telah diaktifkan.

Potensi pertumbuhan awan hujan masih terpantau hingga Minggu, 13 September 2026.

Meluruhkan Abu Vulkanik

OMC kali ini berbeda dengan operasi yang umumnya digunakan untuk penanganan banjir atau kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah berupaya memanfaatkan hujan untuk membantu meluruhkan partikel abu vulkanik dari atmosfer ke permukaan.

BNPB sebelumnya memastikan OMC masuk dalam strategi penanganan dampak erupsi Anak Krakatau.

Operasi disiapkan untuk wilayah yang terdampak sebaran abu, terutama Jakarta, Banten, dan Lampung.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pesawat OMC telah dipersiapkan.

“Kondisi lebih kondusif, kami akan melaksanakan OMC. Pesawat sudah siap di Pondok Cabe,” kata Suharyanto.

Selain penyemaian awan, BNPB juga menyiapkan metode water mist sebagai bagian dari upaya mempercepat peluruhan partikel vulkanik.

OMC tetap harus memperhitungkan keselamatan pesawat.

Material abu vulkanik berbahaya bagi penerbangan karena dapat mengganggu mesin, sistem navigasi, dan komponen pesawat.

Capai Wilayah DKI Jakarta

BMKG mengonfirmasi abu vulkanik Anak Krakatau telah menyebar dalam area yang luas.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Pada lapisan hingga ketinggian 20.000 kaki, abu ketika itu bergerak ke arah timur laut hingga selatan.

Sebarannya mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Situasinya kemudian berubah mengikuti dinamika angin.

Pada Senin, 7 September 2026, BMKG mencatat abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer bergerak dominan ke arah barat.

Sebarannya mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat dan selatan, Lampung, Bengkulu, serta perairan sekitarnya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa arah sebaran abu tidak bersifat tetap.

Angin pada berbagai lapisan atmosfer dapat mengubah jalur material vulkanik dalam waktu relatif cepat.

Penerbangan Ikut Terdampak

Dampak abu Anak Krakatau juga terasa pada sektor penerbangan.

BMKG melaporkan delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatra sempat mengalami penutupan sementara hingga Senin malam.

Keputusan tersebut diambil untuk menjaga keselamatan penerbangan dari ancaman abu vulkanik.

Sejak erupsi pertama pada 4 September 2026, BMKG hingga Senin pagi telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information atau SIGMET.

SIGMET menjadi informasi penting bagi dunia penerbangan ketika terdapat fenomena meteorologi yang dapat membahayakan pesawat.

Kondisi inilah yang membuat pelaksanaan OMC menjadi lebih kompleks.

Pesawat penyemai tidak dapat diterbangkan apabila konsentrasi abu atau kondisi ruang udara dinilai membahayakan.

BNPB karena itu menyiapkan beberapa skenario lokasi penerbangan agar operasi dapat dilakukan ketika cuaca dan ruang udara memungkinkan.

Batasi Paparan Abu

Selain mengganggu penerbangan, abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

Partikel abu dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.

BNPB menyebut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah meminta warga di wilayah terdampak membatasi aktivitas di luar rumah.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata apabila harus beraktivitas di luar ruangan.

Setelah kembali ke rumah, warga disarankan membersihkan tubuh dan mengganti pakaian untuk mengurangi paparan partikel yang menempel.

Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan, perlu mendapatkan perhatian lebih.

Menunggu Kondisi Atmosfer

Rencana OMC pada 7–8 September menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mempercepat pemulihan kualitas udara setelah sebaran abu Anak Krakatau.

Namun, OMC bukan berarti pemerintah dapat menciptakan hujan dari kondisi langit yang benar-benar tanpa awan.

Operasi membutuhkan kondisi meteorologis yang mendukung.

Karena itu, BPBD DKI Jakarta dan BMKG terus memantau pertumbuhan awan sebelum menentukan waktu penyemaian.

Di sisi lain, BNPB tetap mempertimbangkan keamanan jalur penerbangan sebelum pesawat OMC diterbangkan.

Hingga Senin malam, status perencanaan OMC 7–8 September 2026, sementara realisasi penerbangan menunggu kondisi awan dan keselamatan ruang udara.

Sementara itu, BMKG terus melakukan pemantauan 24 jam terhadap perkembangan erupsi, pergerakan abu vulkanik, kondisi penerbangan, serta situasi di kawasan Selat Sunda.