Scroll untuk baca artikel
Daerah

Data dan Fakta di Balik Kebakaran Hutan Pinus Gunung Nona Enrekang

×

Data dan Fakta di Balik Kebakaran Hutan Pinus Gunung Nona Enrekang

Sebarkan artikel ini
kebakaran hutan pinus di kawasan Gunung Nona, Enrekang, Sulawesi Selatan
KEBAKARAN GUNUNG NONA - Api dan asap membakar kawasan pegunungan. Kebakaran hutan pinus Gunung Nona di Enrekang terjadi pada Sabtu, (15/8/2026), dan berdampak pada sekitar 0,1 hektare hutan lindung. (foto/ist)

  • Kebakaran melanda hutan pinus Gunung Nona, Enrekang, pada Sabtu sore, (15/8/2026).
  • Api menghanguskan sekitar 10 are atau 0,1 hektare kawasan hutan lindung.
  • BPBD menduga sisa api dari aktivitas memasak warga memicu kebakaran.
  • Petugas memadamkan api sebelum menjalar ke permukiman dan tidak melaporkan adanya korban.

JAMLIMA.COM, ENREKANG – Kebakaran melanda kawasan hutan pinus Gunung Nona di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Api membakar tanaman pinus dan sejumlah pepohonan lain pada Sabtu sore, (15/8/2026) lalu.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang mencatat luas kawasan terdampak sekitar 10 are.

Luasan tersebut setara dengan 1.000 meter persegi atau 0,1 hektare.

Petugas berhasil memadamkan api sebelum merambat ke permukiman warga.

Kebakaran terjadi di kawasan hutan lindung

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Enrekang, Amiruddin, mengatakan lokasi kebakaran berada di dalam kawasan hutan lindung.

Dinas Kehutanan telah memasang pagar yang membatasi kawasan tersebut hingga bagian bawah.

Karena itu, lahan masyarakat tidak termasuk dalam area yang terbakar.

“Kawasan yang terbakar merupakan area hutan lindung yang dipagari oleh Dinas Kehutanan hingga ke bagian bawah, sehingga tidak ada lahan masyarakat di dalam kawasan itu. Ada sekitar 10 are yang terdampak,” kata Amiruddin, Minggu, (16/8/2026).

Api membakar tanaman pinus dan sejumlah pohon lain.

Kondisi vegetasi yang kering membuat api mudah merambat dari bagian bawah menuju kawasan hutan.

Sisa api memasak diduga menjadi pemicu

BPBD Enrekang menduga kelalaian manusia memicu kebakaran hutan pinus Gunung Nona.

Dugaan itu muncul setelah petugas memeriksa aktivitas masyarakat di sekitar kaki gunung.

Sebuah aliran sungai berada di bagian bawah kawasan tersebut.

Saat kejadian, debit air sungai sedang surut sehingga warga lebih mudah mendatangi lokasi untuk mencari atau memancing ikan.

Sebagian warga diduga memasak di sekitar tepi sungai dan meninggalkan sisa api yang belum benar-benar padam.

Api kemudian merambat menuju vegetasi kering di kawasan hutan.

“Kebakaran ini diduga disebabkan oleh kelalaian masyarakat pada saat beraktivitas di pinggir gunung. Api merambat dan membakar tanaman pinus serta pohon-pohon lainnya di kawasan tersebut,” ujar Amiruddin.

Ia menegaskan bahwa penyebab tersebut masih berupa dugaan awal.

“Itu ada sungai dan airnya sedang surut, jadi gampang untuk masyarakat mencari ikan. Diduga ada aktivitas masyarakat yang memancing di tepi sungai di bawah kawasan Gunung Nona, mungkin meninggalkan sisa api, sisa masak-masak,” katanya.

Hingga pembaruan terakhir, aparat belum mengumumkan hasil penyelidikan yang memastikan sumber api.

Petugas juga belum mengungkap identitas pihak yang diduga meninggalkan sisa pembakaran.

Petugas membagi area pemadaman

Pagar dan akses terbatas di kawasan hutan memengaruhi proses penanganan.

Petugas kemudian membagi tugas untuk mempercepat pemadaman dan melindungi permukiman.

Personel Dinas Kehutanan memasuki kawasan berpagar untuk memadamkan titik api.

Sementara itu, BPBD Enrekang menjaga perimeter luar dan memantau pergerakan api.

“Kami dari BPBD fokus menjaga di area luar untuk mengantisipasi agar api tidak meluas ke permukiman warga yang berada di sekitar kaki Gunung Nona,” jelas Amiruddin.

Petugas akhirnya menghalau dan memadamkan api sebelum mencapai rumah penduduk.

“Beruntung api cepat dihalau dan dipadamkan sehingga tidak sampai berdampak serius ke permukiman,” tambahnya.

Tidak ada korban dan rumah terbakar

Sampai Senin, (17/8/2026), belum ada laporan mengenai korban meninggal atau terluka akibat kebakaran tersebut.

BPBD juga tidak melaporkan warga mengungsi maupun rumah yang terbakar.

Namun, pemerintah belum mengumumkan jumlah pasti pohon yang rusak dan nilai kerugian ekologis.

Rencana rehabilitasi kawasan serta penanaman kembali pohon pinus juga belum tersedia dalam laporan terbuka.

BPBD dan Dinas Kehutanan perlu tetap memantau lokasi setelah pemadaman.

Termasuk bara yang tersimpan di bawah tumpukan daun kering atau kayu dapat memicu api kembali.

Terutama saat cuaca panas dan angin bertiup kencang yang rawan saat ini.

Masyarakat juga perlu memadamkan api memasak hingga tuntas sebelum meninggalkan kawasan hutan.

Warga sebaiknya tidak membuang puntung rokok atau membakar sampah di sekitar vegetasi kering.

Hingga pembaruan terakhir, luas kawasan terdampak masih tercatat sekitar 0,1 hektare.

Penyebab kebakaran tetap berstatus dugaan dan menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.