Scroll untuk baca artikel
Nasional

Krakatau 1883 Mengubah Selat Sunda Menjadi Ladang Maut, 36.000 Nyawa Hilang Sebelum Anak Krakatau Lahir

×

Krakatau 1883 Mengubah Selat Sunda Menjadi Ladang Maut, 36.000 Nyawa Hilang Sebelum Anak Krakatau Lahir

Sebarkan artikel ini
ilustrasi letusan krakatau 1883 dan anak krakatau di selat sunda
LETUSAN KRAKATAU — Letusan dahsyat Krakatau pada 1883 dan gambaran Anak Krakatau yang tumbuh di dalam kaldera Selat Sunda, Senin (7/9/2026).(foto/ilustrasi)

  • Krakatau meletus dahsyat pada 26–27 Agustus 1883 setelah aktivitas vulkaniknya meningkat sejak 20 Mei.
  • Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar Pulau Krakatau dan membentuk kaldera raksasa.
  • Tsunami menjadi penyebab utama kematian lebih dari 36.000 orang di sekitar Selat Sunda.
  • Anak Krakatau mulai tumbuh dari dasar laut pada akhir 1927 dan muncul ke permukaan pada 1929.

JAMLIMA.COM, SELAT SUNDA — Jauh sebelum Anak Krakatau muncul dari dasar laut, kawasan Selat Sunda pernah diguncang bencana vulkanik dahsyat.

Letusan Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar pulau tersebut. Selain itu, letusan memicu tsunami besar yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Krakatau Sebelum Letusan 1883

Krakatau merupakan kompleks gunung api yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Sebelum bencana 1883, kawasan itu terdiri atas beberapa pulau dan kerucut vulkanik.

Sejumlah kajian memperkirakan pernah terjadi letusan besar sekitar tahun 416 atau 535 Masehi. Namun, penanggalan tersebut masih diperdebatkan.

Sebab, catatan sejarah yang ada belum dapat dipastikan sepenuhnya berkaitan dengan Krakatau.

Setelah terbentuk kaldera purba, muncul tiga kerucut gunung api utama. Ketiganya adalah Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Ketiga kerucut tersebut kemudian menyatu dan membentuk Pulau Krakatau.

Krakatau juga tercatat mengalami aktivitas vulkanik sekitar tahun 1680. Meski lebih kecil dibandingkan letusan 1883, aktivitas itu menunjukkan bahwa sistem magma Krakatau masih aktif.

Aktivitas Meningkat

Aktivitas Krakatau kembali meningkat pada 20 Mei 1883.

Saat itu, asap, abu vulkanik, dan suara ledakan mulai muncul dari kawasan Perbuwatan.

Aktivitas tersebut terus meningkat sejak Juni hingga Agustus. Bahkan, gempa vulkanik mulai terasa di sejumlah wilayah.

Kolom erupsi juga mulai menutupi langit di sekitar Selat Sunda.

Kemudian, pada 26–27 Agustus 1883, Krakatau memasuki fase erupsi paroksismal.

Ledakan besar menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Setelah itu, sebagian struktur gunung runtuh dan membentuk kaldera raksasa.

Material vulkanik terlontar ke atmosfer dalam jumlah besar. Gelombang tekanan akibat ledakan bahkan tercatat oleh alat pengukur di berbagai wilayah dunia.

Suara letusannya juga terdengar hingga ribuan kilometer.

Tsunami Menewaskan Ribuan Orang

Namun, tsunami menjadi ancaman paling mematikan dalam bencana Krakatau 1883.

Runtuhnya tubuh gunung ke laut diperkirakan memindahkan volume air dalam jumlah besar. Selain itu, aliran piroklastik yang masuk ke laut turut memperkuat gelombang tsunami.

Gelombang besar kemudian menerjang permukiman di pesisir Banten dan Lampung.

Lebih dari 36.000 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban tewas setelah tersapu tsunami.

Aliran piroklastik juga melintasi Selat Sunda hingga mencapai pesisir Sumatra.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh tsunami vulkanik. Tsunami jenis ini dipicu aktivitas gunung api, bukan gempa bumi tektonik.

Data mengenai dampak letusan Krakatau juga dirangkum oleh Smithsonian Global Volcanism Program.

Anak Krakatau Mulai Muncul

Setelah letusan 1883 berakhir, sebagian besar Pulau Krakatau menghilang.

Kerucut Danan dan Perbuwatan hancur. Sementara itu, sebagian tubuh Rakata masih tersisa.

Meski demikian, aktivitas magma di bawah laut tetap berlanjut.

Pada akhir 1927, letusan bawah laut mulai membangun gunung api baru di dalam kaldera bekas Krakatau.

Gunung api muda tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Tubuh Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan laut pada 1929.

Secara geologi, Anak Krakatau masih memiliki hubungan langsung dengan Krakatau.

Gunung tersebut merupakan kerucut vulkanik pascaerupsi yang tumbuh dari sistem gunung api yang sama.

Pelajaran dari Bencana Krakatau

Letusan Krakatau 1883 memberikan banyak pelajaran penting dalam kajian vulkanologi dan kebencanaan.

Bencana tersebut memperlihatkan bahaya erupsi eksplosif, abu vulkanik, material piroklastik, runtuhan gunung, kaldera, tsunami vulkanik, dan gelombang tekanan atmosfer.

Selain itu, gunung api di laut memiliki bahaya yang berlapis.

Ancaman tidak hanya berasal dari ledakan dan abu. Runtuhnya tubuh gunung ke laut juga dapat memicu tsunami secara tiba-tiba.

Sejarah kelam Krakatau akhirnya menjadi awal kelahiran Anak Krakatau.

Dari kehancuran gunung lama, muncul gunung api baru yang terus tumbuh di tengah kaldera Selat Sunda.