- 14 daerah di Sulsel masuk cakupan utama zona merah kemarau pada Agustus 2026.
- Lima daerah telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan berdasarkan data resmi Pemprov Sulsel.
- Krisis air mulai terasa di Makassar, Maros, Takalar, dan sejumlah wilayah lain.
- BMKG memperingatkan risiko kekeringan masih tinggi, sementara karhutla terus meningkat selama puncak kemarau.
JAMLIMA.COM, MAKASSAR – Ancaman kekeringan semakin terasa di Sulawesi Selatan memasuki pekan terakhir Agustus 2026.
BMKG sebelumnya memetakan sebagian besar wilayah Sulsel menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus.
Sedikitnya 14 kabupaten dan kota masuk cakupan utama prediksi zona merah kemarau pada bulan ini.
Sementara itu, perkembangan di lapangan menunjukkan krisis air mulai muncul di sejumlah daerah.
Pemerintah juga meningkatkan distribusi air bersih dan menyiapkan sumber air untuk pertanian.
Zona Merah Sejak April
Sejak April 2026, Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Amson Padolo mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota tentang ancaman kekeringan.
Amson mengatakan kondisi cuaca yang anomali dapat mengubah peta daerah terdampak.
Namun, informasi BMKG menunjukkan sejumlah wilayah berpotensi masuk zona merah pada Agustus dan September.
“Kalau zona merah itu, sekarang itu cuaca anomali, jadi bisa saja kita tidak prediksi masuk zona merah, bisa saja masuk begitupun sebaliknya,” kata Amson.
Ia menambahkan, informasi BMKG menunjukkan beberapa daerah berpotensi masuk zona merah pada Agustus dan September.
14 Daerah dalam Cakupan Zona Merah
Berdasarkan pemetaan BMKG yang disampaikan BPBD Sulsel pada sejak April 2026, zona merah Agustus diproyeksikan mencakup:
- Kabupaten Luwu Utara
- Kabupaten Toraja Utara
- Kabupaten Pinrang
- Kota Parepare
- Kabupaten Barru
- Kabupaten Soppeng
- Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
- Kabupaten Maros
- Kota Makassar
- Kabupaten Takalar
- Kabupaten Jeneponto
- Kabupaten Gowa
- Kabupaten Luwu Timur
- Kota Palopo
Pemetaan tersebut menyebut zona merah mencakup Luwu Utara hingga Jeneponto.
Ancaman juga menjangkau hampir seluruh wilayah Gowa, Luwu Timur dan Palopo.
Selain itu, sebagian Enrekang, Sidrap, Wajo, Bone, Luwu dan Bantaeng juga berpotensi terdampak.
Karena itu, cakupan wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan sebenarnya lebih luas dari 14 daerah utama.
BMKG Prediksi Puncak Kemarau pada Agustus
Sebelumnya, pada Maret 2026, Kepala Stasiun Klimatologi Sulsel Ayi Sudrajat memaparkan prediksi musim kemarau 2026.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah barat dan utara Sulsel mencapai puncak kemarau pada Agustus.
Sementara itu, sebagian wilayah timur dan selatan diprediksi mencapai puncak pada September.
BMKG juga memperkirakan sifat hujan selama kemarau berada di bawah normal pada 19 dari 24 zona musim di Sulsel.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.
Lima Daerah Resmi Tanggap Darurat
Meski 14 daerah masuk cakupan prediksi zona merah, status tersebut berbeda dengan status tanggap darurat kekeringan.
Data resmi Pemprov Sulsel yang diterbitkan pada Minggu, (9/8), mencatat lima daerah telah menetapkan status tanggap darurat.
Kelima daerah tersebut yaitu:
- Kota Makassar
- Kota Parepare
- Kabupaten Pinrang
- Kabupaten Enrekang
- Kabupaten Kepulauan Selayar
Pemprov Sulsel juga menyiapkan pompa air dan sumur bor untuk membantu lahan pertanian yang mengalami kekurangan air.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan tim telah mendistribusikan pompa ke sejumlah kabupaten.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga pasokan air bagi lahan pertanian selama kemarau.
Tanggap Darurat Kota Makassar
Kota Makassar menetapkan status tanggap darurat kekeringan pada Jumat, (7/8).
Kepala BPBD Makassar Muhammad Fadli Tahar mengonfirmasi status tersebut pada Jumat, (14/8).
Berdasarkan data BPBD Makassar per Rabu, (5/8), sebanyak 47.252 warga dari 13.929 kepala keluarga mengalami krisis air bersih.
Warga terdampak tersebar di enam kecamatan.
Wilayah tersebut meliputi Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang dan Manggala.
Biringkanaya mencatat jumlah warga terdampak terbesar dengan 14.787 jiwa.
Tallo menyusul dengan 10.672 jiwa.
Sementara itu, Tamalanrea mencatat 9.947 jiwa terdampak.
BPBD Makassar kemudian menggelar rapat koordinasi pada Kamis, (13/8).
Pemerintah melibatkan berbagai instansi untuk mempercepat distribusi air bersih.
Makassar Salurkan Air ke 23 Titik
Penanganan terus berlanjut.
Pada Sabtu, (22/8), BPBD Makassar menyalurkan air bersih ke 23 titik di lima kecamatan.
Distribusi menyasar Biringkanaya, Tamalanrea, Ujung Tanah, Tallo dan Panakkukang.
BPBD menggunakan mobil tangki untuk membawa air langsung kepada masyarakat.
Fadli Tahar mengatakan pemerintah kembali membuka distribusi air karena kebutuhan warga meningkat.
“Untuk kebutuhan mendasar kehidupan manusia itu adalah air bersih,” kata Fadli.
Maros Mulai Terima Bantuan Air
Kekeringan juga berdampak di Kabupaten Maros.
Pada Jumat, (21/8), BPBD Sulsel bersama Andalan Peduli dan UPZ Sulsel menyalurkan air bersih ke Dusun Kalosi, Kabupaten Maros.
Warga mengalami kesulitan memperoleh air karena sumber air berkurang selama musim kemarau.
Gubernur Andi Sudirman mengatakan pemerintah akan terus membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih.
Pemprov juga akan memantau daerah lain yang mengalami masalah serupa.
Gowa Dapat Sumur Bor untuk 40 Hektare Sawah
Dampak kemarau juga menyentuh sektor pertanian di Kabupaten Gowa.
Pada Sabtu, (22/8), Pemprov Sulsel menyerahkan bantuan sumur bor kepada kelompok tani di Desa Bori Tallasa, Kecamatan Pallangga.
Sumur tersebut diproyeksikan mendukung kebutuhan air sekitar 40 hektare lahan sawah.
Selama kemarau, petani di kawasan tersebut kerap mengalami kesulitan memperoleh air.
Pemerintah berharap sumur bor menjaga aktivitas pertanian tetap berjalan.
112 Karhutla Terjadi Hingga 21 Agustus
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BPBD Sulsel pada Jumat, (21/8), mencatat 112 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kejadian tersebut tersebar di 15 kabupaten dan kota.
Total area terdampak mencapai 1.613,67 hektare.
Enrekang mencatat luas area terdampak terbesar.
Sebanyak 10 kejadian di Enrekang menghanguskan sekitar 1.044,55 hektare.
Barru mencatat sekitar 315 hektare dari lima kejadian.
Sementara itu, Tana Toraja mencatat sekitar 126 hektare dari 11 kejadian.
Parepare mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 25 kasus karhutla.
Pinrang menyusul dengan 18 kejadian.
BPBD menyebut peningkatan karhutla terkonsentrasi selama Juli dan Agustus.
BMKG: El Nino Sangat Kuat Akhir Agustus
Situasi terbaru juga mendapat perhatian BMKG.
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Agustus 2026 yang diterbitkan Senin, (24/8), BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,99.
BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Nino sangat kuat.
Pada Juli, indeks tersebut berada pada +2,20.
Artinya, intensitas El Nino meningkat memasuki Agustus.
BMKG juga masih memberikan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
17 Daerah Masuk Peringatan Kekeringan BMKG
Dalam Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II Agustus 2026, BMKG menempatkan 17 daerah di Sulsel pada kategori Waspada dan Siaga.
Kategori Waspada mencakup:
- Bantaeng
- Kepulauan Selayar
- Soppeng
- Toraja Utara
- Wajo
Sementara kategori Siaga mencakup:
- Barru
- Bone
- Gowa
- Jeneponto
- Makassar
- Parepare
- Maros
- Pangkep
- Pinrang
- Sidrap
- Takalar
- Tana Toraja
Belum ada daerah di Sulsel yang tercantum dalam kategori Awas pada tabel tersebut.
Data ini juga menunjukkan peta kekeringan bersifat dinamis.
Wilayah yang masuk peringatan dapat berubah mengikuti jumlah hari tanpa hujan dan perkembangan curah hujan.
Sulsel Hadapi Pekan Kritis Kemarau
Memasuki Senin, (24/8), Sulawesi Selatan masih berada dalam periode penting musim kemarau.
Prediksi zona merah sebelumnya mencakup 14 daerah utama.
Namun, pemantauan terbaru BMKG menunjukkan peringatan dini kekeringan telah menjangkau 17 kabupaten dan kota.
Di sisi lain, lima daerah telah terverifikasi menetapkan status tanggap darurat kekeringan berdasarkan data Pemprov Sulsel pada 9 Agustus.
Dampak nyata juga mulai terlihat.
Makassar mendistribusikan air bersih kepada warga.
Maros mulai menerima suplai air.
Sementara Gowa memperoleh dukungan sumur bor untuk mempertahankan pengairan sawah.
Pada saat yang sama, 112 kejadian karhutla menunjukkan risiko lain dari kemarau panjang.
Karena itu, pemerintah perlu menjaga pasokan air bersih, melindungi sektor pertanian dan meningkatkan pencegahan kebakaran.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi terbaru dari BMKG, BPBD dan pemerintah daerah.
Peta kekeringan dapat terus berubah selama puncak musim kemarau Agustus hingga September 2026.
















