- Rusia siap membantu pelatihan astronaut Indonesia.
- Roscosmos membuka peluang penerbangan dengan wahana Rusia.
- Indonesia dan Rusia masih membahas bentuk kerja samanya.
- Belum ada jadwal penerbangan maupun rencana misi ke Bulan.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Rusia membuka peluang membantu Indonesia mengirim astronaut ke luar angkasa.
Badan antariksa Rusia, Roscosmos, siap mendukung pelatihan hingga penerbangan.
Dengan syarat jika pemerintah Indonesia memutuskan melanjutkan program tersebut.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov, menyampaikan kesiapan itu dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti.
Tolchenov mengatakan lembaga terkait di Moskow dan Jakarta, telah membahas kemungkinan pelatihan calon astronaut Indonesia.
“Kenapa kita tidak bisa mengirim astronaut Indonesia? Kalau saja dia bisa terbang ke luar angkasa dengan pesawat antariksa Rusia, hal itu akan sangat baik,” kata Tolchenov, Minggu (16/8/2026).
Menurut Tolchenov, Roscosmos siap membangun kerja sama apabila Indonesia menyampaikan minat secara resmi.
Namun, kedua negara belum mengumumkan bentuk program, nilai pendanaan, jadwal peluncuran, maupun tujuan penerbangannya.
Roscosmos tawarkan teknologi penerbangan antariksa
Roscosmos memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan penerbangan luar angkasa berawak.
Rusia juga pernah membantu menerbangkan antariksawan dari sejumlah negara, termasuk Mongolia, Vietnam, dan Malaysia.
Pengalaman tersebut dapat menjadi dasar untuk menyiapkan program astronaut bagi Indonesia.
Program itu dapat mencakup seleksi kandidat, pemeriksaan kesehatan, pelatihan teknis, simulasi keadaan darurat, dan adaptasi terhadap lingkungan mikrogravitasi.
Calon astronaut juga harus mempelajari sistem pesawat antariksa, komunikasi misi, keselamatan penerbangan, serta prosedur kembali ke Bumi.
Meski demikian, Indonesia dan Rusia belum mengumumkan tahapan resmi program tersebut.
Pemerintah Indonesia juga belum memilih calon yang akan mengikuti pelatihan.
Prabowo dan Putin bahas program kosmonaut
Peluang pengiriman astronaut Indonesia muncul, setelah Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kerja sama antariksa pada April 2026.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, Indonesia mempertimbangkan pengiriman putra-putri terbaik bangsa untuk mengikuti program kosmonaut Rusia.
“Presiden juga menyampaikan kemungkinan Indonesia mengirimkan putra-putri terbaik dan terpilih untuk mengikuti program kosmonaut Rusia,” ujar Sugiono pada 22 April 2026.
Pemerintah melihat program tersebut sebagai peluang meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, khususnya dalam bidang sains dan teknologi antariksa.
Pernyataan terbaru Tolchenov mempertegas kesiapan Rusia.
Namun, Indonesia masih harus menentukan tujuan, pendanaan, manfaat penelitian, dan skema pelaksanaannya.
Belum ada rencana terbang ke Bulan
Kesiapan Rusia tersebut tidak berarti astronaut Indonesia akan terbang ke Bulan.
Tolchenov hanya menyebut peluang menerbangkan astronaut Indonesia ke luar angkasa menggunakan wahana Rusia.
Ia tidak menyebut pendaratan di Bulan ataupun penerbangan mengelilingi satelit alami Bumi tersebut.
Kedua negara juga belum mengumumkan kontrak penerbangan, nama astronaut, waktu peluncuran, durasi, dan tujuan misi.
Karena itu, klaim bahwa Rusia akan membantu Indonesia mengirim astronaut ke Bulan belum memiliki dasar resmi.
Informasi yang akurat saat ini adalah Rusia siap membantu melatih dan menerbangkan astronaut Indonesia ke antariksa.
Kerja sama mencakup Bandar Antariksa Biak
Indonesia dan Rusia juga menjajaki pengembangan Bandar Antariksa Biak di Papua.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN telah berdiskusi dengan Roscosmos mengenai pengembangan fasilitas peluncuran tersebut.
BRIN menilai kerja sama dengan Roscosmos dapat mendukung rencana Indonesia.
Khususnya dalam membangun bandar antariksa pertama di Asia Tenggara.
Biak memiliki posisi strategis karena berada dekat garis khatulistiwa.
Lokasi tersebut dapat meningkatkan efisiensi peluncuran roket menuju orbit tertentu.
Namun, pemerintah masih perlu menyelesaikan kajian teknologi, regulasi, keselamatan, pendanaan, lingkungan, serta perlindungan hak masyarakat setempat.
Bandar Antariksa Biak dan program astronaut merupakan dua proyek berbeda.
Bandar antariksa berfokus pada fasilitas peluncuran, sedangkan program astronaut berhubungan dengan pelatihan manusia dan penerbangan berawak.
Kedua program tersebut tetap dapat memperkuat ekosistem teknologi antariksa Indonesia.
Hal ini jika pemerintah menjalankannya melalui strategi jangka panjang.
Peluang bagi riset dan industri Indonesia
Program astronaut dapat membuka akses Indonesia terhadap penelitian:
- mikrogravitasi
- teknologi satelit
- kedokteran antariksa
- komunikasi
- Pekayasa penerbangan.
Indonesia juga berpeluang memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan kemampuan SDM.
Seperti ilmuwan, dokter, insinyur, serta industri teknologi nasional.
Namun, pemerintah perlu menetapkan manfaat ilmiah yang jelas.
Program ini tidak cukup jika hanya mengejar status sebagai negara yang berhasil mengirimkan warganya ke luar angkasa.
Indonesia perlu memastikan adanya transfer teknologi, peningkatan kapasitas peneliti, dan manfaat langsung bagi industri nasional.
Saat ini, Rusia baru menyatakan kesiapan bekerja sama.
Indonesia masih harus menentukan apakah pembicaraan akan berlanjut menuju seleksi, pelatihan, dan penerbangan.
Jika kedua negara menyepakati program tersebut, astronaut Indonesia berpeluang mencatat sejarah baru.
Khususnya dalam perkembangan teknologi antariksa nasional.
















