- BMKG pada Rabu (2/9/2026) menetapkan sejumlah wilayah Jakarta dalam kategori Siaga kekeringan meteorologis pada awal September 2026.
- Pemprov DKI Jakarta menyiagakan 1.027 personel dan 29 mobil tangki air untuk mengantisipasi dampak kekeringan.
- Pemerintah mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air selama periode kemarau.
- Warga yang membutuhkan bantuan air bersih dapat menghubungi layanan darurat 112.
JAMLIMA.COM, JAKARTA – Ancaman kekeringan mulai menguat di sejumlah wilayah Jakarta pada awal September 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan terkait kondisi tersebut sejak Rabu (2/9/2026).
Dalam pemantauan terbarunya, BMKG bahkan menempatkan sejumlah wilayah di DKI Jakarta dalam kategori Siaga kekeringan meteorologis.
Wilayah tersebut meliputi Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, serta Kepulauan Seribu.
Kondisi ini muncul ketika musim kemarau masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia.
Karena itu, pemerintah meminta masyarakat mulai menggunakan air secara lebih efisien.
Pemprov DKI Jakarta juga meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekurangan air, kebakaran, dan dampak lain selama musim kemarau..
Jakarta Hadapi Puncak Musim Kemarau
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkirakan periode kemarau masih berlangsung pada September 2026.
Sebagai langkah antisipasi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin Apel Jaga Jakarta Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026.
Kegiatan berlangsung di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Pemprov DKI mengerahkan 1.027 personel dari berbagai unsur.
Personel tersebut berasal dari pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, PAM Jaya, PMI, relawan, dan unsur terkait lainnya.
Selain itu, pemerintah menyiapkan 29 mobil tangki air dari 10 instansi dan lembaga.
Armada tersebut dapat digunakan untuk membantu distribusi air bersih ke wilayah yang membutuhkan.
Pemerintah juga melakukan pemetaan kawasan rawan hingga tingkat kelurahan.
Pramono meminta seluruh jajaran tidak menunggu masalah muncul sebelum mengambil tindakan.
“Saya meminta jajaran untuk tidak menunggu masalah terjadi. Pastikan air bersih tersedia,” kata Pramono.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Masyarakat Diminta Hemat Air
Sementara itu, BMKG melihat kondisi kering semakin menguat pada awal September.
Musim kemarau masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia.
Meski peluang hujan lokal tetap ada, kondisi kering masih berpotensi berlangsung di beberapa daerah.
Karena itu, BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Selain kekeringan, risiko kebakaran juga perlu mendapat perhatian.
Masyarakat juga diimbau menghemat penggunaan air selama periode kemarau.
Langkah tersebut penting untuk menjaga ketersediaan air apabila kondisi kering berlangsung lebih panjang.
El Nino Perkuat Kekeringan
Kondisi kemarau juga berkaitan dengan perkembangan El Nino.
Pemantauan BMKG pada akhir Agustus 2026 menunjukkan indeks ENSO tiga bulanan berada pada kisaran 2,2.
Angka tersebut menunjukkan El Nino berada pada kategori sangat kuat.
Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sekitar positif 2,74 derajat Celsius.
BMKG sebelumnya memperkirakan El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Selain itu, Indian Ocean Dipole atau IOD positif juga dapat memperkuat kondisi kering pada September hingga Desember 2026.
Kombinasi tersebut dapat mengurangi peluang hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Status Siaga Kekeringan
Meski demikian, masyarakat perlu memahami arti status kekeringan meteorologis secara tepat.
Status tersebut menggambarkan kondisi curah hujan dan panjangnya periode tanpa hujan.
Karena itu, status Siaga tidak otomatis berarti seluruh Jakarta sedang mengalami krisis air bersih.
Namun, kondisi kering yang berlangsung lama dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air.
Risiko lebih besar dapat terjadi di wilayah yang masih memiliki keterbatasan jaringan air perpipaan.
Kawasan yang bergantung pada sumber air lokal juga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Karena itu, penghematan air menjadi langkah penting selama musim kemarau.
Kesiapan 29 Mobil Tangki Air
Pemprov DKI juga menyiapkan mekanisme bantuan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menyebut, warga dapat melaporkan kebutuhan air melalui layanan darurat 112.
Setelah menerima laporan, BPBD akan berkoordinasi dengan PAM Jaya.
Selanjutnya, pemerintah dapat menyalurkan air bersih ke wilayah yang membutuhkan.
Mekanisme tersebut telah disosialisasikan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Dengan langkah itu, pemerintah berharap distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
Picu Risiko Kebakaran Meningkat
Musim kemarau tidak hanya meningkatkan risiko kekurangan air.
Ancaman kebakaran juga perlu mendapat perhatian.
Sepanjang Juli hingga Agustus 2026, pemerintah mencatat ratusan kejadian kebakaran di Jakarta.
Sebagian besar kasus berkaitan dengan gangguan listrik dan kebakaran sampah.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan instalasi listrik tetap aman.
Warga juga diimbau tidak membakar sampah sembarangan.
Di sisi lain, penggunaan air perlu dilakukan secara efisien.
Langkah tersebut penting untuk menjaga cadangan air selama kondisi kering berlangsung.
Dengan status Siaga kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah, pemerintah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Penghematan air menjadi salah satu langkah paling sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.
Upaya tersebut penting untuk mengurangi risiko apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
















