Scroll untuk baca artikel
Lokal

Api Meluas di TPA Putri Cempo, 6 Hektare Terbakar dan 75 Warga Sempat Mengungsi

×

Api Meluas di TPA Putri Cempo, 6 Hektare Terbakar dan 75 Warga Sempat Mengungsi

Sebarkan artikel ini
Kebakaran TPA Putri Cempo Solo menghanguskan sekitar 6 hektare area sampah
KEBAKARAN TPA — Kepulan asap tebal menyelimuti kawasan TPA Putri Cempo di Mojosongo, Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, saat kebakaran masih berlangsung pada Jumat, (4/9/2026) malam. Area terdampak sekitar 6 hektare, 75 warga mengungsi. Pemerintah Kota Solo menetapkan tanggap darurat selama 14 hari sejak Kamis, (3/9/). (foto/thread)

  • Kebakaran TPA Putri Cempo di Mojosongo, Jebres, Solo, berlangsung sejak Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 18.00 WIB dan memasuki hari ketiga pada Jumat (4/9/2026) malam.
  • Area terdampak berkembang dari sekitar 2,17 hektare pada laporan awal menjadi sekitar 6 hektare yang mencakup Blok B, C, dan D.
  • Sebanyak 75 warga RW 39 Mojosongo sempat mengungsi akibat kepulan asap. Seluruh warga dilaporkan telah kembali ke rumah pada Jumat.
  • Pemkot Solo menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Pemadaman diperkuat dengan water bombing, sementara KLH menyebut gas metana sebagai salah satu faktor yang diduga memperbesar risiko kebakaran.

JAMLIMA.COM, SOLO – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo di Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, belum sepenuhnya padam hingga Jumat (4/9/2026) malam.

Kebakaran yang berlangsung sejak Rabu (2/9/2026) itu telah memasuki hari ketiga.

Api membakar gunungan sampah dan berkembang hingga mencakup Blok B, C, dan D.

Sekretaris Daerah Kota Solo Budi Murtono mengatakan luas area terdampak telah mencapai sekitar 6 hektare pada Kamis (3/9/2026).

Angka tersebut merupakan perkembangan dari laporan awal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB sebelumnya mencatat sekitar 2,17 hektare lahan terdampak pada Rabu malam.

Pada laporan awal itu, BNPB juga menyatakan tidak ada korban jiwa akibat kebakaran.

Kebakaran Bermula Rabu Petang

Kebakaran mulai diketahui sekitar pukul 18.00 WIB pada Rabu (2/9/2026).

Lurah Mojosongo Katarina Kartika Panca Chris Daryani menerima laporan kebakaran dari pengurus lingkungan setempat.

Laporan awal menyebut api muncul di kawasan Blok B dan kemudian berkembang ke sisi utara yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar.

Api selanjutnya merambat ke bagian lain gunungan sampah.

Tiupan angin serta material sampah yang kering membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.

Petugas gabungan kemudian melakukan penyekatan agar api tidak terus meluas ke kawasan permukiman.

BNPB mencatat petugas mengerahkan mobil pemadam, mobil tangki air, serta personel dari berbagai instansi sejak malam pertama.

Unsur BPBD, Damkar, TNI, Polri, PMI, Tagana, dan Dinas Lingkungan Hidup ikut terlibat dalam penanganan.

Luas Kebakaran Berkembang Menjadi 6 Hektare

Memasuki Kamis (3/9/2026), kebakaran berkembang ke tiga blok.

Sekda Solo Budi Murtono menyebut area yang terbakar berada di Blok B, C, dan D dengan luas keseluruhan sekitar 6 hektare.

“Kurang lebih 6 hektare,” kata Budi saat memberikan keterangan di TPA Putri Cempo, Kamis.

Petugas kemudian memusatkan upaya pada lokalisasi api.

Satu unit mobil pemadam juga disiagakan dekat permukiman sebagai langkah antisipasi jika api bergerak mendekati rumah warga.

75 Warga Sempat Mengungsi

Kepulan asap menjadi salah satu dampak paling terasa bagi warga di sekitar TPA Putri Cempo.

Kepala Pelaksana BPBD Solo Ari Dwi Daryatmo mengatakan sebanyak 75 warga RW 39 Mojosongo sempat mengungsi pada Kamis.

Warga ditempatkan di kawasan Kelurahan Mojosongo.

Jumlah warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian kemudian turun menjadi 15 orang pada malam hari.

Pada Jumat (4/9/2026), seluruh pengungsi dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing.

“Kalau kemarin ada 75 warga di RW 39 yang mengungsi,” kata Ari dalam konferensi pers, Jumat.

Meski warga telah kembali, pemantauan terhadap asap dan kualitas udara tetap dilakukan.

Kementerian Lingkungan Hidup juga menyiapkan sistem pemantauan kualitas udara bergerak atau mobile monitoring system.

Langkah tersebut dilakukan karena arah asap bergerak mengikuti angin dan tidak seluruhnya melewati stasiun pemantauan yang sudah tersedia di sekitar Solo.

Pemkot Solo Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari

Pemerintah Kota Solo kemudian meningkatkan penanganan dengan menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari.

Wali Kota Solo Respati Ardi mengumumkan keputusan itu pada Kamis (3/9/2026) malam setelah pemerintah melakukan evaluasi lapangan dan rapat koordinasi.

Status tersebut berlaku sejak 3 September 2026.

“Kita tetapkan tanggap darurat bencana alam selama 14 hari,” kata Respati.

Status tanggap darurat memberi ruang bagi pemerintah untuk memperkuat koordinasi antarlembaga.

Pemkot juga menambah dukungan personel serta peralatan untuk mempercepat pengendalian api.

BPBD, Damkar, Satpol PP, pemerintah kecamatan dan kelurahan bekerja bersama TNI, Polri, serta unsur lainnya di lapangan.

Helikopter Dikerahkan untuk Water Bombing

Pemadaman dari udara mulai dilakukan pada Jumat (4/9/2026).

Satu unit helikopter polisi dikerahkan untuk melakukan water bombing pada bagian gunungan sampah yang sulit dijangkau armada darat.

Helikopter mulai beroperasi sekitar pukul 10.00 WIB.

Pemadaman udara terutama diarahkan ke sisi timur TPA Putri Cempo.

ANTARA melaporkan Pemkot Solo mendapat dukungan helikopter dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta dalam operasi tersebut.

Operasi water bombing berlangsung hingga sekitar pukul 11.40 WIB.

Helikopter melakukan sekitar 14 kali penjatuhan air.

Air untuk operasi tersebut antara lain diambil dari Bengawan Solo.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo Indradi mengatakan tim gabungan masih berfokus pada Zona C dan D.

Hingga Jumat siang, perkembangan penanganan pemadaman disebut telah mencapai sekitar 40 persen.

Sebanyak 151 personel dan 15 unit mobil pemadam juga terlibat dalam operasi darat.

Menurut Indradi, karakter gunungan sampah serta perubahan arah angin menjadi tantangan utama.

“Ada tantangannya, dari karakteristik sampahnya, faktor cuaca, dan arah angin,” ujarnya.

Pantauan udara menggunakan drone menunjukkan sisi barat sudah tidak memperlihatkan titik api.

Namun, titik api dan kepulan asap masih ditemukan di bagian timur.

Karena itu, water bombing difokuskan pada wilayah yang sulit dijangkau mobil pemadam.

Hingga laporan terbaru Jumat sore, operasi pemadaman masih berlanjut dan kebakaran belum dinyatakan padam sepenuhnya.

KLH Soroti Gas Metana

Kementerian Lingkungan Hidup ikut turun memantau kondisi TPA Putri Cempo.

KLH menyoroti keberadaan gas metana di dalam timbunan sampah.

Staf Ahli Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya KLH Noer Adi Wardojo menjelaskan gas metana merupakan bahan yang mudah terbakar.

Namun, gas metana tidak sebaiknya ditulis sebagai penyebab tunggal kebakaran karena proses penentuan sumber awal api masih membutuhkan penyelidikan.

“Gas metananya, betul itu adalah salah satu penyebab kebakaran, bahan yang mudah terbakarnya,” kata Noer, Kamis (3/9/2026).

Menurut KLH, kondisi musim kemarau membuat permukaan tumpukan sampah semakin kering.

Material seperti plastik, tekstil, dan karton juga mudah terbakar jika terkena sumber api.

Kombinasi material kering, gas mudah terbakar, serta angin dapat membuat api cepat berkembang setelah muncul titik penyulutan.

Karena itu, penyebab awal kebakaran tetap perlu dibedakan dengan faktor yang membuat api berkembang.

BNPB dalam laporan awal juga masih mencatat penyebab kebakaran dalam proses penyelidikan.

Pernah Terbakar pada 2023

TPA Putri Cempo bukan pertama kali menghadapi kebakaran besar.

Kawasan tersebut juga pernah mengalami kebakaran pada 2023.

Saat itu, metode water bombing juga digunakan untuk membantu memadamkan gunungan sampah.

Kejadian berulang menunjukkan pentingnya pengendalian gas, pengelolaan timbunan, pemantauan titik panas, serta mitigasi kebakaran pada musim kering.

Untuk saat ini, prioritas pemerintah tetap memadamkan seluruh titik api, mengurangi paparan asap, serta menjaga agar kebakaran tidak menjalar ke permukiman warga.