Scroll untuk baca artikel
Nasional

Karhutla Menjalar ke TWA Galeget Tiawu, Rumah Orangutan di Kalteng Terancam

×

Karhutla Menjalar ke TWA Galeget Tiawu, Rumah Orangutan di Kalteng Terancam

Sebarkan artikel ini
Sherina Munaf membantu memadamkan karhutla di TWA Galeget Tiawu, Kalimantan Tengah
KARHUTLA KALTENG — Aktris dan penyanyi Sherina Munaf ikut membantu pemadaman karhutla di Taman Wisata Alam (TWA) Galeget Tiawu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (1/9/2026). (foto: ist)

  • Kebakaran hutan dan lahan melanda Taman Wisata Alam Galeget Tiawu di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.
  • TWA Galeget Tiawu merupakan kawasan konservasi seluas sekitar 10.585,10 hektare.
  • Lahan gambut membuat bara api bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan secara tuntas.
  • Kebakaran mengancam habitat orangutan, trenggiling, ular, serta satwa liar dilindungi lainnya.

JAMLIMA.COM, PULANG PISAU — Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda Taman Wisata Alam atau TWA Galeget Tiawu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Kawasan tersebut bukan hanya memiliki fungsi wisata.

TWA Galeget Tiawu juga merupakan kawasan konservasi yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, luas TWA Galeget Tiawu mencapai sekitar 10.585,10 hektare.

Sebagai kawasan konservasi, wilayah ini memiliki fungsi penting untuk melindungi ekosistem, keanekaragaman hayati, serta habitat berbagai satwa liar.

Bara Api di Bawah Gambut

Tim BKSDA Kalimantan Tengah bersama unsur terkait telah melakukan pemadaman selama beberapa hari.

Namun, kondisi lahan gambut membuat proses tersebut berjalan lebih sulit.

Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.

Bara dapat bertahan di bawah lapisan gambut dan kembali menyala ketika lahan mengering atau tertiup angin.

Karena itu, petugas harus melakukan pemadaman, pembasahan, dan pendinginan secara berulang.

“Api yang terlihat padam di permukaan dapat kembali muncul karena masih terdapat bara di bawah lapisan gambut,” demikian laporan mengenai kondisi kebakaran di kawasan tersebut yang dikutip Metro TV.

Hingga artikel ini ditulis, belum tersedia data resmi mengenai luas lahan yang terbakar khusus di dalam kawasan TWA Galeget Tiawu.

Karhutla Kalteng Meluas

Kebakaran di Galeget Tiawu terjadi ketika karhutla masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Berdasarkan laporan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah hingga 22 Agustus 2026, tercatat 19.992 titik panas dan 1.639 kejadian karhutla.

Luas lahan yang telah ditangani tim darat mencapai 4.499,21 hektare.

Sementara itu, analisis citra satelit Kementerian Kehutanan memperkirakan luas area terbakar mencapai 7.634,46 hektare.

Perbedaan angka tersebut terjadi karena metode pengukurannya tidak sama.

Data tim darat menghitung area yang telah ditangani petugas.

Sementara itu, citra satelit mendeteksi perubahan tutupan lahan dari pemantauan udara.

Karhutla juga meningkat pada Agustus 2026.

Dalam 18 hari pertama Agustus, tercatat 14.659 titik panas, 798 kejadian kebakaran, dan 2.824,42 hektare lahan terbakar.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa titik panas merupakan indikasi berdasarkan pemantauan satelit.

Setiap titik panas tetap harus diverifikasi di lapangan. Sebab, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas.

Habitat Orangutan Terancam

Karhutla di kawasan konservasi tidak hanya menghanguskan vegetasi.

Kebakaran juga menghilangkan sumber makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan satwa liar.

BKSDA Kalimantan Tengah menyatakan habitat satwa dilindungi ikut terdampak.

Orangutan berpotensi meninggalkan habitatnya untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Pergerakan tersebut dapat meningkatkan risiko konflik dengan manusia.

Karena, Orangutan yang keluar dari hutan bisa mendekati permukiman, kebun, atau wilayah lain yang menjadi ruang aktivitas warga.

“Habitat hewan dilindungi pastinya terdampak. Orangutan misalnya mencari tempat yang lebih aman,” kata Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pangkalan Bun BKSDA Kalimantan Tengah, Handi Nasoka.

Petugas juga menemukan satwa yang terdampak karhutla, termasuk ular dan trenggiling.

BKSDA mengimbau masyarakat tidak menangkap, mengejar, atau menyakiti satwa liar yang keluar dari habitatnya.

Warga diminta segera melaporkan temuan tersebut kepada petugas agar satwa dapat dievakuasi dan ditangani secara tepat.

Sherina Munaf Turun ke Lokasi

Aktris sekaligus penyanyi Sherina Munaf turut mendatangi lokasi karhutla di Kalimantan Tengah pada Selasa (1/9/2026).

Ia bergabung bersama BKSDA Kalimantan Tengah, Borneo Orangutan Survival Foundation, Dinas Kehutanan, KPHP Kahayan Tengah, pemadam kebakaran, relawan, serta mahasiswa Universitas Palangka Raya.

Sherina ikut membantu memadamkan bara dan melakukan pembasahan ulang di kawasan terdampak.

Ia juga merasakan langsung dampak kabut asap saat melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Palangka Raya.

“Bau asapnya itu sampai masuk ke dalam pesawat. Aku langsung otomatis pakai masker karena lama-lama gatal,” ujar Sherina dalam unggahan media sosialnya.

Kehadiran Sherina di lokasi turut menyoroti bahwa penanganan karhutla tidak berhenti setelah api di permukaan berhasil dipadamkan.

Lahan gambut tetap harus dibasahi dan dipantau untuk mencegah bara kembali menyala.

Penanganan Diperkuat

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.

Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, patroli udara, pendinginan, water bombing, serta operasi modifikasi cuaca.

Sekitar 10.700 personel gabungan dikerahkan untuk menangani karhutla di Kalimantan Tengah.

Personel tersebut berasal dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat.

Operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah berlangsung pada 26 Agustus hingga 5 September 2026.

Hingga 4 September, operasi tersebut mencatat sembilan sorti penerbangan dengan penggunaan sekitar 7.200 kilogram natrium klorida atau NaCl.

Pemerintah kemudian menjadwalkan perpanjangan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah pada 5–14 September 2026.

Asap Mengganggu Kualitas Udara

Karhutla juga menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Pada 22 Agustus 2026, Kasongan, Kuala Kurun, dan Buntok tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu, Palangka Raya, Sampit, dan Puruk Cahu berada dalam kategori tidak sehat.

Asap juga mengganggu jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.

Pada Senin (31/8/2026) pagi, jarak pandang di bandara tersebut tercatat sekitar 1,5 kilometer dalam kondisi berasap.

Kebakaran di TWA Galeget Tiawu memperlihatkan bahwa karhutla di kawasan wisata dapat berubah menjadi ancaman ekologis.

Api tidak hanya merusak pemandangan alam.

Karhutla juga mengancam lahan gambut, habitat satwa dilindungi, kualitas udara, serta keselamatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.