- ShinyHunters mengaku memperoleh data ribuan pegawai dan pelamar FBI setelah mengeksploitasi sistem berbasis Oracle PeopleSoft.
- Sampel sekitar 5.000 catatan telah beredar dan sebagian datanya menunjukkan kecocokan dengan identitas nyata.
- FBI mengonfirmasi sedang menyelidiki aktivitas tidak sah yang berdampak pada FBIjobs.gov.
- Klaim akses ke sistem internal, AWS GovCloud, dan pencurian data hingga 2–3 terabyte belum dikonfirmasi FBI.
JAMLIMA.COM, WASHINGTON — FBI menghadapi dugaan insiden keamanan siber setelah kelompok peretas ShinyHunters mengklaim berhasil mengambil data ribuan pegawai dan pelamar kerja lembaga federal Amerika Serikat itu.
ShinyHunters menyebut serangan bermula dari sistem berbasis Oracle PeopleSoft.
Kelompok tersebut mengaku kemudian memperoleh akses lebih luas dan mengekstraksi sejumlah besar data.
Namun, sejumlah bagian penting dari klaim itu masih belum terverifikasi.
FBI sejauh ini baru mengonfirmasi sedang menyelidiki aktivitas tidak sah yang memengaruhi FBIjobs.gov.
Lembaga tersebut belum menyatakan bahwa jaringan internal utama FBI berhasil ditembus.
Data 5.000 Orang Beredar
Perhatian terhadap kasus ini meningkat setelah ShinyHunters memperlihatkan sampel sekitar 5.000 catatan.
Data tersebut diklaim berkaitan dengan pegawai, agen, maupun individu yang terhubung dengan proses rekrutmen FBI.
Informasi di dalam sampel dilaporkan mencakup nama, nomor telepon, alamat, hingga sejumlah data pribadi lainnya.
Sebagian catatan kemudian diperiksa dengan membandingkannya terhadap sumber data lain.
Sejumlah informasi menunjukkan kecocokan dengan identitas orang yang tercantum.
Meski demikian, kecocokan tersebut belum membuktikan bahwa keseluruhan basis data berasal langsung dari jaringan internal FBI.
Asal data masih menjadi salah satu bagian utama yang harus dibuktikan dalam investigasi.
FBI Konfirmasi Investigasi
FBI telah menyatakan mengetahui dugaan aktivitas tidak sah yang berkaitan dengan FBIjobs.gov.
Lembaga itu kemudian memulai penyelidikan.
Situs rekrutmen FBI dan portal untuk calon agen khusus juga dilaporkan mengalami gangguan saat kabar serangan mulai beredar.
Namun, FBI belum menjelaskan apakah gangguan tersebut berkaitan langsung dengan penetrasi terhadap infrastruktur internal.
Belum ada pula konfirmasi resmi mengenai jumlah korban maupun volume data yang kemungkinan terekspos.
Karena itu, klaim ShinyHunters dan hasil investigasi FBI perlu dibedakan secara tegas.
ShinyHunters Sebut PeopleSoft
ShinyHunters mengklaim memanfaatkan kerentanan zero-day pada Oracle PeopleSoft sebagai pintu masuk.
Menurut kelompok tersebut, akses awal kemudian digunakan untuk bergerak menuju lingkungan sistem lain.
Mereka juga mengaku mampu mencapai infrastruktur AWS GovCloud yang berkaitan dengan FBI.
ShinyHunters bahkan menyebut volume data yang diperoleh mencapai sekitar 2 hingga 3 terabyte.
Namun, klaim mengenai zero-day, pergerakan ke AWS GovCloud, serta jumlah data tersebut belum mendapat verifikasi independen secara menyeluruh.
Oracle PeopleSoft sendiri sebelumnya memang menjadi sasaran eksploitasi kelompok siber.
Pada Juni 2026, Oracle merilis pembaruan keamanan untuk kerentanan CVE-2026-35273 pada PeopleSoft Enterprise PeopleTools.
Celah tersebut memiliki tingkat keparahan tinggi dan dapat dieksploitasi dari jarak jauh dalam kondisi tertentu.
ShinyHunters sebelumnya juga dikaitkan dengan kampanye yang menargetkan organisasi pengguna PeopleSoft.
Meski begitu, belum ada kepastian bahwa kelemahan yang sama digunakan dalam kasus FBI.
ShinyHunters justru mengklaim menggunakan zero-day yang berbeda.
Bukan Sekadar Pencurian Data
Kelompok itu juga mengaitkan aksinya dengan laporan keamanan siber FBI yang sebelumnya membahas metode operasi ShinyHunters.
ShinyHunters mengatakan aksinya tidak berorientasi pada keuntungan finansial.
Mereka justru menuntut FBI mengubah atau menarik laporan tertentu mengenai aktivitas kelompok tersebut.
Klaim motif itu tetap berasal dari ShinyHunters dan belum bisa diverifikasi secara independen.
Belum jelas pula apakah data yang diklaim telah dikuasai akan dipublikasikan atau digunakan untuk tujuan lain.
Risiko Lebih Luas
Kasus ini menjadi sensitif karena jenis data yang disebut berada dalam sampel tidak terbatas pada identitas dasar.
Informasi mengenai alamat rumah, keluarga, nomor kontak, hingga penugasan dapat menimbulkan risiko keamanan jika benar berasal dari personel penegak hukum.
Data semacam itu berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan identitas, phishing, rekayasa sosial, intimidasi, atau upaya menargetkan individu tertentu.
Dampaknya akan sangat bergantung pada dua hal.
Pertama, apakah data tersebut benar-benar berasal dari sistem FBI.
Kedua, seberapa besar jumlah informasi yang berhasil diperoleh.
Hingga investigasi selesai, klaim bahwa ShinyHunters membobol seluruh jaringan FBI atau mencuri 2–3 terabyte data belum dapat diperlakukan sebagai fakta terkonfirmasi.
Yang sudah dipastikan hingga kini adalah FBI sedang menyelidiki aktivitas tidak sah yang berkaitan dengan FBIjobs.gov.





































