- Militer Yaman mengklaim lebih dari 200 anggota Houthi tewas atau terluka dalam pertempuran di Provinsi Taiz, Rabu (14/10/2026).
- Pertempuran berlangsung di tiga garis depan, yakni Dhubab, Al-Aqrud, dan Al-Shaqab.
- Militer pemerintah melaporkan kerusakan kendaraan tempur dan jatuhnya pesawat nirawak milik Houthi.
- Eskalasi konflik menghambat bantuan bagi sekitar 800.000 warga Yaman dan meningkatkan tekanan terhadap fasilitas kesehatan.
JAMLIMA.COM, JAKARTA – Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali meningkat di Provinsi Taiz, barat daya Yaman.
Militer Yaman mengklaim lebih dari 200 anggota Houthi tewas atau terluka dalam bentrokan pada Rabu (14/10/2026).
Kantor berita Anadolu melaporkan klaim tersebut berdasarkan pernyataan Komando Militer Taiz atau Taiz Military Axis.
Namun, militer tidak merinci jumlah korban meninggal dan korban luka secara terpisah.
Hingga Kamis (15/10/2026), angka tersebut belum memperoleh verifikasi independen.
Pertempuran Houthi Meluas di Tiga Wilayah
Pasukan pemerintah melaporkan pertempuran sengit di Dhubab, wilayah barat Taiz.
Sementara itu, bentrokan juga berlangsung di Al-Aqrud dan Al-Shaqab, bagian selatan provinsi tersebut.
Dalam pertempuran itu, militer pemerintah mengklaim berhasil menghancurkan dan merusak sejumlah peralatan tempur Houthi.
Laporan militer menyebut satu kendaraan tempur hancur dan dua tank mengalami kerusakan.
Selain itu, pasukan pemerintah mengklaim menembak jatuh satu pesawat nirawak atau drone.
Mereka juga melaporkan penghancuran konvoi kendaraan bersenjata.
Meski demikian, belum tersedia konfirmasi independen mengenai seluruh kerugian tersebut.
Operasi Militer Dawn of Yemen Berlanjut
Pertempuran terbaru berlangsung ketika pemerintah Yaman melanjutkan operasi militer Dawn of Yemen.
Pemerintah meluncurkan operasi tersebut pada awal Oktober 2026 untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
Salah satu sasaran utamanya ialah ibu kota Sanaa, yang berada dalam penguasaan kelompok tersebut sejak 2014.
Pada 14 Oktober, militer pemerintah juga mengklaim telah melumpuhkan 1.250 anggota Houthi selama operasi berlangsung.
Juru bicara militer, Majed Abdullah al-Nazili, menyebut pasukannya melaksanakan 2.309 serangan menggunakan berbagai sistem persenjataan.
Menurut laporan Anadolu, militer mengklaim operasi itu mengganggu jalur pasokan dan pertahanan Houthi.
Namun, istilah dilumpuhkan tidak dapat langsung diartikan sebagai seluruhnya tewas.
Angka tersebut juga merupakan klaim kumulatif operasi, bukan tambahan korban dalam pertempuran 14 Oktober.
Pertempuran Memperburuk Krisis Kemanusiaan
Di tengah operasi militer, masyarakat sipil menghadapi dampak yang semakin berat.
Reuters melaporkan pada Rabu (14/10/2026) bahwa pertempuran menghambat bantuan kemanusiaan bagi sekitar 800.000 warga Yaman.
Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) menyatakan persediaan tepung gandum di Taiz hampir habis.
Lebih dari 600.000 penduduk kota tersebut membutuhkan bantuan, termasuk sekitar 200.000 anak.
Perwakilan WFP di Yaman, El-Khidir Daloum, memperingatkan bahwa hambatan distribusi dapat memperburuk keadaan.
Menurutnya, situasi berpotensi berkembang menjadi bencana kemanusiaan apabila bantuan tidak dapat menjangkau warga secara aman.
Sementara itu, fasilitas kesehatan menghadapi lonjakan pasien akibat pertempuran.
Komite Internasional Palang Merah atau International Committee of the Red Cross (ICRC) melaporkan tekanan berat pada rumah sakit di sejumlah garis depan.
Beberapa fasilitas bahkan menerima lebih dari 700 korban luka dalam satu pekan.
Rumah sakit juga menghadapi kekurangan obat, oksigen, anestesi, dan perlengkapan operasi.
Lebih dari 200.000 Warga Mengungsi
Dampak pertempuran tidak terbatas pada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Organisasi Internasional untuk Migrasi atau International Organization for Migration (IOM) melaporkan lebih dari 200.000 orang mengungsi dalam beberapa pekan terakhir.
Banyak keluarga meninggalkan rumah untuk menghindari pertempuran.
Namun, perpindahan penduduk meningkatkan kebutuhan tempat tinggal, pangan, air bersih, dan pelayanan kesehatan.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap sistem bantuan kemanusiaan Yaman.
Sebelumnya, pada 13 Oktober, militer pemerintah melaporkan sembilan serangan udara terhadap posisi Houthi di Taiz.
Lima serangan berlangsung di Al-Dhabab, sedangkan empat lainnya menyasar Distrik Al-Misrakh.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pertempuran telah berlangsung sebelum laporan korban terbaru muncul.
Konflik Yaman Belum Menunjukkan Tanda Mereda
Konflik Yaman berlangsung sejak Houthi menguasai Sanaa pada September 2014.
Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melakukan intervensi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.
Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 2022 sempat menurunkan intensitas pertempuran.
Namun, bentrokan kembali meningkat pada 2026.
Kini, pertempuran di Taiz menjadi bagian dari eskalasi militer yang lebih luas.
Di sisi lain, dampaknya terhadap warga sipil semakin mengkhawatirkan.
Hingga Kamis (15/10/2026), klaim lebih dari 200 anggota Houthi tewas atau terluka masih memerlukan verifikasi independen.
Sementara itu, lembaga kemanusiaan terus memperingatkan risiko memburuknya kondisi kesehatan dan ketersediaan pangan di Yaman.
Baca juga: Houthi Kuasai Titik Strategis Bab al-Mandab, Serangan Rudal dan Drone Tekan Arab Saudi





































