Scroll untuk baca artikel
InternasionalTeknologi

Ghost Shark Punya Taring, Australia Ungkap Kapal Selam Tanpa Awak Bersenjata

×

Ghost Shark Punya Taring, Australia Ungkap Kapal Selam Tanpa Awak Bersenjata

Sebarkan artikel ini
Kapal selam tanpa awak Ghost Shark Australia yang dirancang meluncurkan drone ALTIUS dan menyebarkan ranjau laut
GHOST SHARK - Kapal selam otonom Ghost Shark dikembangkan untuk mendukung pertahanan maritim Australia. Pemerintah mengungkap kemampuan membawa ranjau laut dan meluncurkan drone ALTIUS pada Senin (19/10/2026). (Foto: Ist/Jamlima.com)

  • Australia membuka tiga kemampuan persenjataan Ghost Shark pada Senin, 19 Oktober 2026.
  • Kapal selam otonom tersebut mampu menyebarkan hingga 12 ranjau laut dalam satu misi.
  • Ghost Shark dapat meluncurkan drone ALTIUS untuk pengintaian dan serangan udara.
  • Australia menyiapkan armada Ghost Shark melalui kontrak senilai 1,7 miliar dolar Australia.

JAMLIMA.COM, SYDNEY – Australia mengungkap kemampuan tempur Ghost Shark, kapal selam tanpa awak yang dirancang menjalankan operasi militer jarak jauh.

Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, memperkenalkan tiga jenis muatan baru di fasilitas Anduril Australia, Sydney, Senin (19/10/2026).

Ketiganya mencakup ranjau laut, drone udara bersenjata, dan perlengkapan logistik untuk operasi militer.

Pengumuman ini membuka rincian persenjataan Ghost Shark yang sebelumnya dirahasiakan pemerintah.

Ghost Shark Bisa Sebar 12 Ranjau Laut

Pat Conroy menjelaskan bahwa Ghost Shark mampu menyebarkan hingga 12 ranjau laut dalam satu misi.

Kemampuan tersebut memungkinkan Angkatan Laut Australia membatasi akses kapal lawan ke wilayah perairan strategis.

Selain ranjau, Ghost Shark dapat meluncurkan sejumlah drone ALTIUS dari bawah laut.

Drone tersebut mendukung pengintaian, pengawasan, dan serangan terhadap sasaran.

“Ghost Shark kini memiliki taring,” kata Conroy dalam konferensi pers, Senin (19/10/2026).

Pernyataan itu merupakan terjemahan dari ungkapan Ghost Shark now has teeth.

Conroy tidak mengungkap jumlah drone yang dapat diluncurkan sekaligus karena alasan keamanan operasi.

Teknologi Otonom untuk Misi Berbahaya

Ghost Shark merupakan kendaraan bawah laut otonom berukuran besar atau extra-large autonomous underwater vehicle (XL-AUV).

Kapal ini menggunakan sistem navigasi otonom tanpa menempatkan awak manusia di dalamnya.

Desain modular memungkinkan pengembang menyesuaikan muatan dengan kebutuhan operasi.

Selain persenjataan, Ghost Shark dapat menempatkan wadah logistik di dasar laut.

Perlengkapan tersebut dapat mendukung pasukan khusus yang beroperasi di wilayah sulit dijangkau.

CEO Anduril Australia, David Goodrich, menyebut Ghost Shark dirancang mengambil alih misi yang membosankan, kotor, dan berbahaya bagi pelaut.

Menurut Goodrich, teknologi ini dapat mengurangi risiko personel sekaligus memperluas kemampuan operasi Angkatan Laut Australia.

Australia Investasikan 1,7 Miliar Dolar

Pemerintah Australia menyiapkan 1,7 miliar dolar Australia untuk pengadaan armada Ghost Shark.

Anggaran tersebut menjadi bagian dari investasi hingga 5,8 miliar dolar Australia selama satu dekade.

Dana yang lebih besar mencakup pengembangan berbagai sistem peperangan bawah laut tanpa awak.

Program Ghost Shark melibatkan Anduril Australia, Angkatan Laut Australia, dan lembaga penelitian pertahanan.

Australia juga telah menerima unit awal untuk pengujian dan proses penerimaan.

Namun, pemerintah belum mengumumkan jumlah pasti kapal yang akan dioperasikan.

Teknologi Ghost Shark Diuji Bersama AUKUS

Australia membawa pengembangan sistem bawah laut otonom ke latihan Maritime Big Play Pacific di San Diego, Amerika Serikat.

Latihan berlangsung pada 5–25 Oktober 2026 dalam kerja sama AUKUS Pilar II.

Program tersebut melibatkan Australia, Amerika Serikat, dan Inggris.

Ketiga negara mengembangkan teknologi pertahanan bersama, termasuk sistem otonom dan perangkat bawah laut.

Selain Ghost Shark, Australia mengembangkan kendaraan tanpa awak Speartooth dan BlueBottle.

Pengembangan ketiganya mendukung pengawasan maritim, perlindungan infrastruktur bawah laut, dan operasi pertahanan.

Kapal Selam Tanpa Awak Ubah Strategi Perang Laut

Ghost Shark memperlihatkan perubahan strategi pertahanan laut menuju penggunaan sistem otonom.

Kapal selam berawak tetap menjalankan misi utama. Sementara itu, kendaraan tanpa awak dapat mengambil tugas berisiko tinggi.

Kemampuan meluncurkan drone juga memperluas operasi dari bawah laut menuju ruang udara.

Meski demikian, pengumuman persenjataan belum membuktikan seluruh kemampuan Ghost Shark telah teruji dalam pertempuran nyata.

Australia masih perlu memastikan keandalan sistem, integrasi senjata, dan kesiapan operasional.

Dengan teknologi tersebut, Australia berupaya memperkuat pertahanan maritim melalui kombinasi kapal selam berawak dan kendaraan otonom.


Baca juga: Jejak Perintah Militer Trump: Dari Serangan Yaman hingga Perang Besar AS-Iran