Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Ungkap Misteri Molekul Kiri-Kanan, Kagan dan Soai Raih Nobel Kimia 2026

×

Ungkap Misteri Molekul Kiri-Kanan, Kagan dan Soai Raih Nobel Kimia 2026

Sebarkan artikel ini
Henri B. Kagan dan Kenso Soai peraih Nobel Kimia 2026
NOBEL KIMIA — Henri B. Kagan dan Kenso Soai meraih Nobel Kimia 2026 atas penelitian mengenai efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Henri B. Kagan dan Kenso Soai meraih Nobel Kimia 2026 atas riset sintesis organik asimetris.
  • Kagan menemukan efek nonlinier yang mampu memperkuat dominasi salah satu bentuk molekul.
  • Soai menunjukkan kelebihan enantiomer 2 persen dapat meningkat menjadi 87 persen melalui autokatalisis.
  • Temuan mereka penting bagi kimia obat dan membantu menjelaskan bagaimana homochirality dapat muncul.

JAMLIMA.COM, STOCKHOLM — Henri B. Kagan dari Prancis dan Kenso Soai dari Jepang meraih Nobel Kimia 2026.

Royal Swedish Academy of Sciences mengumumkan penghargaan itu di Stockholm, Rabu, 7 Oktober 2026.

Akademi memberi Nobel kepada keduanya atas penemuan efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris.

Riset mereka menunjukkan bagaimana reaksi kimia dapat memperkuat salah satu dari dua bentuk molekul yang saling bercermin.

Molekul juga memiliki “kiri dan kanan”

Beberapa molekul memiliki dua bentuk yang menjadi bayangan cermin satu sama lain.

Ahli kimia menyebut pasangan itu enantiomer, sedangkan sifat tersebut disebut chirality atau kiralitas.

Komposisi atom keduanya sama. Namun, susunan tiga dimensinya berbeda.

Perbedaan kecil itu sangat penting ketika molekul berinteraksi dengan tubuh.

Protein, enzim, dan reseptor dapat merespons dua enantiomer dengan cara berbeda.

Karena itu, produsen obat perlu mengendalikan bentuk molekul yang dihasilkan.

Pemilihan satu enantiomer dapat meningkatkan ketepatan suatu senyawa saat berinteraksi dengan sistem biologis.

Fenomena tersebut juga muncul pada molekul kehidupan.

Protein menggunakan satu orientasi utama asam amino. Gula dalam DNA juga memiliki orientasi tertentu.

Dominasi satu “tangan” molekul ini disebut homochirality. S

elama lebih dari satu abad, ilmuwan berusaha memahami bagaimana dominasi itu dapat terbentuk.

Kagan menemukan efek nonlinier

Henri B. Kagan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan sintesis asimetris.

Pada 1986, Kagan dan tim menunjukkan bahwa hubungan antara komposisi katalis kiral dan produk tidak selalu berjalan lurus.

Dalam kondisi tertentu, ketidakseimbangan kecil pada katalis dapat menghasilkan dominasi salah satu enantiomer yang jauh lebih besar pada produk.

Fenomena itu kemudian dikenal sebagai non-linear effect.

Temuan Kagan mengubah cara ahli kimia memahami reaksi asimetris.

Efek tersebut juga membantu mereka mempelajari mekanisme katalis dan mengoptimalkan kemurnian produk.

Namun, satu pertanyaan tetap terbuka.

Bisakah sebuah reaksi memperkuat sendiri ketidakseimbangan molekul yang sangat kecil?

Soai membuat reaksi memperkuat dirinya sendiri

Kenso Soai menjawab pertanyaan itu melalui serangkaian eksperimen.

Pada 1995, Soai bersama Takanori Shibata, Hiroshi Morioka, dan Kaori Choji menerbitkan penelitian penting di jurnal Nature.

Mereka menggunakan 5-pyrimidyl alkanol dengan kelebihan salah satu enantiomer hanya sekitar 2 persen.

Reaksi tersebut kemudian memperbesar kelebihannya hingga 87 persen.

Produk kiral yang terbentuk ikut menjadi katalis untuk menghasilkan lebih banyak produk dengan orientasi serupa.

Proses itu disebut asymmetric autocatalysis.

Mekanismenya bekerja seperti umpan balik positif.

Ketika satu bentuk sedikit lebih dominan, bentuk tersebut membantu menghasilkan lebih banyak molekul dengan orientasi yang sama.

Ketimpangan kecil akhirnya berkembang menjadi dominasi besar.

Fenomena tersebut kemudian dikenal luas sebagai reaksi Soai.

Dari 0,00005 persen menjadi lebih dari 99,5 persen

Soai terus menyempurnakan eksperimennya.

Pada penelitian yang terbit pada 2003, timnya memulai proses dengan ketidakseimbangan kiral sekitar 0,00005 persen.

Setelah tiga siklus autokatalisis, kelebihan salah satu enantiomer meningkat menjadi lebih dari 99,5 persen.

Eksperimen itu menunjukkan bahwa perbedaan molekuler yang hampir tidak terukur dapat diperkuat menjadi dominasi hampir penuh.

Royal Swedish Academy of Sciences juga menjelaskan bahwa pengembangan lebih lanjut reaksi Soai dapat menghasilkan produk dengan dominasi satu enantiomer hingga sekitar 99,99 persen.

Penting bagi pengembangan obat

Dampak penelitian Kagan dan Soai tidak berhenti pada teori dasar.

Tubuh manusia merupakan lingkungan biologis yang sangat kiral.

Karena itu, dua bentuk molekul yang hampir sama dapat menghasilkan interaksi biologis berbeda.

Sintesis asimetris membantu ahli kimia mengarahkan reaksi menuju bentuk molekul yang diinginkan.

Sementara itu, efek nonlinier memberi informasi tentang mekanisme reaksi.

Pengetahuan itu membantu ilmuwan meningkatkan selektivitas dan kemurnian produk.

Royal Swedish Academy of Sciences menyebut teknik tersebut penting dalam produksi obat, perisa, aroma, bahan kimia pertanian, hingga sejumlah material baru.

Petunjuk untuk misteri kimia kehidupan

Riset Kagan dan Soai juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar.

Mengapa kehidupan menggunakan satu orientasi molekul dan bukan campuran seimbang keduanya?

Pada 1953, fisikawan Charles Frank mengusulkan model yang menunjukkan bahwa autokatalisis dapat memperkuat ketidakseimbangan kecil dalam sistem molekul kiral.

Kagan kemudian menunjukkan mekanisme penguatan melalui efek nonlinier.

Soai melengkapinya dengan reaksi autokatalitik asimetris yang dapat memperbanyak orientasi molekul tertentu.

Namun, penelitian tersebut tidak berarti ilmuwan telah mengetahui secara pasti bagaimana homochirality pertama kali muncul pada kehidupan purba.

Reaksi Soai merupakan sistem buatan yang berbeda dari kimia kehidupan.

Temuan itu menunjukkan salah satu mekanisme yang dapat menghasilkan dan memperkuat asimetri molekuler.

Dua ilmuwan berbagi Nobel Kimia 2026

Kagan lahir pada 1930 di Boulogne-Billancourt, Prancis. Ia meraih doktor dari Collège de France pada 1960 dan menjadi profesor emeritus di Université Paris-Sud.

Soai lahir pada 1950 di Hiroshima, Jepang. Ia meraih doktor dari University of Tokyo pada 1979 dan menjadi profesor emeritus Tokyo University of Science.

Keduanya akan menerima penghargaan dalam upacara Nobel di Stockholm pada 10 Desember 2026.

Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan wafat Alfred Nobel.

Nobel Kimia 2026 akhirnya menyoroti sesuatu yang tampak kecil, tetapi sangat mendasar.

Dari ketidakseimbangan molekul yang nyaris tidak terlihat, reaksi kimia dapat bergerak menuju dominasi satu bentuk.

Prinsip itu kini menghubungkan riset Kagan dan Soai dengan katalisis modern, pengembangan obat, dan salah satu misteri terbesar dalam kimia kehidupan.