- FAO memilih Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten sebagai dua dari 100 perempuan inspiratif sektor pangan dan pertanian dunia.
- Istiqamah mengembangkan kopi berkelanjutan melalui koperasi dengan 980 anggota dan lahan lebih dari 1.200 hektare.
- Rulyantina meningkatkan nilai ekonomi talas beneng melalui inovasi pengolahan minim limbah dan pemberdayaan perempuan.
- Penghargaan berlangsung di Roma, Italia, Kamis (15/10/2026), setelah FAO menyeleksi 609 nominasi dari 131 negara anggota.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Dua petani perempuan Indonesia meraih pengakuan dunia dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).
Mereka adalah Istiqamah asal Aceh dan Rulyantina asal Banten. Keduanya masuk daftar 100 Women Heroes in Agrifood Systems and Rural Development.
Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menyerahkan penghargaan dalam rangkaian World Food Forum di Roma, Italia, Kamis (15/10/2026).
FAO memilih 100 perempuan setelah menerima 609 nominasi dari 131 negara anggota.
Penghargaan tersebut mengakui kontribusi perempuan dalam pertanian, ketahanan pangan, inovasi, dan pembangunan ekonomi perdesaan.
Istiqamah Perkuat Koperasi Kopi Aceh
Istiqamah menjabat sekretaris koperasi kopi di Aceh. Koperasi tersebut memiliki 980 anggota yang mengelola lebih dari 1.200 hektare perkebunan.
Ia mendorong pertanian kopi berkelanjutan melalui sistem agroforestry atau wanatani.
Sistem ini menggabungkan budidaya tanaman dengan pengelolaan pepohonan untuk mendukung kelestarian lingkungan.
Selain menjaga produksi, Istiqamah memperjuangkan keterlibatan perempuan dalam rantai pasok kopi.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi sangatlah krusial,” ujar Istiqamah dalam keterangan yang dipublikasikan Jumat (16/10/2026).
Ia menilai petani perempuan membutuhkan akses setara terhadap pelatihan, teknologi, pembiayaan, dan pasar.
Menurutnya, pengakuan terhadap peran perempuan dalam koperasi juga penting untuk memperkuat ekonomi petani.
Rulyantina Kembangkan Talas Beneng Banten
Sementara itu, Rulyantina memperoleh penghargaan melalui inovasi pengolahan talas beneng.
Komoditas lokal Banten tersebut ia kembangkan menjadi produk bernilai tambah dengan konsep zero waste atau minim limbah.
Pendekatan ini bertujuan memanfaatkan bahan secara optimal sekaligus mengurangi limbah pengolahan.
Inovasinya turut membuka peluang usaha bagi perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di lingkungan saya, untuk memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” kata Rulyantina.
Ia berharap pemerintah daerah memperluas dukungan terhadap pengembangan komoditas lokal.
Dukungan tersebut meliputi pelatihan, permodalan, teknologi pengolahan, dan akses pasar.
FAO Ungkap Kesenjangan Petani Perempuan
Penghargaan ini menjadi bagian dari peringatan Tahun Internasional Petani Perempuan 2026.
FAO mencatat perempuan mencakup sekitar 41 persen tenaga kerja dalam sistem pangan dan pertanian global.
Meski demikian, perempuan masih menghadapi ketimpangan akses terhadap lahan, modal, pendidikan, dan teknologi.
Kesenjangan produktivitas lahan antara petani perempuan dan laki-laki mencapai 24 persen, bahkan pada lahan berukuran sebanding.
Sementara itu, pekerja perempuan dalam pekerjaan bergaji di sektor pangan dan pertanian rata-rata menerima 82 sen untuk setiap 1 dolar AS upah laki-laki.
FAO memperkirakan pengurangan kesenjangan gender dalam produktivitas dan upah berpotensi meningkatkan produk domestik bruto global hingga 1 triliun dolar AS.
Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang di seluruh dunia.
Dua Pendekatan Penguatan Pertanian Lokal
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menilai pencapaian kedua perempuan tersebut menunjukkan manfaat investasi pada petani perempuan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengapresiasi pengakuan internasional terhadap inovasi pertanian Indonesia.
Menurut Suwandi, peningkatan nilai tambah komoditas lokal dapat memperkuat kesejahteraan petani dan ekonomi perdesaan.
Kontribusi Istiqamah dan Rulyantina memperlihatkan dua pendekatan berbeda.
Istiqamah memperkuat kelembagaan petani dan keberlanjutan produksi kopi. Adapun Rulyantina mengembangkan pengolahan pangan lokal untuk membuka peluang pendapatan.
Kedua pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan posisi perempuan tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian.
Akses pasar, pengolahan hasil panen, dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan juga menentukan manfaat ekonomi yang diterima petani.
Pengakuan FAO menjadi kesempatan untuk memperluas perhatian terhadap inovasi pertanian berbasis masyarakat di Indonesia.































