- Dua lift tebing di Nizhuhe Grand Canyon, Qujing, China, membuat perjalanan anak ke sekolah jauh lebih cepat dan aman.
- Jalur yang sebelumnya ditempuh lebih dari tiga jam melalui tebing curam kini hanya membutuhkan sekitar 30 menit.
- Sistem “bus sekolah di langit” memadukan lift setinggi 268 meter dan 288 meter dengan kereta gantung.
- Pelajar dan warga Desa Nizhuhe serta Guanzhai dapat memakai fasilitas ini gratis, dengan jalur khusus pada jam sekolah.
JAMLIMA.COM, QUJING – Dua lift telah hadir di tebing Nizhuhe Grand Canyon, Kota Xuanwei, Qujing, Provinsi Yunnan, China.
Lift ini mengubah perjalanan berat anak-anak menuju sekolah.
Sebelum jalur ini ada, memerlukan lebih dari tiga jam dengan memanjat tebing.
Kini dapat ditempuh sekitar 30 menit melalui kombinasi lift vertikal dan kereta gantung tersebut.
Infrastruktur ini dikenal sebagai sky school bus atau “bus sekolah di langit”.
Kehadirannya menjadi solusi bagi pelajar dari Desa Nizhuhe di dasar lembah yang harus menuju Sekolah Dasar Guanzhai di bagian atas tebing.
Lokasinya berada di Qujing, Yunnan, bukan Chongqing.
Berangkat sekolah dulu harus memanjat tebing
Desa Nizhuhe berada di dasar Ngarai Nizhuhe, kawasan dengan perbedaan elevasi vertikal lebih dari 500 meter.
Sementara itu, sekolah anak-anak berada di area Guanzhai, di puncak tebing.
Sebelum infrastruktur dibangun, siswa harus melewati jalur sempit, licin, dan curam.
Mereka berjalan menapaki tangga batu, memanjat bagian tebing, serta melintasi medan lembah yang sulit.
Perjalanan satu arah dapat memakan waktu lebih dari tiga jam.
Kondisi itu tidak hanya menyita waktu belajar, tetapi juga menyimpan risiko keselamatan, terutama saat cuaca basah dan jalur menjadi licin.
Ada dua lift tebing dan satu jalur kereta gantung
Sistem transportasi tersebut kini terdiri atas dua lift tebing dan jalur kereta gantung di atas lembah.
Lift pertama bernama Qingyun Ladder atau “Tangga Awan Biru”.
Lift setinggi 268 meter ini mulai digunakan setelah proyek kawasan wisata Nizhuhe Grand Canyon beroperasi pada 2022.
Kemudian, lift kedua bernama Fuyao Ladder atau “Tangga Menjulang” resmi beroperasi pada akhir Juli 2026.
Lift terbaru ini memiliki tinggi 288 meter.
Kedua lift tersebut membawa penumpang dari dasar lembah menuju titik sambung kereta gantung.
Setelah itu, siswa melanjutkan perjalanan dengan gondola udara, menuju area yang lebih dekat dengan sekolah.
Kantor berita Xinhua melaporkan, perpaduan dua lift dan kereta gantung itu memangkas waktu perjalanan sekolah menjadi sekitar 30 menit.
Gratis untuk siswa dan warga desa
Fasilitas lift tebing serta kereta gantung diberikan tanpa biaya bagi pelajar dan warga dari Desa Nizhuhe maupun Desa Guanzhai.
Pemerintah setempat dan pengelola kawasan juga menyiapkan jalur khusus bagi siswa saat berangkat dan pulang sekolah.
Pada jam-jam tersebut, petugas dan polisi ditempatkan untuk membantu pengaturan perjalanan serta menjaga keamanan anak-anak.
Hingga akhir Juli 2026, sistem “bus sekolah di langit” tersebut dilaporkan telah mengantar hampir 1.000 perjalanan siswa secara aman.
Kapasitas naik, jalur siswa tak lagi terganggu wisatawan
Nizhuhe Grand Canyon juga merupakan kawasan wisata.
Ketika hanya satu lift beroperasi, tingginya kunjungan wisatawan berpotensi menyebabkan antrean dan mengganggu akses siswa.
Ketua perusahaan pengembang kawasan Nizhuhe Grand Canyon, Cai Xiong, mengatakan lift kedua membuat sistem lebih stabil, khususnya untuk kebutuhan warga sekaligus wisatawan.
Dengan dua lift beroperasi bersamaan, kapasitas angkut mencapai sekitar 1.200 orang per jam.
Dengan demikian, penambahan ini dinilai dapat mengurangi kepadatan pada musim kunjungan, termasuk menjaga jalur siswa tetap tersedia.
“Lift baru membuat jaminan layanan masyarakat lebih kuat dan pengelolaan wisata lebih tertib,” kata Cai Xiong.
Bukan sekadar proyek wisata
Pembangunan lift tebing dimulai pada 2020 melalui proyek ekowisata dan budaya Nizhuhe Grand Canyon.
Namun, fungsinya berkembang melampaui kebutuhan pariwisata.
Bagi keluarga di dasar lembah, infrastruktur itu membuat akses sekolah lebih cepat, lebih aman, dan lebih pasti.
Anak-anak tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktu pagi untuk menaklukkan jalur tebing sebelum masuk kelas.
Di sisi lain, akses yang semakin baik juga membuka peluang ekonomi bagi warga.
Sejumlah penduduk mengembangkan homestay, jasa pemandu, hingga penjualan produk lokal kepada wisatawan.
Dua lift tebing di Qujing memperlihatkan bahwa infrastruktur di wilayah terpencil dapat dirancang untuk melayani dua kebutuhan sekaligus.
Selain itu, memperkuat akses pendidikan dan mendorong ekonomi desa, tanpa mengabaikan keselamatan warga.
















