Scroll untuk baca artikel
Nasional

Ustazah Hajar Viral di TikTok Ternyata AI, Kemenag dan MUI Ingatkan Publik Jangan Berguru pada Mesin

×

Ustazah Hajar Viral di TikTok Ternyata AI, Kemenag dan MUI Ingatkan Publik Jangan Berguru pada Mesin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Ustazah Hajar viral di TikTok yang disebut sebagai karakter AI
USTAZAH HAJAR VIRAL — Sosok penceramah perempuan yang viral di TikTok menjadi sorotan setelah diketahui dibuat menggunakan teknologi AI. (foto/ilustrasi)

MUI juga menyoroti potensi kesalahan dalam konten AI, termasuk kemungkinan kekeliruan bacaan ayat, pemahaman dalil, atau penyampaian hukum agama. Jika kesalahan itu terjadi, publik akan kesulitan meminta pertanggungjawaban karena figur yang tampil bukan manusia nyata.

Meski demikian, MUI tidak menutup seluruh ruang pemanfaatan teknologi. Konten berbasis AI masih dapat digunakan secara terbatas jika memiliki rujukan yang jelas, pembuat yang transparan, dan materi yang diverifikasi oleh ulama atau ahli agama yang memiliki otoritas.

Pakar Ungkap Ciri Konten AI

Pemerhati budaya dan komunikasi digital, Firman Kurniawan, menilai sosok Ustazah Hajar memperlihatkan ciri khas konten buatan AI. Salah satu indikator yang ia soroti ialah pola suara yang terdengar sangat rapi, teratur, dan konsisten.

Dalam komunikasi manusia, seseorang biasanya memiliki jeda, perubahan tempo, atau momen berpikir ketika berbicara. Sementara itu, suara hasil AI sering terdengar terlalu lancar, stabil, dan minim variasi alami.

Firman juga menilai penggunaan AI semakin masif karena tiga faktor utama. Pertama, teknologi AI semakin murah dan banyak tersedia dalam layanan gratis. Kedua, penggunaannya semakin mudah sehingga orang tanpa keahlian teknis khusus dapat membuat konten AI. Ketiga, kualitas hasil AI semakin realistis sehingga publik semakin sulit membedakan figur nyata dan figur buatan mesin.


Baca juga: OpenAI Godok Perangkat Tanpa Layar, Tantang Dominasi Ponsel Pintar


 

Akuntabilitas Jadi Persoalan Utama

Fenomena Ustazah Hajar membuka perdebatan baru tentang akuntabilitas dalam dakwah digital. Masalah utamanya bukan semata-mata pada penggunaan AI, melainkan pada transparansi dan tanggung jawab atas isi konten.

Jika sebuah akun sejak awal menjelaskan bahwa figur yang tampil merupakan karakter AI, publik dapat menilai konten tersebut dengan lebih hati-hati. Namun, jika karakter AI dibiarkan tampil seperti manusia nyata tanpa keterangan yang jelas, pengguna media sosial berisiko keliru memahami identitas sumber informasi.