Scroll untuk baca artikel
Sehat

ISPA Musim Kemarau 2026: Data Terkini, Risiko Debu dan Asap, serta Cara Mencegahnya

×

ISPA Musim Kemarau 2026: Data Terkini, Risiko Debu dan Asap, serta Cara Mencegahnya

Sebarkan artikel ini
Pasien menjalani pemeriksaan gangguan pernapasan saat musim kemarau
KEMARAU DAN GANGGUAN PERNAPASAN - Pasien menjalani pemeriksaan gangguan pernapasan oleh dokter. Paparan debu, asap, dan udara kering selama musim kemarau dapat memicu atau memperburuk keluhan pada saluran pernapasan. (foto/ilustrasi)

  • BMKG mencatat 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim telah memasuki kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan rendah mendominasi 90,79 persen wilayah.
  • SKDR Kementerian Kesehatan menerima 10.276.178 laporan kasus ISPA hingga minggu ke-30 tahun 2026. Pelaporan ISPA melalui sistem berbasis indikator baru dimulai pada 2025.
  • Debu, asap kebakaran, dan PM2.5 dapat memicu peradangan, menurunkan fungsi paru, serta memperburuk asma. Meski demikian, batuk akibat iritasi tidak selalu berarti infeksi.
  • Masyarakat perlu memantau kualitas udara, membatasi aktivitas berat saat udara tidak sehat, memakai respirator yang pas ketika berasap, serta segera mencari pertolongan bila muncul sesak atau tanda bahaya.

JAMLIMA.COM, SEHAT –  Musim kemarau 2026 memperbesar paparan debu, asap, dan partikulat halus di sejumlah wilayah Indonesia.

Namun, cuaca kering tidak otomatis menyebabkan infeksi.

Virus dan bakteri tetap menjadi penyebab utama ISPA, sedangkan kualitas udara yang buruk dapat mengiritasi saluran napas, melemahkan pertahanannya, serta memperberat asma dan penyakit paru kronis.

Kemarau meluas, kualitas udara perlu diawasi

BMKG melaporkan sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim telah mengalami musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026.

Curah hujan kategori rendah mencakup 90,79 persen wilayah, sedangkan El Niño berintensitas sangat kuat ikut mengurangi pasokan uap air.

Kondisi kering tidak bekerja sendirian. Minimnya hujan mengurangi proses pencucian polutan dari atmosfer.

Angin juga lebih mudah menerbangkan debu dari tanah kering.

Selain itu, kebakaran hutan, pembakaran lahan, pembakaran sampah, emisi kendaraan, dan kegiatan industri menambah beban pencemar.

Pada pantauan pukul 07.00 WIB, Jumat (14/8/2026), BMKG menempatkan konsentrasi PM2.5 dalam kategori tidak sehat di beberapa wilayah di Indonesia.

Antara lain Bengkulu, Kubu Raya, Pekanbaru, Kemayoran, Musi 2 Palembang, Pesawaran, Semarang, dan Kota Jambi.

Nilainya berkisar 60,0–123,3 mikrogram per meter kubik. Data ini merupakan potret per jam dan dapat berubah mengikuti waktu serta lokasi.

Di Sulawesi Selatan, BMKG sebelumnya melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan pada 4–5 Agustus 2026.

Sementara itu, stasiun Maros Sulawesi Selatan mencatat PM2.5 sebesar 43,4 mikrogram per meter kubik atau kategori sedang pada pantauan 14 Agustus pukul 07.00 WIB.

Perbedaan itu menegaskan pentingnya memeriksa data lokal, bukan menilai kualitas udara hanya dari langit yang terlihat cerah.

Kemenkes mencatat lebih dari 10 juta laporan ISPA

Laporan Mingguan Kewaspasaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan M31 memuat data hingga minggu ke-30 per 8 Agustus 2026.

Sistem tersebut mencatat 10.276.178 laporan kasus ISPA di Indonesia.

Kemenkes juga menampilkan 930.208 kasus penyakit serupa influenza dan 525.854 kasus pneumonia sebagai kategori surveilans tersendiri.

Lima provinsi dengan laporan ISPA tertinggi ialah Jawa Barat sebanyak 1.784.153 kasus, Jawa Tengah 1.750.859 kasus, DKI Jakarta 1.202.855 kasus, Jawa Timur 965.663 kasus, dan Banten 613.916 kasus.

SKDR merupakan sistem kewaspadaan dan pelaporan penyakit, salah satu survei prevalensi yang memastikan setiap catatan mewakili satu penduduk unik.

Jumlah laporan juga dipengaruhi besarnya populasi, cakupan fasilitas pelapor, akses layanan, dan konsistensi pencatatan.

Selain itu, Kemenkes menyebut pelaporan ISPA melalui indicator-based surveillance SKDR baru berjalan sejak 2025.

Karena itu, data belum menyediakan rangkaian panjang yang cukup untuk membandingkan tren lintas tahun secara setara.

Kemenkes juga mencatat pola peningkatan ISPA nasional lebih sering muncul saat musim hujan atau cuaca lebih dingin.

Fakta ini penting karena angka 10,27 juta laporan tidak membuktikan bahwa musim kemarau telah menyebabkan seluruh kasus tersebut.

Mengapa udara kering dan polusi tetap berbahaya?

ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran napas dari hidung, sinus, tenggorokan, bronkus hingga paru.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa virus paling sering menyebabkan ISPA, meski bakteri juga dapat menjadi penyebab pada sebagian kasus.

Sementara itu, debu dan asap bukan kuman. Keduanya dapat mengiritasi lapisan saluran napas, memicu batuk dan radang, serta mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami keluhan pernapasan tanpa infeksi atau menjadi lebih rentan ketika terpapar patogen.

WHO menjelaskan bahwa polutan udara memicu stres oksidatif, peradangan, dan gangguan respons imun.

Paparan PM dalam kadar tinggi untuk waktu singkat dapat menurunkan fungsi paru, memperberat asma, dan berkaitan dengan infeksi pernapasan.

PM2.5 menjadi perhatian utama karena diameternya tidak lebih dari 2,5 mikrometer.

Partikel ini dapat mencapai bagian dalam paru dan sebagian dapat masuk ke aliran darah.

Asap kebakaran juga membawa campuran gas serta partikel yang dapat memicu batuk, iritasi mata dan tenggorokan, mengi, sesak, bahkan kebutuhan perawatan darurat pada kelompok rentan.

Penelitian laboratorium turut menjelaskan peran udara kering.

Studi pada sel epitel saluran napas manusia menunjukkan paparan udara yang semakin kering menipiskan lapisan mukus dan meningkatkan penanda peradangan.

Penelitian pada model tikus juga menemukan gangguan pembersihan mukosilier serta pertahanan antivirus pada kelembapan rendah.

Namun, hasil laboratorium tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa setiap kemarau menimbulkan infeksi pada manusia.

Risiko nyata bergantung pada kualitas udara, paparan kuman, kepadatan, ventilasi, status imunisasi, penyakit penyerta, kebiasaan merokok, dan perilaku individu.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya kondisi tubuh yang baik.

“Status kesehatan dan daya tahan tubuh yang baik akan membentengi kita terhadap berbagai kemungkinan penyakit, termasuk ISPA.” ujarnya, pada Minggu, 9 Agustus 2026

Ia juga meminta masyarakat membatasi aktivitas luar saat polusi tinggi dan memeriksakan diri jika keluhan tidak membaik.

Batuk saat kemarau tidak selalu berarti ISPA

Paparan debu atau asap dapat menimbulkan batuk kering, tenggorokan perih, mata pedih, atau mengi tanpa demam.

Keluhan biasanya berkaitan erat dengan waktu dan tempat paparan.

Gejala dapat mereda setelah seseorang berpindah ke lingkungan dengan udara lebih bersih.

Sebaliknya, ISPA dapat menimbulkan batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, nyeri otot, suara serak, lemah, dan penurunan nafsu makan.

Penularan dapat terjadi melalui partikel pernapasan, kontak dekat, atau tangan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, maupun mulut.

Kedua keadaan itu dapat tumpang tindih. Polusi juga dapat memperberat infeksi yang sudah terjadi.

Karena itu, dokter perlu menilai riwayat paparan, pola gejala, pemeriksaan fisik, penyakit penyerta, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan.

Kelompok yang paling perlu dilindungi

Risiko komplikasi lebih besar pada bayi dan balita, lansia, ibu hamil, orang dengan gangguan daya tahan tubuh, serta pasien asma, PPOK, penyakit jantung, dan diabetes.

Selain itu, Perokok aktif maupun pasif juga menghadapi risiko lebih tinggi.

Pekerja luar ruang, petugas pemadam, pengendara, dan warga yang tinggal dekat kebakaran atau sumber emisi mendapat paparan lebih besar.

Mereka perlu mengurangi durasi serta intensitas aktivitas ketika kualitas udara memburuk.

Tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis

Segera bawa pasien ke fasilitas kesehatan bila muncul salah satu tanda berikut:

  • sesak napas, napas cepat, atau tarikan dinding dada
  • bibir atau ujung jari tampak kebiruan
  • nyeri dada, mengi berat, atau kesulitan berbicara karena sesak
  • demam tinggi menetap, kesadaran menurun, atau kejang
  • sulit makan dan minum, muntah berulang, atau tanda dehidrasi
  • saturasi oksigen lebih rendah dari nilai biasanya, terutama pada pasien penyakit paru
  • gejala memburuk atau tidak membaik, khususnya pada bayi, lansia, ibu hamil, dan pasien dengan penyakit kronis.

Batuk lebih dari dua minggu, keringat malam, demam berulang, atau berat badan turun juga memerlukan pemeriksaan untuk menyingkirkan tuberkulosis dan penyebab lain.

Langkah pencegahan yang paling masuk akal

Pertama, pantau PM2.5 dan peringatan kualitas udara dari kanal resmi BMKG atau pemerintah daerah.

Nilai udara dapat berubah dalam hitungan jam.

Kedua, kurangi olahraga berat dan pekerjaan luar ruang ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Anak, lansia, ibu hamil, serta pasien jantung dan paru perlu lebih dulu mengurangi paparan.

Ketiga, gunakan masker yang pas. Saat kabut asap atau PM2.5 tinggi, WHO menyarankan respirator FFP2 atau N95 bila seseorang harus keluar rumah.

Respirator harus menutup hidung, mulut, dan dagu tanpa celah.

Masker medis tetap berguna untuk mengurangi penularan ketika seseorang sedang batuk atau pilek, tetapi perlindungannya terhadap asap lebih terbatas.

Keempat, ciptakan ruang dalam rumah dengan udara lebih bersih.

Tutup pintu dan jendela saat asap tinggi, gunakan AC pada mode sirkulasi ulang bila tersedia, serta manfaatkan penyaring HEPA.

Buka ventilasi ketika kualitas udara luar sudah membaik. Bersihkan debu dengan kain lembap dan hindari menyapu kering.

Kelima, hentikan sumber polusi di rumah. Jangan merokok di dalam ruangan.

Hindari membakar sampah, menggunakan obat nyamuk bakar berlebihan, atau menyalakan sumber pembakaran lain ketika udara luar sudah tercemar.

Keenam, jaga pertahanan tubuh melalui tidur cukup, aktivitas fisik sesuai kondisi, makanan bergizi, dan cairan yang cukup.

Pasien gagal jantung atau gangguan ginjal perlu mengikuti batas cairan dari dokter.

Ketujuh, cuci tangan, terapkan etika batuk, dan hindari berbagi alat makan ketika sakit. Dokter spesialis paru dr. Cempaka Nova mengingatkan, “Yang lebih kita galakkan lagi adalah cuci tangan menggunakan sabun,” dalam Dialog media elektronik.

Delapan, lengkapi imunisasi rutin anak. Kelompok yang memenuhi indikasi juga dapat berkonsultasi mengenai vaksin influenza, COVID-19, dan pneumokokus sesuai usia, kondisi medis, serta kebijakan yang berlaku.

Antibiotik terhadap infeksi Saluran Pernapasan

Sebagian besar infeksi saluran napas atas bersifat viral. Antibiotik tidak bekerja terhadap virus dan tidak mengatasi iritasi akibat debu atau asap.

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri dan harus digunakan berdasarkan resep.

Pasien dengan gejala ringan dapat beristirahat, mencukupi cairan sesuai kondisi medis, memakai cairan salin untuk hidung, dan menggunakan obat simptomatik sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Pasien asma atau PPOK perlu meneruskan obat pengontrol serta mengikuti rencana aksi dari dokter. Jangan menaikkan dosis inhaler, antibiotik, atau steroid sendiri.