- Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran setelah menyerukan “Free Palestine” di MetLife Stadium.
- Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga kemudian meninggalkan rangkaian tur.
- Macklemore menjanjikan US$1 juta untuk enam organisasi bantuan Palestina.
- Seniman Gaza membalas dukungannya melalui mural di tengah puing Gaza City.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Seruan “Free Palestine” yang disampaikan Macklemore di panggung konser Ed Sheeran berkembang menjadi gelombang solidaritas yang lebih luas.
Sejumlah musisi memilih meninggalkan rangkaian tur. Macklemore juga menjanjikan donasi US$1 juta untuk bantuan kemanusiaan Palestina.
Respons bahkan muncul dari Gaza. Seniman Palestina melukis wajah rapper Amerika Serikat itu di antara reruntuhan bangunan sebagai simbol terima kasih.
Bermula di MetLife
Kontroversi bermula saat Macklemore menjadi penampil pembuka Loop Tour Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey, pada 4 September 2026.
Di atas panggung, rapper peraih Grammy itu menyerukan “Free Palestine”.
Ia juga menyampaikan pesan kepada warga Gaza dan Tepi Barat bahwa mereka tidak dilupakan.
Sikap tersebut bukan pertama kali ia tunjukkan.
Macklemore sebelumnya merilis lagu protes Hind’s Hall pada 2024 dan berulang kali berbicara mengenai Palestina.
Penampilannya di MetLife kemudian memicu keberatan dari sejumlah organisasi dan pihak yang menilai konser telah berubah menjadi ruang politik.
Israeli American Council bahkan membuat petisi agar Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur.
Tekanan meningkat ketika sejumlah pemilik venue keberatan jika Macklemore tetap masuk daftar penampil.
Messina Touring Group selaku promotor akhirnya mengumumkan bahwa Macklemore tidak lagi tampil pada sisa jadwal tur.
Promotor menyebut keputusan itu diambil setelah berdiskusi dengan pemilik venue dan pihak terkait.
Musisi Mulai Mundur
Pencoretan Macklemore tidak meredakan kontroversi.
Sebaliknya, keputusan tersebut memicu reaksi dari musisi lain dalam rangkaian tur.
Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga memilih mundur dari jadwal mereka.
Finneas menilai seniman seharusnya tetap memiliki ruang untuk berbicara mengenai kelompok yang mereka anggap mengalami penindasan.
Lukas Graham juga menekankan pentingnya kebebasan berbicara mengenai perang, korban sipil, dan anak-anak.
Pengunduran diri itu mengubah persoalan yang awalnya terjadi di satu panggung menjadi perdebatan lebih luas tentang kebebasan berekspresi di industri musik.
Ed Sheeran Buka Suara
Ed Sheeran kemudian menegaskan bahwa pencoretan Macklemore bukan keputusan pribadinya.
Menurut dia, promotor dan pemilik venue mengambil keputusan akhir.
Sheeran mengatakan telah mencoba mencari jalan keluar, tetapi keputusan pihak venue bersifat final.
Pada konser di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Jumat malam, 19 September 2026, Sheeran akhirnya membahas kontroversi tersebut secara terbuka.
Ia mengecam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Namun, Sheeran juga menyebut kondisi di Gaza sebagai “catastrophic and unjustifiable”.
Ia menyinggung korban sipil serta situasi kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat.
Pernyataan itu menunjukkan posisi yang lebih kompleks daripada sekadar dukungan kepada salah satu pihak.
Sheeran mengecam serangan 7 Oktober sekaligus mengkritik skala penderitaan yang dialami warga Palestina.
Macklemore Janjikan US$1 Juta
Di tengah kontroversi tersebut, Macklemore mengalihkan perhatian publik ke bantuan kemanusiaan.
Ia menjanjikan US$1 juta dari pendapatan bersih tur untuk enam organisasi yang membantu warga Palestina.
Organisasi penerima antara lain Palestine Children’s Relief Fund, Medical Aid for Palestinians, dan UNRWA USA.
Dana tersebut akan mendukung layanan medis, bantuan pangan, serta respons darurat bagi warga terdampak konflik.
Langkah itu membuat isu Macklemore tidak berhenti pada perdebatan di panggung musik.
Solidaritas tersebut berubah menjadi dukungan finansial bagi organisasi kemanusiaan yang bekerja langsung di lapangan.
Mural di Tengah Puing
Respons paling simbolis kemudian datang dari Gaza.
Dua seniman Palestina, Anne Redwan dan Qusai al-Helo, melukis mural Macklemore di antara reruntuhan Gaza City.
Mural itu menggambarkan sang rapper dengan simbol Palestina dan tangan terangkat.
Para seniman membuat karya tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas sikap Macklemore.
Lokasinya membuat pesan mural semakin kuat.
Karya itu tidak berada di galeri atau festival, tetapi menempel pada bangunan yang rusak akibat perang.
Dari stadion Amerika Serikat, solidaritas itu akhirnya kembali ke Gaza melalui tembok yang masih tersisa.
Gerakan Meluas
Aksi Macklemore bukan satu-satunya bentuk solidaritas dunia seni terhadap Palestina sepanjang 2026.
Pada Januari, musisi Kanada Mustafa menggelar Artists for Aid di Los Angeles.
Konser tersebut menghadirkan Shawn Mendes, Daniel Caesar, Lucy Dacus, Clairo, Chappell Roan, dan sejumlah musisi lain.
Acara itu mengumpulkan sekitar US$5,5 juta.
Dana dibagi untuk Palestine Children’s Relief Fund dan Sudanese American Physicians Association.
Di Tepi Barat, Ramallah Festival for Contemporary Arts juga kembali setelah vakum sekitar dua tahun.
Festival tersebut memperluas program dari pertunjukan tari menjadi berbagai bentuk seni kontemporer.
Penyelenggara mengusung slogan “We carry on” untuk menandai keberlanjutan kehidupan budaya di tengah situasi keamanan yang sulit.
Sementara itu, PalArt Festival 2026 dijadwalkan berlangsung di London mulai 23 September hingga awal Oktober.
Festival tersebut menghadirkan musik, teater, dan karya seniman Palestina.
Salah satu program utamanya, Return to Palestine, akan dibawakan The Freedom Theatre dan PalArt Collective pada 30 September hingga 3 Oktober.
Solidaritas Sampai Indonesia
Gerakan serupa juga terlihat di Indonesia.
Stand with Palestine digelar di M Bloc Space, Jakarta, pada 21 Juni 2026.
Acara tersebut memadukan diskusi, komedi, seni visual, dan pertunjukan musik.
Penyelenggara menyatakan seluruh pendapatan tiket disalurkan untuk Palestina.
Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa solidaritas melalui seni tidak lagi berhenti pada simbol.
Musisi menggunakan panggung untuk menyampaikan sikap.
Sebagian memilih keluar dari tur sebagai bentuk protes.
Konser amal mengubah dukungan publik menjadi bantuan jutaan dolar.
Sementara di Gaza, para seniman membalasnya dengan cara yang sederhana tetapi kuat.
Mereka melukis wajah Macklemore di antara puing bangunan.
Dari satu seruan “Free Palestine” di New Jersey, gelombangnya bergerak melampaui panggung dan kembali ke Gaza dalam bentuk mural, donasi, dan solidaritas lintas negara.





































