Scroll untuk baca artikel
Internasional

Jepang Murka, Marinir AS Diduga Rampok dan Bunuh Perempuan di Okinawa

×

Jepang Murka, Marinir AS Diduga Rampok dan Bunuh Perempuan di Okinawa

Sebarkan artikel ini
Pejabat Jepang terkait protes kasus Marinir AS di Okinawa
PROTES JEPANG - Pemerintah Jepang melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat setelah seorang Marinir AS ditangkap terkait dugaan perampokan dan pembunuhan perempuan di Okinawa. (Foto: Ist/Jamlima.com)

  • Marinir AS Devin Jacob Ballard ditangkap atas dugaan merampok dan membunuh Anna Yagi, 39 tahun.
  • Peristiwa terjadi di sebuah hotel di Naha, Okinawa, pada Sabtu, (3/10/2026).
  • Ballard membantah tuduhan dan belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan.
  • Jepang melayangkan protes keras dan meminta AS bekerja sama penuh dalam penyelidikan.

JAMLIMA.COM, JAKARTA —  Jepang melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat setelah polisi menangkap seorang Marinir AS atas dugaan merampok dan membunuh seorang perempuan di Okinawa.

Polisi menangkap Lance Corporal Devin Jacob Ballard, 20 tahun, pada Minggu, (4/10/2026).

Ballard bertugas di Marine Corps Air Station Futenma sebagai bagian dari III Marine Expeditionary Force.

Perempuan 39 Tahun Ditemukan Meninggal

Korban bernama Anna Yagi, perempuan Jepang berusia 39 tahun.

Polisi menduga Ballard membunuh Yagi di sebuah hotel di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa, pada Sabtu, (3/10).

Selain itu, polisi menduga Ballard mengambil dompet dan tas punggung milik korban.

Ballard membantah tuduhan tersebut dan belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan.

Kamera Pengawas Jadi Petunjuk

Rekaman kamera pengawas membantu polisi mengungkap kasus tersebut.

Rekaman itu memperlihatkan korban memasuki hotel bersama seorang pria. Tak lama kemudian, pria tersebut meninggalkan lokasi seorang diri sambil membawa sejumlah barang.

Petugas hotel menemukan Yagi setelah korban tidak melakukan check-out.

Polisi kemudian melacak pria dalam rekaman itu dan menemukan Ballard di Okinawa City. Setelah itu, polisi Jepang menahannya untuk menjalani proses hukum.

Jepang Layangkan Protes Keras

Kasus tersebut segera memicu reaksi pemerintah Jepang.

Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa Jepang memandang perkara itu dengan sangat serius.

Pada 4 Oktober, Koizumi memanggil Komandan Pasukan AS di Jepang dan menyampaikan protes secara langsung.

Tokyo meminta AS bekerja sama penuh dalam penyelidikan, memperketat disiplin, serta mencegah kejadian serupa.

Koizumi juga menyatakan “kemarahan yang kuat” dan menegaskan bahwa kejadian seperti itu tidak boleh terulang.

Takaichi Ikut Bereaksi

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi turut menyampaikan protes kepada Amerika Serikat.

Ia mengecam dugaan kejahatan tersebut dan meminta Washington bekerja sama penuh dalam penyelidikan.

Jepang juga menuntut AS memperkuat disiplin terhadap personelnya.

Dengan demikian, kasus Naha berkembang dari perkara kriminal lokal menjadi persoalan diplomatik antara Tokyo dan Washington.

AS Janji Bekerja Sama

Pemerintah dan militer AS menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Duta Besar AS untuk Jepang George Glass juga menjanjikan kerja sama dengan otoritas Jepang.

Korps Marinir AS mengonfirmasi bahwa Ballard merupakan anggota Marinir yang ditempatkan di Okinawa.

AS menyatakan memandang serius tuduhan tersebut. Namun, otoritas Jepang menangani proses pidana terhadap Ballard.

Jepang Punya Hak Utama Mengadili

Japan-US Status of Forces Agreement atau SOFA mengatur yurisdiksi terhadap personel militer AS di Jepang.

Pasal XVII memberikan kewenangan kepada Jepang untuk menangani tindak pidana yang dilakukan personel AS dan dapat dihukum berdasarkan hukum Jepang.

Untuk perkara yang tidak berkaitan dengan tugas resmi militer, Jepang memiliki hak utama untuk menjalankan yurisdiksi.

Ballard kini berada dalam tahanan Jepang dan menjalani proses hukum di negara tersebut.

Kasus ini kembali menempatkan perilaku personel militer AS di Okinawa dalam sorotan internasional.