Scroll untuk baca artikel
Internasional

Trump Prediksi Perang AS-Iran Berakhir Usai Pemilu Sela, tetapi Militer AS Justru Bertambah

×

Trump Prediksi Perang AS-Iran Berakhir Usai Pemilu Sela, tetapi Militer AS Justru Bertambah

Sebarkan artikel ini
Donald Trump terkait perang AS-Iran menjelang pemilu sela 2026
PERANG AS-IRAN. Presiden AS Donald Trump memprediksi perang dengan Iran dapat berakhir setelah pemilu sela 2026. Namun, Washington masih memperkuat militernya di Timur Tengah. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Trump memprediksi perang AS-Iran berakhir setelah pemilu sela November 2026, bahkan mungkin lebih cepat.
  • Washington dan Teheran masih berkomunikasi tidak langsung melalui mediator Qatar.
  • AS menambah kekuatan militernya di Timur Tengah saat opsi serangan baru tetap terbuka.
  • Konflik masih menekan pasar energi dan menjaga Selat Hormuz sebagai titik kritis perdagangan global.

JAMLIMA.COM, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengaitkan akhir perang dengan Iran dengan pemilu sela AS pada November 2026.

Trump memperkirakan perang dapat berakhir setelah pemilu. Bahkan, ia membuka peluang konflik selesai lebih cepat.

Namun, perkembangan terbaru belum menunjukkan kepastian tersebut.

AS justru memperkuat militernya di Timur Tengah. Pada saat yang sama, mediasi Qatar belum menghasilkan kesepakatan akhir.

Trump: Bisa Selesai Setelah Pemilu

Trump menyampaikan prediksi itu secara tegas pada 9 September 2026.

Ia mengatakan perang kemungkinan berakhir segera setelah pemilu sela AS.

“Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga menuding Iran berusaha memengaruhi dinamika politik menjelang pemilu.

Namun, pernyataan itu masih berupa prediksi. Belum ada kesepakatan Washington-Teheran yang menetapkan perang berakhir setelah pemilu.

Pemilu sela AS berlangsung pada November 2026.

Pemilu tersebut menentukan seluruh kursi DPR dan sekitar sepertiga kursi Senat.

Perang Iran juga mulai menjadi isu politik domestik. Sejumlah kandidat Partai Republik di daerah kompetitif mendesak konflik segera diakhiri.

Trump Kembali Bicara Akhir Perang

Memasuki Oktober, Trump kembali mengatakan Iran berada dalam tekanan berat.

Pada 1 Oktober, ia menyebut Iran “siap menyerah”.

Trump mengatakan AS dapat memenangkan perang setelah pemilu. Namun, ia juga membuka kemungkinan perang selesai sebelum pemungutan suara.

Pernyataan itu muncul ketika konflik telah berjalan sekitar tujuh bulan.

Meski demikian, Teheran belum menerima seluruh tuntutan Washington.

Iran juga menyiapkan respons lebih luas jika AS kembali melancarkan serangan besar.

Karena itu, pernyataan Trump belum dapat dibaca sebagai jadwal resmi berakhirnya perang.

Diplomasi Masih Berjalan

Di balik ketegangan militer, jalur diplomasi tetap terbuka.

Qatar terus menjadi mediator antara Washington dan Teheran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed bin Mohammed Al Ansari mengatakan Doha terus berupaya mempertemukan posisi kedua pihak.

“Upaya untuk mengadakan pertemuan dan memfasilitasi pertukaran pesan antara kedua pihak terus berlangsung,” kata Al Ansari pada 29 September.

Sebelumnya, AS dan Iran juga menggelar pembicaraan terpisah dengan mediator.

Perundingan itu membahas proposal tujuh hari yang diajukan Iran untuk membangun kepercayaan.

Namun, perbedaan kepentingan masih lebar.

Pejabat Iran menilai peluang mencapai kesepakatan tetap rendah.

Tawaran Iran Belum Puaskan Trump

Trump juga menolak proposal gencatan senjata terbaru Iran.

Ia menilai tawaran tersebut belum memenuhi tuntutan Washington.

Pada saat yang sama, Trump tetap membuka kemungkinan AS kembali menggunakan kekuatan militer.

Iran mengambil posisi berbeda.

Teheran tetap mendorong penyelesaian diplomatik, tetapi menyiapkan skenario balasan jika serangan besar kembali terjadi.

Kondisi itu memperlihatkan dua jalur berjalan bersamaan.

Diplomasi tetap berlangsung, sementara persiapan militer juga meningkat.

AS Tambah Ribuan Personel

Washington memperkuat pasukannya di kawasan.

Militer AS mengirim sekitar 9.000 personel melalui kelompok kapal menuju Timur Tengah.

Pengerahan mencakup USS Theodore Roosevelt Carrier Strike Group dan kelompok amfibi USS Makin Island.

Jika pengerahan selesai, AS dapat memiliki tiga kelompok kapal induk di kawasan.

Penambahan kekuatan berlangsung ketika Trump masih mempertimbangkan opsi serangan baru terhadap Iran.

Perkembangan ini belum sejalan dengan narasi bahwa perang segera berakhir.

Washington tetap mempertahankan kemampuan untuk melakukan eskalasi jika diplomasi gagal.

Senat Tolak Pembatasan Perang

Konflik Iran juga memicu perdebatan di Kongres.

Senat AS pada 24 September menolak resolusi untuk membatasi kewenangan Trump dalam perang Iran.

Resolusi itu didorong senator Demokrat dan mendapat dukungan sebagian senator Republik.

Namun, jumlah suara tidak cukup untuk meloloskannya.

Perdebatan tersebut menunjukkan perang Iran semakin terkait dengan agenda politik menjelang pemilu sela.

Harga Minyak Tetap Tertekan

Dampak perang juga terlihat di pasar energi.

Pada 9 September, harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel.

Pasar merespons eskalasi pertempuran dan risiko gangguan pasokan melalui Teluk serta Selat Hormuz.

Pada 1 Oktober, Brent ditutup pada US$102,31 per barel setelah melonjak lebih dari 4 persen.

Investor kembali mencermati kemungkinan eskalasi dan pengerahan militer AS.

Survei Reuters juga menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent 2026 menjadi US$89,05 per barel.

Gangguan ekspor Teluk menjadi salah satu faktor utama.

Selat Hormuz Tetap Kritis

Selat Hormuz masih menjadi titik penting dalam konflik.

Sebelum perang, jalur ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan LNG dunia.

Ekspor minyak mentah Timur Tengah pada September mencapai sekitar 16,33 juta barel per hari.

Volume itu menjadi level tertinggi sejak perang pecah pada Februari.

Namun, jumlahnya masih sekitar 3,2 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum konflik.

Pengiriman LNG melalui Hormuz juga mencapai level bulanan tertinggi sejak perang dimulai.

Meski demikian, risiko keamanan belum hilang.

Pada awal Oktober, sebuah tanker minyak mentah dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di sebelah timur Oman.

Seluruh awak dilaporkan selamat.

Dampak Masuk ke Ekonomi AS

Perang dan kenaikan harga energi ikut menekan ekonomi domestik Amerika Serikat.

Kepercayaan konsumen AS pada September turun ke level terendah dalam sekitar 12,5 tahun.

Indeks Conference Board turun menjadi 81,9 dari 88,6 pada Agustus.

Kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja, harga energi, dan biaya hidup ikut membebani rumah tangga.

Situasi tersebut membuat perang Iran semakin relevan dalam pemilu sela.

Namun, hubungan politik itu tidak membuktikan perang otomatis selesai setelah pemungutan suara.

Belum Ada Tanggal Akhir Perang

Hingga awal Oktober 2026, belum ada kesepakatan final yang menentukan kapan perang AS-Iran berakhir.

Washington dan Teheran masih mempertahankan jalur diplomasi.

Qatar juga terus menjalankan mediasi.

Namun, kedua pihak tetap menyiapkan opsi militer.

AS memperkuat pasukannya di kawasan. Iran juga menyiapkan balasan lebih besar jika serangan kembali terjadi.

Karena itu, pernyataan Trump bahwa perang dapat selesai setelah pemilu sela tetap merupakan prediksi politik dan strategis.

Akhir konflik masih bergantung pada hasil diplomasi, keputusan militer kedua pihak, serta perkembangan keamanan di kawasan Teluk.