- Mpu Agung Suhartanto meraih penghargaan LEPRID atas karya batik tutup celup yang membentuk kesan dimensi ruang.
- Pameran MENEROKA — Perjalanan Elemen Nusantara menampilkan 100 karya yang dibuat pada periode 2016–2020.
- Agung memanfaatkan pencelupan berulang, gradasi warna, serta gelap-terang untuk menciptakan kesan volume pada kain.
- Eksplorasi batik kontemporer Agung telah berkembang selama bertahun-tahun dengan tetap mempertahankan teknik tradisional.
JAMLIMA.COM, YOGYAKARTA — Mpu Agung Suhartanto mengembangkan teknik batik tutup celup untuk menghadirkan kesan dimensi ruang pada bidang kain dua dimensi.
Inovasi tersebut mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID) saat pembukaan pameran MENEROKA — Perjalanan Elemen Nusantara, Sabtu (26/9/2026).
LEPRID mencatat karya itu dalam kategori “Mahakarya Batik dengan Teknik Tutup Celup untuk Membentuk Dimensi Ruang atau Dimensi Ketiga dalam Karya Batik Dua Dimensi Pertama di Indonesia”.
Penghargaan diberikan kepada Mpu Agung sebagai pencipta karya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan juga menerima penghargaan sebagai inspirator pameran.
Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka menyerahkan penghargaan tersebut di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.
Teknik klasik membangun dimensi
Keunikan karya Agung terletak pada pengolahan teknik tutup celup untuk menghasilkan gradasi, pencahayaan, volume, dan kedalaman visual.
Teknik itu tetap menggunakan malam sebagai perintang warna sebelum kain menjalani proses pencelupan secara bertahap.
Proses pewarnaan dapat dilakukan berulang untuk menghasilkan komposisi warna yang semakin kompleks.
Agung kemudian memanfaatkan lapisan warna serta permainan gelap-terang untuk membangun kesan ruang pada kain.
Jejak teknik tersebut telah terlihat dalam karya “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang tampil pada Pameran Besar Seni Kriya UNDAGI 2016.
Karya berukuran 300 x 150 sentimeter itu menggunakan batik tulis, teknik tutup celup, napthol, dan indigosol.
Prosesnya melibatkan pelorodan dan pencelupan berulang untuk membentuk warna panas maupun dingin.
Satu warna bahkan dapat melalui empat hingga enam kali pencelupan untuk mencapai intensitas yang diinginkan.
Teknik tersebut membantu menciptakan pencahayaan dan volume pada objek.
Eksplorasi serupa muncul dalam karya “Berkembang Melintasi Jaman” dengan permainan warna yang lebih bebas dibanding pola batik klasik.
Gradasi menjadi karakter karya
Sejumlah kajian akademik ISI Yogyakarta juga mencatat karya Agung sebagai referensi pengembangan gradasi warna dalam batik.
Karya “Karapan Sapi Madura”, misalnya, menggunakan teknik tutup celup dan isen untuk membangun gradasi serta perbedaan gelap-terang.
Eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan visual Agung berkembang melalui proses panjang sebelum memperoleh penghargaan LEPRID pada 2026.
Agung juga memiliki latar pendidikan Batik dan Fashion serta Kriya Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Pada 2017, tugas akhirnya menggabungkan burung cenderawasih, bunga sepatu, dan motif batik klasik dalam rancangan busana malam.
Kemudian pada 2020, Agung mengembangkan “Biota Laut dalam Karya Batik Kontemporer” melalui 11 karya instalasi berbentuk panel.
Hadirkan 100 karya dalam MENEROKA
Pameran MENEROKA — Perjalanan Elemen Nusantara menghadirkan 100 karya yang dibuat sepanjang 2016–2020.
Karya tersebut mengangkat budaya, sejarah, lingkungan, flora, fauna, serta kehidupan masyarakat Nusantara.
Agung juga memasukkan motif klasik dari berbagai daerah, termasuk unsur visual Kalimantan hingga Papua.
Ia mempertahankan isen-isen dan ornamen tradisional sambil mengolah bentuk yang lebih kontemporer.
“Saya ingin mengembalikan esensi itu, tetapi dengan warna dan bentuk baru yang relevan dengan anak muda,” kata Mpu Agung.
Karakter populer seperti Doraemon dan Spider-Man turut masuk dalam eksplorasi visualnya.
Namun, Agung tetap mempertahankan proses batik tulis menggunakan canting dan teknik tutup celup.
Libatkan 24 perajin
Pengerjaan 100 karya tersebut melibatkan 24 perajin selama sekitar enam tahun.
Beberapa karya memiliki ukuran panjang hingga sekitar 10 meter.
Proses pengerjaan mencakup pengolahan kain, pencantingan, penggunaan malam, pewarnaan, pencelupan berulang, hingga pelorodan.
Tahapan tersebut menjadi dasar terciptanya gradasi yang membuat objek terlihat memiliki volume dan kedalaman.
Pameran itu juga mengenang mendiang Prof. Dharsono Sony Kartika yang mendampingi perjalanan artistik Agung pada periode 2016–2020.
Batik sebagai warisan yang terus berkembang
Eksperimen Agung berkembang dalam tradisi batik Indonesia yang masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO sejak 2009.
UNESCO menilai teknik, simbolisme, dan budaya batik menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.
Indonesia kemudian menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.
Sementara itu, Yogyakarta memperoleh pengakuan sebagai Kota Batik Dunia dari World Craft Council pada 2014.
Posisi tersebut memperkuat Yogyakarta sebagai ruang pengembangan batik tradisional sekaligus kontemporer.
“Mari melihat Nusantara melalui cara yang berbeda melalui batik, melalui karya,” ujar Agung saat pembukaan.
Pameran MENEROKA — Perjalanan Elemen Nusantara berlangsung pada 27 September hingga 2 Oktober 2026.
Pameran dibuka untuk masyarakat pukul 10.00 hingga 20.00 WIB di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.
Pada Senin (28/9/2026), pameran masih berlangsung dan dijadwalkan berakhir bertepatan dengan Hari Batik Nasional, Jumat (2/10/2026).





































