- Singapura memimpin ASEAN dalam Legatum Prosperity Index 2026 dengan skor 83,83 dan peringkat ke-23 dunia.
- Indonesia menempati posisi ketiga ASEAN dengan skor 66,89, setelah Singapura dan Malaysia.
- Legatum mengukur kemakmuran melalui tiga domain, yakni pembangunan, kebebasan, dan masyarakat, yang mencakup 10 pilar.
- Indonesia unggul dalam aspek kekuatan komunitas, sedangkan Singapura menonjol pada standar hidup, kesehatan, dan kebebasan ekonomi.
JAMLIMA.COM, SINGAPURA — Singapura menjadi negara paling makmur di Asia Tenggara berdasarkan Legatum Prosperity Index 2026. Negara tersebut mencatat skor 83,83 dan menempati peringkat ke-23 dunia.
Malaysia menyusul di posisi kedua ASEAN dengan skor 73,03. Sementara itu, Indonesia berada di urutan ketiga dengan skor 66,89.
Pemeringkatan ini mencakup 161 negara. Penilaiannya tidak hanya mengukur kekuatan ekonomi, tetapi juga pembangunan, kebebasan, dan kondisi sosial masyarakat.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemakmuran tidak selalu sejalan dengan besarnya produk domestik bruto (PDB) suatu negara.
Daftar Negara Paling Makmur di ASEAN 2026
Berdasarkan Legatum Prosperity Index 2026, berikut peringkat negara Asia Tenggara yang masuk dalam penilaian.

Singapura unggul 10,80 poin atas Malaysia. Selisihnya dengan Indonesia mencapai 16,94 poin.
Sementara itu, Indonesia hanya unggul 1,17 poin atas Thailand.
Perbedaan ini memperlihatkan jarak capaian kemakmuran antarnegara di kawasan.
Namun, daftar tersebut tidak mencakup Brunei Darussalam karena negara itu tidak masuk dalam pemeringkatan Legatum 2026.
Padahal, ASEAN memiliki 11 anggota sejak Timor-Leste resmi bergabung pada 26 Oktober 2025.
Karena itu, daftar tersebut menggambarkan 10 negara ASEAN yang memiliki hasil penilaian, bukan keseluruhan anggota organisasi.
Mengapa Singapura Menjadi Negara Paling Makmur?
Keunggulan Singapura tidak hanya berasal dari pendapatan per kapita yang tinggi.
Legatum menilai negara tersebut memiliki capaian kuat dalam standar hidup, kesehatan, dan kebebasan ekonomi.
Dalam laporan analisis Singapura, peneliti tamu Harry Tan mencatat negara itu berada di peringkat kedua dunia untuk standar hidup.
Singapura juga menempati peringkat kedua global dalam kesehatan dan kebebasan ekonomi.
Sementara itu, aspek pembangunan secara keseluruhan menempatkannya di posisi ketiga dunia.
Capaian tersebut berkaitan dengan kualitas layanan publik, lingkungan usaha, dan sistem ekonomi yang terbuka.
Selain itu, Singapura mengembangkan infrastruktur yang mendukung aktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Negara tersebut juga mengandalkan perdagangan internasional, industri teknologi, dan investasi.
Kesehatan dan Pendidikan Jadi Faktor Penentu
Legatum menggunakan tiga domain utama dalam penilaian kemakmuran.
Domain pertama adalah Development atau pembangunan.
Aspek ini mencakup standar hidup, kesehatan, dan pendidikan.
Domain kedua adalah Freedom atau kebebasan.
Penilaiannya meliputi perdamaian sipil, kebebasan berbeda pendapat, dan kebebasan ekonomi.
Sementara itu, domain ketiga adalah Society atau masyarakat.
Legatum menilai kekuatan hubungan keluarga, komunitas, masyarakat, dan integritas negara.
Secara keseluruhan, metodologi 2026 menggunakan 10 pilar dan sekitar 160 indikator statistik.
Dengan pendekatan tersebut, negara berpendapatan tinggi belum tentu memperoleh nilai tertinggi pada seluruh aspek.
Singapura Unggul, tetapi Masih Memiliki Kelemahan
Meski memimpin ASEAN, Singapura tidak unggul dalam semua indikator Legatum.
Laporan Harry Tan menempatkan negara itu pada peringkat ke-35 dunia dalam domain kebebasan.
Lebih jauh, pilar kebebasan berbeda pendapat berada di posisi ke-100 global.
Penilaian tersebut berbeda jauh dari capaian kebebasan ekonominya yang menempati posisi kedua dunia.
Legatum juga menempatkan Singapura pada urutan ke-38 untuk pendidikan.
Laporan itu mengaitkan hasil pendidikan dengan pengukuran lama bersekolah dan kondisi pendidikan antargenerasi.
Selain itu, Singapura menghadapi tantangan demografi akibat rendahnya tingkat kelahiran.
Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi dan kualitas layanan publik tidak otomatis menghilangkan seluruh persoalan sosial.
Indonesia Ketiga ASEAN, Gotong Royong Jadi Kekuatan
Indonesia menempati peringkat ke-64 dunia dengan skor kemakmuran 66,89.
Dalam analisis yang diterbitkan melalui situs Legatum, peneliti tamu Dr. Andree Surianta menyoroti kekuatan hubungan sosial masyarakat Indonesia.
Ia menyatakan:
“Indonesia’s greatest strength lies in its very neighbourly local communities.”
Pernyataan itu menggambarkan kuatnya hubungan antarmasyarakat sebagai salah satu modal Indonesia.
Legatum menempatkan Indonesia pada peringkat keempat dunia dalam pilar Integrity of Communities atau integritas komunitas.
Indikator tersebut antara lain berkaitan dengan kegiatan sukarela, kebiasaan membantu orang lain, dan penilaian masyarakat terhadap kehidupan sosial.
Andree menghubungkan kekuatan tersebut dengan budaya gotong royong.
Namun, capaian sosial itu belum sepenuhnya diikuti hasil yang sama pada bidang pembangunan.
Analisis Legatum menunjukkan bahwa pembangunan masih menjadi tantangan utama Indonesia dibandingkan domain sosialnya.
Ekonomi Terbesar Belum Tentu Paling Makmur
Indonesia tetap memiliki ekonomi terbesar di ASEAN berdasarkan total PDB nominal.
Data Bank Dunia mencatat perekonomian Indonesia mencapai sekitar 1,45 triliun dolar AS pada 2025.
Sebaliknya, total PDB Singapura berada di kisaran 603,87 miliar dolar AS.
Artinya, ukuran ekonomi Indonesia lebih dari dua kali lipat Singapura.
Namun, Legatum tidak menggunakan total PDB sebagai satu-satunya ukuran kemakmuran.
Indeks tersebut juga mempertimbangkan kualitas kehidupan dan kondisi sosial masyarakat.
Dalam penjelasan resminya, Legatum menyatakan:
“Prosperity is far more than wealth.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa kemakmuran mencakup lebih dari sekadar kekayaan.
Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi ekonomi terbesar di ASEAN tanpa menempati posisi pertama dalam indeks kemakmuran.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Hasil Legatum memberikan gambaran mengenai kekuatan dan tantangan pembangunan di Asia Tenggara.
Singapura menunjukkan capaian tinggi dalam standar hidup, kesehatan, dan kebebasan ekonomi.
Sebaliknya, Indonesia memiliki kekuatan pada hubungan sosial dan solidaritas masyarakat.
Namun, penguatan komunitas saja belum cukup untuk meningkatkan seluruh indikator kemakmuran.
Peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, produktivitas, dan tata kelola tetap menjadi faktor penting.
Di sisi lain, hasil Singapura menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi juga perlu berjalan bersama penguatan kebebasan dan ketahanan sosial.
Karena itu, perbandingan kedua negara tidak cukup dilakukan melalui angka PDB atau pendapatan per kapita.
Legatum Prosperity Index 2026 menunjukkan bahwa kemakmuran merupakan hasil gabungan pembangunan ekonomi, kebebasan, dan kualitas kehidupan sosial.
Dalam penilaian tersebut, Singapura memimpin negara-negara ASEAN yang tercakup dalam indeks. Sementara itu, Indonesia berada di posisi ketiga setelah Malaysia.





































