- SPARTAN memetakan tingkat bahaya karhutla berdasarkan kondisi meteorologi dan kekeringan bahan bakar.
- Sistem mengolah suhu, kelembapan, curah hujan, dan kecepatan angin untuk membaca potensi kebakaran.
- SPARTAN tidak menunjukkan lokasi api. Hotspot tetap dipantau menggunakan sensor satelit dan perlu diverifikasi di lapangan.
- Teknologi peringatan dini menjadi penting karena El Niño sangat kuat memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Teknologi SPARTAN milik BMKG menjadi salah satu instrumen penting untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Sistem ini memetakan tingkat bahaya kebakaran berdasarkan kondisi cuaca, kekeringan bahan bakar, dan potensi penyebaran api.
Pemanfaatannya semakin relevan saat ancaman karhutla masih tinggi pada penghujung September hingga awal Oktober 2026.
Kementerian Kehutanan mencatat 893 hotspot high confidence secara nasional hingga Selasa (29/9/2026) pukul 21.10 WIB.
Jumlah itu melonjak dibandingkan 365 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Data terbaru tersebut menunjukkan risiko karhutla masih membutuhkan kewaspadaan, meski Indonesia mulai memasuki Oktober.
SPARTAN membaca risiko sebelum api membesar
SPARTAN merupakan Sistem Peringatan Hutan dan Lahan yang dikembangkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Platform tersebut memberi informasi mengenai tingkat bahaya karhutla dan potensi penyebaran api.
SPARTAN menggunakan parameter Fire Danger Rating System atau FDRS.
Sistem itu mengadopsi Fire Weather Index atau FWI dari Kanada, kemudian mengkalibrasinya dengan parameter cuaca lokal Indonesia.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menegaskan SPARTAN bukan alat untuk menunjukkan titik kebakaran.
“Spartan bukan menginformasikan lokasi kebakaran (titik api), tapi gambaran kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber atau hotspot,” kata Andri dalam sosialisasi BMKG, 23 Juni 2026.
Artinya, SPARTAN bekerja pada tahap mitigasi.
Sistem membaca apakah kondisi atmosfer dan bahan bakar vegetasi mendukung munculnya kebakaran serta penyebaran api.
Informasi tersebut dapat membantu pemerintah menentukan wilayah yang membutuhkan peningkatan patroli dan kesiapsiagaan.
Empat parameter cuaca menjadi dasar
Ketua Tim Analisis Satelit Cuaca dan Petir BMKG Alpon Seriando menjelaskan SPARTAN memperhitungkan empat parameter meteorologi utama.
Keempatnya meliputi kecepatan angin, kelembapan udara, curah hujan, dan suhu.
Parameter itu berhubungan dengan kadar air bahan bakar vegetasi serta potensi api menyebar setelah kebakaran terjadi.
“Spartan memodelkan dua unsur, yaitu kondisi cuaca yang mengeringkan bahan bakar dan suplai oksigen melalui kecepatan angin,” kata Alpon.
Namun, sistem tersebut tidak mendeteksi sumber penyulut api.
Karena itu, kondisi berbahaya dalam SPARTAN tidak otomatis berarti kebakaran sedang berlangsung.
Api tetap membutuhkan sumber panas, oksigen, dan bahan bakar yang dapat terbakar.
Enam indeks membaca karakter ancaman
SPARTAN menguraikan risiko karhutla melalui enam indeks utama.
Pertama, Fine Fuel Moisture Code atau FFMC.
Indeks ini menunjukkan tingkat kekeringan bahan ringan di permukaan, seperti humus, daun kering, dan alang-alang.
BMKG menetapkan FFMC di atas 82 sebagai kondisi sangat kering dan sangat mudah terbakar.
Kedua, Duff Moisture Code atau DMC.
Indeks ini membaca kekeringan bahan organik pada lapisan menengah tanah.
Nilai DMC di atas 29 menunjukkan bahan organik dalam kondisi sangat kering.
Ketiga, Drought Code atau DC.
Indeks tersebut menggambarkan kekeringan lapisan organik yang lebih dalam serta bahan kayu berat.
BMKG mengategorikan nilai DC di atas 350 sebagai kondisi sangat kering.
Pada kondisi itu, kekeringan telah mencapai tingkat ekstrem dan pencegahan pembakaran perlu diperketat.
Keempat, Initial Spread Index atau ISI.
Parameter ini menggambarkan kecepatan atau kemudahan api menyebar apabila kebakaran terjadi.
Kelima, Build-Up Index atau BUI menunjukkan jumlah bahan organik yang tersedia untuk terbakar.
Sementara itu, parameter keenam adalah FWI.
Indeks tersebut menggambarkan besarnya intensitas api apabila kebakaran benar-benar terjadi.
FWI di atas 13 berarti api sangat sulit dikendalikan
FWI menjadi salah satu indikator penting dalam membaca tingkat bahaya kebakaran secara keseluruhan.
BMKG membagi indeks tersebut menjadi empat kategori.
FWI 0–1 menunjukkan intensitas rendah.
Nilai 2–6 masuk kategori sedang, sedangkan 7–13 menunjukkan intensitas tinggi.
Ketika FWI melampaui 13, intensitas api masuk kategori sangat tinggi.
Api pada tingkat tersebut dinilai sangat sulit dikendalikan.
Namun, FWI tetap menunjukkan potensi intensitas apabila kebakaran terjadi.
Indeks tersebut bukan bukti bahwa suatu wilayah sedang terbakar.
SPARTAN berbeda dengan hotspot satelit
Perbedaan ini penting untuk menghindari kesalahan membaca data karhutla.
SPARTAN menggambarkan tingkat bahaya berdasarkan kondisi meteorologi.
Sementara itu, hotspot menunjukkan anomali panas yang terdeteksi sensor satelit.
BMKG menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua untuk pemantauan titik panas.
Teknologi serupa juga digunakan NASA melalui Fire Information for Resource Management System atau FIRMS.
FIRMS menyediakan data kebakaran aktif dari instrumen MODIS dan VIIRS untuk pemantauan mendekati waktu nyata.
Meski demikian, satu hotspot tidak selalu sama dengan satu kejadian kebakaran.
Sebaliknya, satu kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa hotspot.
Kementerian Kehutanan karena itu tetap melakukan verifikasi lapangan atau ground check.
Hotspot kembali melonjak menjelang Oktober
Ancaman tersebut belum sepenuhnya mereda pada akhir September.
Kementerian Kehutanan mencatat 331 hotspot high confidence secara nasional pada pemantauan 26 September.
Jumlahnya kemudian meningkat menjadi 559 titik pada 27 September.
Sehari kemudian, jumlahnya turun menjadi 365 titik.
Namun, pemantauan hingga 29 September kembali menemukan 893 hotspot high confidence.
Dengan demikian, dinamika titik panas dapat berubah tajam dalam waktu singkat.
Kondisi itu membuat informasi peringatan dini seperti SPARTAN penting untuk melengkapi data satelit.
Sistem tersebut memberi gambaran apakah cuaca mendukung api untuk muncul, membesar, atau menyebar.
Kalimantan dan Sumatera menjadi perhatian
BMKG sebelumnya mencatat konsentrasi titik panas yang tinggi selama September 2026.
Pada periode 7–16 September, Kalimantan Tengah mencatat 3.177 hotspot high confidence.
Sumatera Selatan mencatat 1.305 titik, Kalimantan Barat 1.088 titik, dan Papua Selatan 960 titik.
Jumlah kumulatif kemudian meningkat.
Hingga 21 September, BMKG mencatat 5.283 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah.
Sumatera Selatan mencatat 1.485 titik dan Kalimantan Barat 1.357 titik.
Kalimantan Selatan mencapai 498 titik, sedangkan Kalimantan Timur 433 titik.
Data tersebut merupakan akumulasi deteksi satelit dalam periode pemantauan.
Angkanya tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan terbakar.
El Niño memperpanjang kondisi kering
Risiko karhutla tahun ini juga berkaitan dengan kondisi iklim.
BMKG menyatakan El Niño berada pada kategori sangat kuat.
Pada akhir Agustus 2026, anomali suhu muka laut Nino3.4 mencapai +2,83 derajat Celsius.
Sementara itu, indeks ENSO periode Juli–Agustus–September tercatat +2,63.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole atau IOD memengaruhi pola hujan Indonesia.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Faisal, 22 September 2026.
BMKG memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rata-rata klimatologis di 529 Zona Musim.
Jumlah tersebut setara 61,08 persen wilayah Indonesia.
Ribuan lokasi mengalami hari tanpa hujan ekstrem
Kondisi kering sudah terlihat pada awal September.
BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I September.
Sebanyak 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem.
Artinya, wilayah tersebut tidak mendapat hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Wilayah terdampak mencakup Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua melalui citra Himawari-9 pada 14 September.
Data digital harus berujung pada tindakan lapangan
Teknologi peringatan dini tidak menggantikan operasi pemadaman.
SPARTAN justru dapat menjadi salah satu dasar untuk menentukan prioritas kesiapsiagaan sebelum kondisi memburuk.
Di lapangan, pemerintah tetap mengandalkan patroli, ground check, pemadaman darat, pembasahan, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
BNPB melaporkan 527,6 hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas berdasarkan situasi 28 September.
Sebanyak 431,53 hektare telah ditangani melalui operasi darat dan udara.
BNPB juga menekankan pentingnya integrasi data lintas instansi.
Kepala BNPB Suharyanto meminta data dan pelaporan karhutla terintegrasi agar keputusan lapangan menggunakan gambaran situasi yang sama.
Sementara itu, BMKG mencatat OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla telah dilakukan di sejumlah wilayah.
Operasi itu antara lain berlangsung di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur selama September.
Peringatan dini penting untuk melindungi kesehatan
Karhutla tidak hanya merusak hutan dan lahan.
Asap dapat menurunkan kualitas udara hingga mengganggu kesehatan masyarakat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut asap kebakaran mengandung campuran partikulat dan berbagai polutan gas.
Sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan kebakaran liar berupa partikulat berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yakni PM2.5.
Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan saluran napas, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular.
Anak-anak, lansia, dan ibu hamil termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO juga menempatkan sistem peringatan dini sebagai bagian penting pengurangan risiko kebakaran.
Kemajuan observasi bumi, prediksi cuaca numerik, pemodelan atmosfer, dan sistem penilaian bahaya kebakaran memungkinkan peringatan diberikan lebih cepat.
Dari prediksi menuju pencegahan
SPARTAN pada akhirnya bekerja sebagai lapisan awal dalam sistem mitigasi karhutla.
Data cuaca membaca bahaya.
Satelit mendeteksi anomali panas dan sebaran asap.
Petugas kemudian melakukan verifikasi serta penanganan di lapangan.
Rangkaian itu membuat pencegahan tidak harus menunggu api membesar.
BMKG berharap informasi SPARTAN dapat digunakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, media, dan pemangku kepentingan sebagai dasar kewaspadaan.
“Kami harap terbangun persamaan persepsi antara BMKG, K/L, pemda, media sehingga informasi tersebut dapat digunakan secara efektif dalam pengambilan keputusan,” ujar Andri Ramdhani.
Memasuki Oktober 2026, fungsi peringatan dini tetap relevan.
Sebab, datangnya hujan di sebagian wilayah belum otomatis menghilangkan risiko karhutla.
Terlebih, BMKG memprediksi musim hujan terlambat di sebagian besar Zona Musim Indonesia akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat.





































