Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Robot Humanoid Mulai Jadi Karyawan Supermarket, Siap Bekerja Mandiri pada 2027

×

Robot Humanoid Mulai Jadi Karyawan Supermarket, Siap Bekerja Mandiri pada 2027

Sebarkan artikel ini
Robot humanoid HIVE Robots menjalani pengujian pengisian rak barang di supermarket Føtex, Denmark, pada 2026
ROBOT HUMANOID – Robot humanoid HIVE Robots menjalani pengujian pengisian rak barang di supermarket Føtex, Denmark. Teknologi ini ditargetkan mampu bekerja lebih mandiri pada awal 2027. (Foto: HIVE Robots)

  • Robot humanoid mulai bekerja di supermarket Denmark. Salling Group bersama HIVE Robots menguji teknologi pengisian rak sejak Juni 2026.
  • Robot menggunakan kecerdasan buatan. Sistem mempelajari cara mengambil, memindahkan, dan menyusun berbagai produk melalui latihan bersama operator manusia.
  • Target bekerja mandiri pada awal 2027. Robot dipersiapkan untuk mengisi rak pada malam hari, ketika supermarket tidak melayani pelanggan.
  • Robot belum menggantikan karyawan sepenuhnya. Teknologi ini masih membutuhkan pengawasan dan diarahkan untuk mengurangi pekerjaan fisik berulang.

JAMLIMA.COM, DENMARK – Robot humanoid mulai menjalani tugas sebagai pekerja supermarket di Denmark. Robot berbentuk manusia ini dilatih untuk mengambil barang, menyusun produk, dan mengisi rak secara otomatis.

Perusahaan ritel Salling Group menguji teknologi tersebut melalui jaringan supermarket Føtex. Pengujian berlangsung di sebuah gerai dekat Kopenhagen sejak Juni 2026.

Perusahaan teknologi Denmark, HIVE Robots, mengembangkan sistem robot tersebut. Sementara itu, produsen China, Unitree, menyediakan perangkat kerasnya.

Robot humanoid ini ditargetkan mampu mengisi rak secara mandiri pada awal 2027. Namun, hingga Oktober 2026, operator manusia masih mengendalikan gerakannya.

Euronews melaporkan perkembangan tersebut pada Minggu (11/10/2026).

Robot Humanoid Dilatih Mengisi Rak Supermarket

Pengujian robot humanoid berlangsung di supermarket Føtex, dekat ibu kota Denmark.

Robot menjalankan tugas yang selama ini membutuhkan banyak tenaga manusia. Pekerjaan tersebut mencakup mengambil produk dan menempatkannya pada rak penjualan.

Selain itu, robot harus menyesuaikan gerakan tangan dengan bentuk, ukuran, dan posisi barang.

HIVE Robots menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan kemampuan tersebut.

Operator manusia terlebih dahulu memandu gerakan robot. Selanjutnya, sistem mengumpulkan data untuk melatih kemampuan pengendalian gerak dan penanganan produk.

Metode ini menjadi bagian dari pengembangan robot yang dapat bekerja dalam lingkungan nyata.

Namun, kemampuan tersebut masih dalam tahap penyempurnaan. Robot belum mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan tanpa bantuan manusia.

Mengapa Supermarket Membutuhkan Robot?

Pengisian rak merupakan salah satu pekerjaan yang menyita waktu karyawan supermarket.

Menurut data Føtex yang dikutip Euronews, pekerja menghabiskan sekitar 40–50 persen waktu kerja untuk mengisi kembali persediaan barang.

Karena itu, perusahaan berupaya mengurangi pekerjaan fisik yang berulang melalui otomatisasi.

Robot dirancang untuk menangani sebagian pekerjaan tersebut, terutama saat supermarket tutup.

Dengan demikian, karyawan dapat menggunakan lebih banyak waktu untuk melayani pelanggan.

Salling Group sendiri merupakan salah satu perusahaan ritel terbesar di Denmark.

Berdasarkan data perusahaan per 31 Agustus 2026, Salling Group mengoperasikan 2.137 gerai di enam negara Eropa.

Jumlah tersebut mencakup berbagai jaringan ritel, termasuk Føtex, Netto, Bilka, dan Rimi.

Robot Berbentuk Manusia Dinilai Lebih Fleksibel

HIVE Robots dan Føtex mengumumkan kemitraan pengembangan robot humanoid pada 11 Maret 2026.

Kerja sama tersebut berlangsung selama beberapa tahun untuk menguji pemanfaatan robot dalam operasional supermarket.

Direktur Operasional Føtex, Simon Kudsk, menjelaskan alasan perusahaan memilih robot berbentuk manusia.

Menurut Kudsk, supermarket sejak awal dirancang untuk memudahkan manusia bergerak dan mengambil barang.

Kondisi tersebut membuat penggunaan robot industri konvensional menjadi lebih sulit.

“Dengan robot humanoid, kami mendapatkan robot yang memiliki bentuk fisik seperti manusia,” kata Kudsk dalam pernyataan resmi HIVE Robots, 11 Maret 2026.

Ia menilai bentuk tersebut memungkinkan robot bergerak lebih sesuai dengan lingkungan supermarket.

Sementara itu, pendiri HIVE Robots, Jakob Sand, menekankan pentingnya pelatihan langsung di lokasi kerja.

“Melatih robot dan menempatkannya di toko nyata sangat penting untuk mengumpulkan data,” ujar Sand dalam pernyataan yang sama.

Menurutnya, pengalaman operasional membantu pengembang memperbaiki kemampuan robot secara bertahap.

Target Robot Bekerja Mandiri pada 2027

HIVE Robots menargetkan peningkatan kemampuan otomatisasi pada awal 2027.

Dalam skenario yang dikembangkan, robot dapat mengisi rak pada malam hari ketika supermarket sudah tutup.

Perusahaan juga memperkenalkan layanan Robot as a Service (RaaS).

Melalui model tersebut, supermarket tidak harus membeli robot secara langsung.

Sebaliknya, perusahaan dapat menggunakan layanan robot berdasarkan jam operasional.

HIVE Robots menyediakan perangkat, perangkat lunak, operator jarak jauh, serta dukungan pemeliharaan.

Perusahaan bahkan menawarkan program kemitraan operasional yang dimulai pada 2027.

Namun, penggunaan robot secara mandiri masih menjadi target pengembangan, bukan kemampuan yang sudah terbukti berjalan tanpa pengawasan.

Dalam tahap awal program 2027, satu robot masih direncanakan mendapat pengawasan penuh dari satu operator jarak jauh.

Artinya, robot dapat membantu pekerjaan supermarket meskipun kemandiriannya belum sepenuhnya tercapai.

Robot Masih Lebih Lambat daripada Manusia

Meski menunjukkan perkembangan, robot humanoid masih menghadapi sejumlah keterbatasan.

Euronews melaporkan robot yang diuji Føtex masih bekerja lebih lambat daripada manusia.

Selain itu, perangkat tersebut membutuhkan pengawasan untuk memastikan gerakan dan penanganan barang tetap sesuai.

Tantangan lainnya mencakup keselamatan, keandalan perangkat, serta kemampuan menghadapi perubahan kondisi toko.

Pengembang juga harus memastikan robot tidak membahayakan pekerja maupun pelanggan.

Karena itu, pengujian awal berlangsung ketika supermarket tutup.

Pendekatan tersebut memberi ruang lebih aman untuk melatih dan mengevaluasi kemampuan robot.

Di Denmark, pengoperasian robot secara mandiri di tengah pelanggan juga masih menghadapi hambatan regulasi.

Robot Berpeluang Memeriksa Stok dan Kedaluwarsa

Selain mengisi rak, teknologi humanoid berpotensi menjalankan pekerjaan supermarket lainnya.

Pengembang menilai robot dapat diarahkan untuk mengenali rak kosong dan mendeteksi barang yang salah tempat.

Kemampuan pemeriksaan tanggal kedaluwarsa juga menjadi salah satu peluang pengembangan.

Namun, fungsi tambahan tersebut belum dapat dianggap sebagai kemampuan operasional yang telah terbukti dalam pengujian Føtex.

Keberhasilannya bergantung pada peningkatan sistem pengenalan objek, kendali gerakan, dan pengolahan data.

HIVE Robots juga mengembangkan platform bernama Heimdall.

Sistem ini menggabungkan pengendalian robot, pengumpulan data, dan bantuan operator jarak jauh.

Melalui platform tersebut, operator dapat mengambil alih kendali ketika robot menghadapi pekerjaan yang belum mampu ditangani sendiri.

Apakah Robot Humanoid Akan Menggantikan Karyawan?

Kehadiran robot humanoid memunculkan pertanyaan tentang masa depan tenaga kerja manusia.

Namun, HIVE Robots menyatakan teknologi tersebut dikembangkan sebagai pelengkap pekerja ritel, bukan pengganti sepenuhnya.

Perusahaan memprioritaskan tugas fisik yang berulang agar karyawan dapat menangani pekerjaan lain.

Meski demikian, otomatisasi tetap berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa robotika dan sistem otonom dapat menggeser sejumlah pekerjaan.

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi turut meningkatkan kebutuhan keterampilan baru.

Karena itu, penerapan robot perlu mempertimbangkan efisiensi, keselamatan, dan perubahan kompetensi pekerja.

Robot Humanoid Jadi Bagian Transformasi Industri

Perkembangan robot humanoid tidak hanya berlangsung di sektor supermarket.

HIVE Robots juga memperluas pengujian teknologi ke lingkungan industri.

Pada 1 September 2026, perusahaan mengumumkan kerja sama dengan Danfoss Power Solutions.

Kemitraan tersebut berfokus pada pengujian robot humanoid untuk membantu pekerjaan perakitan.

Sementara itu, International Federation of Robotics (IFR) mencatat hampir 200.000 robot layanan profesional terjual secara global sepanjang 2024.

Angka tersebut meningkat 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, kategori robot layanan profesional mencakup berbagai jenis perangkat, bukan hanya robot humanoid.

Data ini menunjukkan pertumbuhan pasar robot layanan secara umum.

Adapun pengujian Føtex memberi gambaran tentang arah penerapan robot humanoid dalam sektor perdagangan.

Jika pengembangan berjalan sesuai target, robot dapat membantu mengisi rak supermarket secara lebih mandiri mulai 2027.

Meski begitu, keberhasilan komersialnya masih bergantung pada keandalan teknologi, biaya operasional, dan standar keselamatan.

Dengan demikian, robot humanoid mulai memasuki lingkungan kerja supermarket, tetapi belum sepenuhnya menggantikan peran manusia.


Baca juga: Agen AI Coba Bobol Situs Pemerintah AS dan Kanada, Ratusan Ribu Permintaan Terdeteksi