- Muncul setelah 11 tahun: Masjid Al Ikhlas kembali terlihat setelah terendam Waduk Jatigede, Sumedang, sejak 2015.
- Lafaz Allah dan Muhammad masih terlihat: Meski atap telah hilang, dinding masjid tetap berdiri dengan ornamen lafaz Allah dan Muhammad.
- Air waduk menyusut drastis: Permukaan air dilaporkan turun sekitar 24 meter, hingga memperlihatkan bekas rumah dan jalan permukiman.
- Mengungkap sejarah desa tenggelam: Kemunculan masjid membuka kembali jejak kehidupan warga yang harus meninggalkan permukiman saat penggenangan Waduk Jatigede.
JAMLIMA.COM, SUMEDANG – Masjid Al Ikhlas kembali terlihat setelah sekitar 11 tahun terendam Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Bangunan masjid muncul seiring menyusutnya permukaan air waduk akibat kemarau panjang.
Masjid tersebut berada di Dusun Betok, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja.
Meski atapnya telah hilang, sebagian besar dinding masih berdiri.
Ornamen lafaz Allah dan Muhammad juga tetap terlihat pada bagian atas bangunan.
Kemunculan masjid ini sekaligus membuka kembali jejak permukiman yang tenggelam sejak penggenangan Waduk Jatigede pada 2015.
Masjid Al Ikhlas Muncul Setelah 11 Tahun
Masjid Al Ikhlas dahulu berdiri di tengah kawasan permukiman warga Dusun Betok.
Namun, penggenangan Waduk Jatigede pada 2015 membuat kawasan tersebut terendam.
Selama sekitar 11 tahun, air menutupi bangunan masjid dan sejumlah fasilitas permukiman.
Memasuki Oktober 2026, permukaan waduk menyusut hingga memperlihatkan kembali bangunan tersebut.
Selain masjid, sisa tembok rumah dan akses jalan lama juga muncul.
Tanah bekas genangan tampak mengering. Di sejumlah titik, permukaannya mengalami retakan.
Kondisi tersebut menarik perhatian warga yang kembali mendatangi kawasan bekas permukiman.
Warga Ungkap Kondisi Waduk Jatigede
Beberapa warga setempat, mengatakan kawasan sekitar masjid dahulu merupakan permukiman penduduk.
Sementara itu, penyusutan air membuat sejumlah bangunan lama kembali terlihat.
Warga juga menilai kondisi waduk tahun ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Penyusutan air juga membuka lahan yang sebelumnya berada di bawah permukaan waduk.
Sebagian warga memanfaatkan rerumputan di kawasan tersebut sebagai pakan ternak.
Namun, kemunculan bangunan lama turut mengingatkan masyarakat pada kehidupan sebelum penggenangan.
Permukaan Waduk Dilaporkan Turun 24 Meter
Sejumlah data menyebut elevasi Waduk Jatigede turun sekitar 24 meter.
Ketinggian acuan yang disebut dalam laporan tersebut mencapai sekitar 260 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Sementara itu, permukaan air pada awal Oktober 2026 dilaporkan berada di kisaran 236 mdpl.
Selisih kedua angka tersebut mencapai 24 meter.
Meski demikian, angka itu belum dapat dipastikan sebagai hasil pengukuran resmi terbaru pengelola waduk.
Penurunan elevasi juga tidak sama dengan persentase kehilangan volume air.
Secara hidrologis, perubahan volume tampungan bergantung pada bentuk dasar waduk dan luas genangan di setiap ketinggian.
Karena itu, penghitungan volume memerlukan data teknis hubungan antara elevasi dan kapasitas tampungan.
Kekeringan Jawa Barat Berdampak pada Sejuta Warga
Penyusutan Waduk Jatigede terjadi di tengah meluasnya kekeringan di Jawa Barat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat 1.018.922 penduduk terdampak kekeringan hingga 21 September 2026.
Jumlah tersebut berasal dari 307.295 kepala keluarga.
Wilayah terdampak tersebar di 688 desa dan kelurahan pada 247 kecamatan.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, menyampaikan data tersebut pada Selasa (22/9/2026).
“Jumlah desa/kelurahan terdampak saat ini mencapai 688 desa/kelurahan, kecamatan 247, KK terdampak ada 307.295, dan jumlah jiwa terdampak 1.018.922,” kata Hadi, kepada awak media.
Meski demikian, data kekeringan tingkat provinsi tidak secara langsung menunjukkan besarnya penyusutan Waduk Jatigede.
Perubahan permukaan waduk dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk curah hujan, aliran masuk, penguapan, dan pengaturan pelepasan air.
Oleh karena itu, penilaian kondisi tampungan membutuhkan data hidrologi dari pengelola waduk.
Jejak Permukiman yang Tenggelam Sejak 2015
Kemunculan Masjid Al Ikhlas memiliki makna sejarah bagi masyarakat sekitar.
Bangunan tersebut menjadi salah satu penanda kawasan permukiman yang berubah setelah pembangunan Waduk Jatigede.
Bekas rumah, jalan, dan fasilitas umum memperlihatkan jejak kehidupan sebelum kawasan itu tergenang.
Di sisi lain, kondisi tersebut mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air selama musim kemarau.
Masjid Al Ikhlas kini kembali terlihat setelah sekitar 11 tahun terendam.
Bangunan itu menjadi pengingat sejarah permukiman Sumedang sekaligus perubahan kondisi perairan Waduk Jatigede pada 2026.
Baca juga: Kemarau Mengancam 71 Desa di Madiun, Pemkab Siapkan 30 Sumur Bor untuk Mitigasi





































