Scroll untuk baca artikel
Internasional

Dari 16 Korban ke 140 Kursi, Mahasiswa Akhiri Dominasi Rezim Vucic

×

Dari 16 Korban ke 140 Kursi, Mahasiswa Akhiri Dominasi Rezim Vucic

Sebarkan artikel ini
Gerakan mahasiswa memenangkan pemilu Serbia 2026 setelah Aleksandar Vucic mengakui kekalahan.
PEMILU SERBIA 2026 — Ilustrasi kemenangan gerakan mahasiswa dalam pemilu parlemen Serbia setelah Aleksandar Vucic mengakui kekalahan pada Minggu (25/10/2026). (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Gerakan mahasiswa memenangkan pemilu Serbia 2026 setelah hampir dua tahun menggelar demonstrasi antikorupsi.
  • Student List memperoleh 52,71 persen suara dan 140 kursi parlemen berdasarkan hasil sementara resmi.
  • Aleksandar Vucic mengakui kekalahan setelah mendominasi pemerintahan Serbia sebagai perdana menteri dan presiden sejak 2014.
  • Kemenangan mahasiswa membuka jalan pergantian pemerintahan, tetapi reformasi institusi dan pembentukan kabinet masih menjadi tantangan.

JAMLIMA.COM, BEOGRAD — Kekalahan Aleksandar Vucic dalam pemilu Serbia 2026 menandai berakhirnya dominasi politiknya yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Namun, perubahan tersebut tidak bermula dari persaingan partai. Gerakan mahasiswa muncul setelah runtuhnya kanopi Stasiun Novi Sad pada 1 November 2024.

Tragedi yang menewaskan 16 orang itu memicu gelombang protes. Hampir dua tahun kemudian, gerakan tersebut memenangkan pemilu parlemen Serbia pada Minggu (25/10/2026).

Vucic mengakui kekalahan melalui pidato yang disiarkan televisi.

“Sudah jelas kami kalah dalam pemilu ini. Student List menang,” kata Vucic, sebagaimana dikutip Reuters.

Pengakuan tersebut segera disambut perayaan di Beograd. Puluhan ribu warga memenuhi jalan utama, mengibarkan bendera, dan merayakan kemenangan kandidat dukungan mahasiswa.

Mahasiswa Rebut 140 Kursi Parlemen Serbia

Komisi Pemilihan Republik Serbia (RIK) mengumumkan hasil sementara pada Senin (26/10/2026) malam.

Student List memperoleh 2.267.615 suara atau 52,71 persen. Perolehan tersebut setara dengan 140 kursi dari 250 kursi parlemen.

Sebaliknya, koalisi Aleksandar Vucic–United Serbia mengumpulkan 1.685.022 suara atau 39,17 persen dan 104 kursi.

Empat kelompok perwakilan minoritas memperoleh enam kursi lainnya.

RIK menyusun hasil tersebut berdasarkan 8.187 dari 8.392 tempat pemungutan suara. Dengan demikian, penghitungan telah mencakup 97,56 persen lokasi pemungutan.

Student List melampaui batas 126 kursi yang diperlukan untuk menguasai mayoritas parlemen.

Meski demikian, seluruh angka tersebut masih berstatus sementara hingga RIK menetapkan hasil akhir.

Tragedi Novi Sad Mengubah Arah Politik Serbia

Keruntuhan kanopi beton Stasiun Novi Sad menjadi titik awal gerakan mahasiswa.

Setelah tragedi tersebut, demonstran menuntut pertanggungjawaban pejabat dan transparansi proyek infrastruktur.

Mereka menyoroti dugaan korupsi serta kelalaian dalam pekerjaan konstruksi.

Namun, tuduhan tersebut tidak dapat dianggap sebagai kesimpulan hukum atas penyebab tragedi.

Pemerintahan Vucic membantah tuduhan korupsi dan penindasan politik yang dilontarkan para pengkritiknya.

Sementara itu, demonstrasi berkembang dari lingkungan kampus menjadi gerakan masyarakat yang lebih luas.

Mahasiswa kemudian membentuk daftar kandidat pemilu bernama Student List – Students Win.

Gerakan tersebut mengusung kalangan akademisi, dokter, pengacara, pekerja seni, dan masyarakat sipil.

Profesor Universitas Beograd, Radomir Sajcic, menyampaikan pesan setelah kemenangan diumumkan.

“Malam ini kita merayakan kemenangan, besok kita membangun masa depan,” katanya.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan agenda gerakan, dari protes menuju tanggung jawab pemerintahan.

Dominasi Vucic Berakhir Setelah Lebih dari Satu Dekade

Partai Progresif Serbia (SNS) menjadi kekuatan utama pemerintahan sejak 2012.

Sementara itu, Vucic menjabat perdana menteri mulai 2014 dan kemudian menjadi presiden pada 2017.

Pada 9 September 2026, ia membubarkan parlemen dan menetapkan pemilu dipercepat.

Selanjutnya, Vucic mengundurkan diri sebagai presiden pada 27 September untuk mengikuti persaingan politik menuju jabatan perdana menteri.

Ia menyerahkan tugas kepresidenan kepada Ketua Parlemen Ana Brnabic sehari kemudian.

Namun, langkah tersebut tidak menghasilkan kemenangan.

Dalam pemilu 25 Oktober, koalisi yang dipimpin SNS kalah dari kandidat dukungan mahasiswa.

Kemenangan Tidak Menghapus Persoalan Demokrasi

Tingginya partisipasi pemilih menjadi faktor penting dalam pemilu Serbia.

Pemantau independen CRTA memperkirakan tingkat partisipasi mencapai sekitar 69 persen.

Namun, Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) menemukan sejumlah persoalan selama proses pemilu.

Pemantau internasional mencatat penyalahgunaan sumber daya negara, tekanan terhadap pemilih, dan ketimpangan kesempatan kampanye.

Meski demikian, mereka menilai sebagian besar tahapan pemungutan suara yang diamati berlangsung dengan baik.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemenangan melalui pemilu belum otomatis menyelesaikan persoalan kelembagaan Serbia.

Setelah Vucic Kalah, Siapa Memimpin Serbia?

Kemenangan Student List membuka jalan pembentukan pemerintahan baru.

Namun, gerakan tersebut belum memiliki struktur kepemimpinan seperti partai politik konvensional.

Sejumlah kandidat menonjol antara lain dokter spesialis jantung Ilija Srdanovic dan mantan Gubernur Bank Sentral Serbia Dejan Soskic.

Hingga 27 Oktober 2026, belum ada kepastian mengenai calon perdana menteri dari kelompok pemenang.

Selain menentukan kabinet, mereka menghadapi pekerjaan besar dalam reformasi hukum dan pemberantasan korupsi.

Hubungan Serbia dengan Uni Eropa, Rusia, dan China juga menjadi persoalan penting.

Menurut ketentuan konstitusi, parlemen baru harus bersidang paling lambat 30 hari setelah hasil resmi diumumkan.

Selanjutnya, pembentukan pemerintahan memiliki batas waktu 90 hari.

Serbia juga harus menyelenggarakan pemilihan presiden baru sebelum akhir Desember 2026.

Dengan demikian, kemenangan mahasiswa baru menyelesaikan persaingan elektoral.

Ujian berikutnya adalah mengubah tuntutan masyarakat menjadi kebijakan dan pemerintahan yang dapat dipertanggungjawabkan.


Baca juga: Lula da Silva Menang Lagi di Brasil, Balikkan Ketertinggalan 2,2 Juta Suara