Scroll untuk baca artikel
Internasional

Trump Ancam Epic Fury Baru, Iran Bidik Kabel Internet Bawah Laut di Teluk

×

Trump Ancam Epic Fury Baru, Iran Bidik Kabel Internet Bawah Laut di Teluk

Sebarkan artikel ini
Donald Trump mengancam operasi Epic Fury baru terhadap Iran pada 23 Oktober 2026
EPIC FURY – Donald Trump mengancam operasi Epic Fury baru terhadap Iran. Teheran menyiapkan pembalasan yang dapat menyasar kabel komunikasi bawah laut di Teluk. (Foto: Grafis/Jamlima.com)

  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan operasi militer Epic Fury baru terhadap Iran, Jumat (23/10/2026).
  • Ancaman muncul hampir delapan bulan setelah Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
  • Dua pejabat keamanan Iran mengungkap rencana menyerang kabel komunikasi bawah laut apabila Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan.
  • Konflik berisiko mengganggu jaringan digital kawasan Teluk, perdagangan energi, dan stabilitas ekonomi menjelang pemilu sela Amerika Serikat.

JAMLIMA.COM, FLORIDA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran dengan operasi militer Epic Fury.

Namun, Teheran menyiapkan bentuk pembalasan yang dapat memperluas dampak perang ke infrastruktur digital kawasan Teluk.

Ancaman itu disampaikan Trump dalam kampanye di Alico Arena, Florida Gulf Coast University, Fort Myers, Jumat (23/10/2026).

“Kami mungkin akan melakukan Epic Fury kecil lainnya, atau mereka akan menyetujui kesepakatan,” kata Trump.

Pernyataan tersebut merupakan terjemahan dari pidato Trump yang tercatat dalam transkrip Roll Call.

Trump kemudian mendesak Iran kembali berunding.

“Jika mereka cerdas, mereka akan mengatakan, mari mulai berunding,” ujarnya.

Meski demikian, Trump tidak menjelaskan waktu maupun sasaran operasi baru tersebut.

Iran Bidik Kabel Komunikasi Bawah Laut

Di tengah ancaman Washington, Iran mengungkap rencana pembalasan terhadap infrastruktur strategis kawasan Teluk.

Reuters pada Jumat (23/10/2026) melaporkan bahwa dua pejabat keamanan senior Iran telah menyampaikan rencana tersebut.

Menurut kedua pejabat itu, Teheran mempertimbangkan serangan terhadap kabel komunikasi bawah laut apabila Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang.

Infrastruktur tersebut menopang layanan internet, transaksi keuangan, dan komunikasi antarnegeri.

Namun, kedua pejabat tidak menjelaskan lokasi maupun metode serangan secara terperinci.

Rencana tersebut juga belum dapat dipastikan sebagai keputusan akhir pemerintah Iran.

Selain itu, gangguan kabel di kawasan Teluk tidak otomatis melumpuhkan internet dunia.

Reuters mencatat kurang dari 1% kapasitas komunikasi internasional melewati Selat Hormuz.

Meski demikian, kerusakan sejumlah kabel dapat mengganggu konektivitas regional. Perbaikan juga berpotensi terhambat apabila konflik militer berlangsung.

Epic Fury Dimulai Februari 2026

Amerika Serikat meluncurkan Operation Epic Fury pada Sabtu (28/2/2026).

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan operasi dimulai pukul 01.15 waktu Amerika Serikat bagian timur.

Serangan menyasar fasilitas komando Korps Garda Revolusi Islam Iran, sistem pertahanan udara, serta lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak.

Amerika Serikat menjalankan operasi tersebut bersama pasukan mitra.

Sementara itu, Iran membalas dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pangkalan Amerika Serikat.

Konflik kemudian berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Sebelumnya, Washington juga melaksanakan Operation Midnight Hammer pada Juni 2025.

Operasi itu menargetkan fasilitas nuklir Iran.

Dalam pidato terbarunya, Trump mengaitkan kedua operasi tersebut dengan upaya membatasi kemampuan militer dan nuklir Teheran.

Ancaman Militer di Tengah Tekanan Ekonomi

Ancaman Epic Fury baru muncul ketika perang Iran mendekati delapan bulan.

Reuters melaporkan konflik tersebut telah meningkatkan harga minyak dan gas dunia.

Kenaikan harga energi juga menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu sela pada Selasa (3/11/2026).

Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu tersebut.

Namun, pernyataannya pada 23 Oktober kembali membuka kemungkinan operasi militer.

Di sisi lain, Iran memperingatkan pembalasan lebih luas apabila serangan kembali terjadi.

Situasi ini menempatkan jalur diplomasi dan tekanan militer dalam posisi yang semakin rumit.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Dunia

Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan energi internasional.

Jalur tersebut menghubungkan kawasan penghasil minyak dan gas Teluk Persia dengan pasar global.

Karena itu, peningkatan konflik dapat memengaruhi pelayaran, biaya asuransi kapal, dan distribusi energi.

Risiko tersebut juga relevan bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Namun, dampak ekonomi bergantung pada tingkat gangguan pasokan, durasi konflik, serta respons pasar internasional.

Sementara itu, ancaman terhadap kabel komunikasi memperlihatkan bahwa risiko perang tidak hanya terbatas pada fasilitas militer.

Infrastruktur digital juga dapat menjadi bagian dari tekanan antarnegeri.

Perundingan atau Serangan Baru

Hingga Senin (26/10/2026), pernyataan Trump yang dikonfirmasi dalam laporan tersebut masih berupa ancaman operasi militer lanjutan.

Trump belum mengumumkan jadwal atau target serangan baru.

Adapun rencana pembalasan Iran masih berdasarkan keterangan dua pejabat keamanan kepada Reuters.

Dengan demikian, ancaman kedua pihak belum dapat disamakan dengan pelaksanaan operasi baru.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan Washington, respons Teheran, dan kelanjutan diplomasi.

Di tengah ketidakpastian tersebut, risiko terhadap keamanan kawasan, perdagangan energi, dan jaringan komunikasi tetap menjadi perhatian internasional.


Baca juga: Pertimbangkan Pemilu Paruh Waktu, Trump Ungkap Alasan AS Tak Serang Iran Habis-habisan