Scroll untuk baca artikel
InternasionalTeknologi

Indonesia–India Bangun Koridor AI, Karya Lokal Dibidik Jadi Aset Global

×

Indonesia–India Bangun Koridor AI, Karya Lokal Dibidik Jadi Aset Global

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kerja sama Indonesia dan India dalam pengembangan teknologi AI serta industri kreatif di KEK Singhasari.
TEKNOLOGI AI - Ilustrasi kerja sama Indonesia dan India dalam pengembangan kecerdasan buatan dan industri audiovisual melalui KEK Singhasari, Jawa Timur. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Indonesia dan India meluncurkan koridor kreatif berbasis kecerdasan buatan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
  • KEK Singhasari menjadi pusat kolaborasi teknologi, pengembangan talenta, dan kekayaan intelektual.
  • Industri animasi Indonesia bernilai Rp798,15 miliar pada 2025, dengan 308 karya orisinal aktif.
  • Kerja sama ini menargetkan pasar global, tetapi keberhasilannya bergantung pada perlindungan hak cipta dan realisasi proyek.

JAMLIMA.COM, JAKARTA – Indonesia dan India membuka jalur baru bagi industri kreatif nasional melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kedua negara meluncurkan Indonesia–India Creative Tech Corridor di Cinepolis Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Kerja sama ini menghubungkan kekayaan cerita Indonesia dengan teknologi dan kemampuan produksi audiovisual India.

Namun, sasaran utamanya bukan sekadar mempercepat produksi konten.

Indonesia ingin mengubah karakter, animasi, dan cerita lokal menjadi kekayaan intelektual bernilai ekonomi global.

Pemerintah menempatkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, Jawa Timur, sebagai pusat pengembangan kolaborasi tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai AI dapat membuka peluang ekonomi dan keterampilan baru.

“AI bukan sekadar pengganti pekerjaan, melainkan juga sarana untuk menciptakan lapangan kerja dan keterampilan baru,” ujar Airlangga dalam peresmian tersebut.

Ia berharap kolaborasi Indonesia–India mampu mendorong pertumbuhan sektor kreatif hingga dua digit.

Meski demikian, angka tersebut masih berupa harapan pemerintah, bukan hasil pertumbuhan yang telah tercapai.

KEK Singhasari Jadi Pusat Eksperimen AI

Pemerintah menyiapkan Creative Tech Sandbox di KEK Singhasari sebagai ruang pengujian teknologi kreatif.

Fasilitas ini akan mempertemukan pengembang teknologi, animator, kreator, dan pelaku industri audiovisual.

Melalui fasilitas tersebut, para kreator dapat mengeksplorasi penggunaan AI dalam pengembangan karya.

Kerja sama juga mencakup penciptaan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).

Selain itu, kedua negara mendorong distribusi konten audiovisual menuju pasar internasional.

Penandatanganan nota kesepahaman melibatkan Lokanima bersama sejumlah mitra industri.

Mereka mencakup Fun Cican, Prodigi AI, TVRI, Cinepolis, Xelta, Galleri5 India, dan Collective Studios.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya keterlibatan kreator Indonesia.

“Kami ingin komitmen yang telah dibangun dalam WCCE dapat diterjemahkan menjadi kemitraan konkret yang menciptakan peluang ekonomi yang bermakna,” ujarnya.

Menurut Riefky, karakter lokal memiliki peluang berkembang melampaui pasar domestik.

Karena itu, pemerintah akan mendukung pengembangan talenta, perlindungan IP, dan perluasan akses pasar.

Industri Animasi Indonesia Punya Modal Rp798 Miliar

Kolaborasi ini muncul ketika industri animasi nasional menunjukkan perkembangan positif.

Berdasarkan Indonesia Animation Report 2026, nilai industri animasi Indonesia mencapai Rp798,15 miliar pada 2025.

Nilai tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade.

Laporan itu juga mencatat 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja.

Sementara itu, sebanyak 308 karya animasi orisinal aktif telah diproduksi dan didistribusikan melalui berbagai platform global.

Pendapatan dari animasi berbasis IP orisinal juga meningkat 279,53 persen dibandingkan 2015.

Data tersebut menunjukkan pentingnya kepemilikan karakter dan cerita dalam industri kreatif.

Dengan demikian, kerja sama AI membuka peluang pengembangan bisnis yang lebih luas daripada sekadar penyediaan jasa produksi.

India Bawa Teknologi, Indonesia Tawarkan Cerita

Kolaborasi kedua negara juga menyasar pengembangan film dan serial berbasis cerita Indonesia.

Collective Studios melalui Historyverse, Galleri5, dan KEK Singhasari mengumumkan kemitraan strategis pada 26 Oktober 2026.

Kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan karya orisinal untuk penonton internasional.

Cerita yang menjadi perhatian mencakup sejarah, mitologi, fantasi, dan animasi Indonesia.

Di sisi lain, mitra India menawarkan teknologi produksi dan pengalaman pengembangan industri audiovisual.

Wakil Duta Besar India untuk Indonesia Bijay Selvaraj menilai kedua negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi.

“Saya pikir kita berada pada pijakan yang setara,” ujarnya dalam peluncuran koridor kreatif.

Kemitraan tersebut diharapkan menghasilkan karya yang dapat menjangkau penonton lintas negara.

Hasil awal kolaborasi ditargetkan tampil pada World Audio Visual and Entertainment Summit (WAVES) 2027 di Mumbai, India.

AI Membuka Pasar, tetapi Hak Cipta Jadi Tantangan

Penggunaan AI dalam industri kreatif juga membawa risiko.

Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) mengingatkan pentingnya pengelolaan risiko hak kekayaan intelektual dalam penggunaan AI generatif.

Sementara itu, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menilai AI berpotensi mengubah pola pekerjaan.

Penelitian ILO pada 2025 menunjukkan sekitar satu dari empat pekerja dunia berada dalam pekerjaan yang terpapar AI generatif.

Namun, perubahan tugas lebih mungkin terjadi dibandingkan penggantian seluruh pekerjaan.

Kondisi tersebut menuntut industri kreatif meningkatkan keterampilan tenaga kerja.

Selain itu, pengembang perlu memperjelas kepemilikan karya, penggunaan data pelatihan, dan pembagian keuntungan.

Tanpa aturan yang jelas, percepatan produksi belum tentu memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi kreator.

Peluang Besar, Realisasi Masih Menentukan

Pemerintah Indonesia juga tengah memperkuat tata kelola AI melalui penyusunan peta jalan nasional.

Kebijakan tersebut menempatkan infrastruktur, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab sebagai perhatian utama.

Sementara itu, koridor kreatif Indonesia–India menjadi salah satu langkah penerapan kerja sama teknologi lintas negara.

Namun, pengumuman pemerintah belum merinci nilai investasi maupun jumlah pekerjaan baru dari proyek ini.

Karena itu, keberhasilannya perlu diukur melalui karya yang berhasil diproduksi, kepemilikan IP, dan pendapatan kreator.

Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai pencipta karya global, bukan sekadar pasar teknologi asing.


Baca juga: Trump Klaim Tenggelamkan 9 Kapal Iran, Teknologi AI Disorot