- Guruh Soekarnoputra wafat di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun.
- Putra bungsu Soekarno dan Fatmawati itu meninggalkan jejak panjang di musik, tari, koreografi, dan seni pertunjukan Indonesia.
- Guruh Gipsy menjadi salah satu proyek pentingnya dengan memadukan musik modern dan gamelan Bali sejak era 1970-an.
- Selain berkesenian, Guruh menjalani sekitar 30 tahun pengabdian di DPR, yakni pada 1992–1997 dan 1999–2024.
JAMLIMA.COM, JAKARTA — Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra atau Guruh Soekarnoputra wafat dalam usia 73 tahun di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengonfirmasi kabar duka tersebut pada Sabtu pagi.
Guruh merupakan putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati. Ia juga adik Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.
Kepergian Guruh menutup perjalanan panjang seorang tokoh yang bergerak di dua ruang berbeda: seni budaya dan politik.
Namun, jauh sebelum aktif di parlemen, namanya lebih dahulu tumbuh bersama musik, tari, koreografi, dan berbagai eksperimen seni pertunjukan.
Seni Sejak Kecil
Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Ketertarikannya terhadap seni muncul sejak usia dini.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Guruh sudah belajar tari Jawa, Sunda, dan Bali sejak kecil. Ia juga bermain piano dan kemudian membentuk kelompok musik The Beat-G pada 1965.
Ketika beranjak dewasa, Guruh memperluas eksplorasinya terhadap gamelan, tari tradisional, teater, hingga musik modern.
Saat berada di Belanda pada awal 1970-an, ia tetap aktif mempelajari dan memperkenalkan gamelan serta tari Indonesia. Pengalaman itu kemudian ikut membentuk karakter karya-karyanya yang mempertemukan unsur tradisional dengan musik kontemporer.
Lahirnya Guruh Gipsy
Salah satu tonggak penting perjalanan musik Guruh muncul setelah ia kembali dari Belanda pada 1975.
Ia mengembangkan eksperimen yang mempertemukan gamelan Bali dengan musik Barat. Dari proses itu lahir proyek Guruh Gipsy bersama sejumlah musisi, termasuk Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.
Album Guruh Gipsy dirilis pada 1976.
Proyek tersebut memadukan unsur gamelan Bali dengan rock progresif dan warna musik modern lainnya. Materinya antara lain “Geger Gelgel”, “Barong Gundah”, “Smaradhana”, “Indonesia Maharddhika”, “Janger 1897 Saka”, dan “Chopin Larung”.
Guruh tidak hanya mengerjakan komposisi. Ia juga memainkan piano dan gamelan serta menulis lirik dalam proyek tersebut.
Beberapa dekade kemudian, Guruh Gipsy kembali tampil di Synchronize Fest 2025 bersama sejumlah musisi lintas generasi.
Lagu Lintas Generasi
Perjalanan Guruh tidak berhenti pada Guruh Gipsy.
Pada 1976, lagu “Renjana” meraih pencapaian di Festival Lagu Populer Tingkat Nasional dan membawa namanya ke World Popular Song Festival di Tokyo.
Ia kemudian melahirkan berbagai karya yang dikenal publik, antara lain “Galih dan Ratna”, “Gita Cinta”, “Anak Jalanan”, “Lenggang Puspita”, “Melati Suci”, “Zamrud Khatulistiwa”, hingga “Kembalikan Baliku”.
“Kembalikan Baliku” juga membawa Guruh kembali ke World Popular Song Festival di Tokyo. Arsip ANRI mencatat karya tersebut memperoleh Kawakami Award dan Audience Selection Award.
Ciri khas Guruh terlihat dari caranya memasukkan unsur budaya Nusantara ke dalam format musik yang berkembang pada zamannya.
Swara Maharddhika
Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika sebagai ruang kreativitas anak muda dalam bidang musik, tari, dan seni pertunjukan.
Dari wadah tersebut, Guruh mengembangkan pertunjukan yang menggabungkan tari tradisional, koreografi modern, musik, busana, tata panggung, dan unsur teatrikal.
Ia kemudian melahirkan rangkaian pertunjukan seperti Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979, “Untukmu Indonesiaku” pada 1980, “Cinta Indonesia”, serta “Gilang Indonesia Gemilang” pada 1986.
Jejaknya juga muncul dalam “Gempita Swara Maharddhika” dan pertunjukan kolosal “JakJakJakJak Jakarta”.
Swara Maharddhika selanjutnya berkembang menjadi yayasan. Guruh juga mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP Productions untuk mengembangkan kegiatan seni pertunjukan.
Jejak Perfilman
Guruh turut berkarya di dunia film.
ANRI mencatat ia menjadi ilustrator musik untuk sejumlah film, termasuk “Ali Topan Anak Jalanan”, “Gita Cinta dari SMA”, dan “Puspa Indah Taman Hati”.
Ia juga pernah tampil sebagai aktor dengan memerankan tokoh Sunan Muria dalam film bertema Wali Songo pada 1985.
Kiprah tersebut memperlihatkan ruang kerja Guruh yang tidak terbatas pada penciptaan lagu.
Ia bergerak sebagai komposer, koreografer, penata pertunjukan, musisi, hingga aktor.
Tiga Dekade DPR
Selain dunia seni, Guruh menjalani perjalanan panjang di politik dan lembaga legislatif.
Catatan Kompas menunjukkan Guruh menjadi anggota DPR pada 1992–1997, kemudian kembali ke Senayan sejak 1999 hingga berakhirnya periode DPR 2019–2024. Jika dijumlahkan, masa pengabdiannya di parlemen mencapai sekitar 30 tahun.
Artinya, masa tersebut tidak berlangsung tanpa jeda. Terdapat interval setelah periode 1992–1997 sebelum Guruh kembali menjadi anggota DPR pada 1999.
Pada periode pertama ia berasal dari Partai Demokrasi Indonesia. Setelah era Reformasi, ia berada di DPR melalui PDI Perjuangan.
Karena masa tugas terakhirnya berakhir pada 2024, penyebutan yang tepat saat Guruh wafat adalah mantan anggota DPR RI.
Putra Bung Karno
Guruh merupakan anak bungsu Soekarno dan Fatmawati.
Ia tumbuh bersama Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, dan Sukmawati Soekarnoputri.
Meski lahir dari keluarga yang lekat dengan sejarah politik Indonesia, karya Guruh berkembang kuat di ranah kebudayaan.
Arsip ANRI bahkan menempatkan dokumentasi Guruh dalam kategori luas yang mencakup pencipta lagu, komposer, ilustrator musik, koreografer, aktor, serta aktivitas Swara Maharddhika.
Dimakamkan Dekat Fatmawati
Setelah wafat, jenazah Guruh disemayamkan di rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Jakarta Selatan.
Keluarga sepakat pemakaman Guruh di TPU Karet Bivak, Jakarta, di sebelah pusara ibundanya, Fatmawati.
Hasto Kristiyanto mengatakan waktu pemakaman dibicarakan terlebih dahulu melalui musyawarah keluarga.
Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan catatan panjang yang melintasi musik, tari, seni pertunjukan, film, hingga parlemen.
Dari eksperimen Guruh Gipsy pada 1970-an, panggung Swara Maharddhika, puluhan karya musik hingga sekitar tiga dekade di DPR.
Perjalanan Guruh menjadi bagian dari sejarah seni budaya dan politik Indonesia.





































