- Antrean BBM di sejumlah wilayah Bali belum sepenuhnya terurai hingga Rabu (14/10/2026).
- Pertamina memetakan 52 SPBU untuk melayani pembelian BBM selama 24 jam.
- Pemerintah Bali menargetkan pemulihan distribusi dalam satu hingga dua hari sejak Selasa (13/10/2026).
- Masyarakat disarankan memeriksa ketersediaan BBM sebelum mendatangi SPBU untuk menghindari antrean panjang.
JAMLIMA.COM, DENPASAR — Masyarakat Bali masih menghadapi antrean panjang untuk membeli Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU, Rabu (14/10/2026).Pertamina terus mempercepat pengiriman BBM dan memperpanjang jam pelayanan untuk mengurangi kepadatan kendaraan.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah memetakan 52 SPBU dengan layanan selama 24 jam.
Kebijakan tersebut diharapkan membantu masyarakat memperoleh BBM tanpa harus mengantre pada jam sibuk.
Namun, pelayanan sepanjang hari tetap bergantung pada ketersediaan stok di masing-masing SPBU.
Di Mana SPBU Bali yang Buka 24 Jam?
Pertamina Patra Niaga mengumumkan pemetaan 52 SPBU dengan layanan 24 jam di enam kabupaten dan kota.
Wilayah pelayanan mencakup sejumlah kawasan di Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, dan daerah lainnya.
Di Denpasar dan Badung, layanan mencakup sejumlah SPBU di kawasan Kuta, Kerobokan, Seminyak, Sesetan, serta Jalan Gatot Subroto.
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan daftar lokasi dapat berubah mengikuti perkembangan distribusi.
“Daftar SPBU 24 jam akan terus diperbarui berkala sesuai kondisi di lapangan,” kata Ahad di Denpasar, Rabu (14/10/2026).
Masyarakat dapat memeriksa informasi pelayanan melalui kanal resmi Pertamina.
Daftar lengkap SPBU perlu diperiksa kembali sebelum berangkat karena jam pelayanan dan ketersediaan BBM dapat berubah.
Kapan Antrean BBM Kembali Normal?
Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya memperkirakan distribusi BBM dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari sejak Selasa (13/10/2026).
Perkiraan tersebut muncul setelah pemerintah daerah berkoordinasi dengan Pertamina.
Namun, hingga Rabu (14/10/2026), antrean masih dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU.
Artinya, target pemulihan belum dapat dianggap tercapai secara merata.
Kecepatan normalisasi bergantung pada kedatangan pasokan, pengiriman mobil tangki, dan kapasitas pelayanan.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan perkiraan pemerintah dengan kondisi aktual di lapangan.
Apakah Pertalite dan Pertamax Masih Tersedia?
Pertamina menyatakan pasokan tambahan sedang dikirim secara bertahap.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali memastikan stok Pertalite dan Pertamax mencukupi kebutuhan hingga dua pekan.
Meski demikian, ketersediaan di terminal penyimpanan berbeda dengan stok yang siap dijual di SPBU.
Sebagian lokasi dapat mengalami kekosongan sementara ketika pengiriman belum tiba.
Sebaliknya, SPBU yang baru menerima pasokan dapat kembali melayani konsumen.
Karena itu, informasi stok perlu diperiksa berdasarkan lokasi dan waktu pembelian.
Cara Menghindari Antrean BBM
Masyarakat dapat mengurangi risiko terjebak antrean dengan memeriksa informasi SPBU sebelum berangkat.
Informasi tersebut dapat diperoleh melalui kanal resmi Pertamina atau petugas SPBU terdekat.
Selain itu, pengendara sebaiknya membeli BBM sesuai kebutuhan.
Pembelian berlebihan dapat meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan memperpanjang antrean.
Pengendara juga perlu mengikuti arahan petugas agar kendaraan tidak menghambat arus lalu lintas.
Apabila stok belum tersedia, masyarakat sebaiknya mencari informasi pengiriman berikutnya sebelum menunggu terlalu lama.
Gangguan BBM Memengaruhi Ekonomi Bali
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali turut menghitung potensi dampak gangguan distribusi terhadap perekonomian.
Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menyatakan dampaknya diperkirakan bersifat sementara.
Menurut BI, gangguan selama tiga hingga lima hari berpotensi memengaruhi inflasi sekitar 0,010 persen.
Sementara itu, gangguan selama tujuh hari diperkirakan berdampak sekitar 0,018 persen.
Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan inflasi aktual.
“Mengingat proses normalisasi pasokan dan distribusi BBM sedang berlangsung, dampak terhadap perekonomian daerah diprakirakan tetap terbatas dan bersifat sementara,” kata Achris, Rabu (14/10/2026).
BI terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau perkembangan distribusi.
Bagi masyarakat, kepastian jadwal pengiriman dan informasi stok SPBU menjadi kebutuhan utama selama pemulihan berlangsung.
Baca juga: Antrean BBM di Bali Belum Terurai, Pertamina Ungkap Penyebab dan Tambah Pasokan





































