- Dua warga Sulawesi Selatan asal Toraja tewas dalam dua serangan bersenjata di Jayawijaya dalam rentang enam hari.
- Aprida Rapi’ (49), pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya asal Tana Toraja, tewas dalam serangan di Muliama pada 9 September 2026.
- Enam hari kemudian, Aris Sanda (41), sopir asal Toraja Utara, tewas dalam serangan di kawasan Danau Habema.
- Aparat mengaitkan kedua peristiwa dengan kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Ndugama.
JAMLIMA.COM, JAYAWIJAYA — Dua keluarga di Sulawesi Selatan menerima kabar duka dari Papua Pegunungan dalam waktu hampir bersamaan.
Dua warga asal Toraja tewas dalam dua serangan bersenjata berbeda di Kabupaten Jayawijaya.
Korban pertama adalah Aprida Rapi’ (49), pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Tana Toraja.
Aprida tewas setelah rombongan tempatnya bertugas diserang di Distrik Muliama pada Rabu (9/9/2026).
Enam hari kemudian, Aris Sanda (41), sopir asal Toraja Utara, tewas dalam serangan di kawasan Danau Habema pada Selasa (15/9/2026).
Dua insiden tersebut terjadi di lokasi berbeda. Namun, keduanya sama-sama berlangsung di Jayawijaya dan merenggut nyawa warga asal Sulawesi Selatan.
Aprida Saat Bertugas
Serangan terhadap Aprida terjadi ketika ia bersama rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya menjalankan tugas ke Distrik Muliama.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Irjen Pol Faizal Ramadhani mengatakan rombongan tersebut berjumlah 11 orang.
Mereka berangkat dari Wamena menuju Muliama untuk meninjau kegiatan pertanian, termasuk program cetak sawah.
Serangan terjadi sekitar pukul 15.53 WIT di Kampung Muliama.
Tiga pegawai Dinas Pertanian meninggal dalam peristiwa tersebut.
Selain Aprida, dua korban lainnya adalah Alfonsius Albinus Mehan dan Wili Mbuik.
Aprida diketahui menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Aparat kemudian mengevakuasi para korban ke RSUD Wamena serta melakukan penyisiran di sekitar lokasi.
Satgas Operasi Damai Cartenz mengaitkan serangan itu dengan kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Ndugama.
Jenazah Aprida selanjutnya dipulangkan ke Sulawesi Selatan.
Pada Sabtu (12/9/2026), jenazah tiba di rumah keluarga di wilayah Tondon, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja.
Enam Hari Berselang
Belum sepekan setelah Aprida meninggal, kabar duka kembali datang dari Jayawijaya.
Kali ini, korban adalah Aris Sanda (41), warga Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara.
Aris bekerja sebagai sopir angkutan yang melayani perjalanan dan pengiriman logistik di wilayah pegunungan Papua.
Pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIT, Aris melintasi jalur Wamena menuju Mbua.
Perjalanan itu kemudian berakhir di sekitar Danau Habema, kawasan Gunung Boy, Distrik Trikora.
Komando Operasi Habema TNI menyatakan Aris menjadi korban serangan kelompok bersenjata yang oleh aparat disebut berasal dari OPM Kodap III Ndugama.
Petugas kemudian menemukan kendaraan yang digunakan Aris dalam kondisi terbakar bersama jenazah korban.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna mengatakan aparat melakukan pencarian dan penyisiran setelah menerima informasi kejadian.
Dipulangkan ke Toraja
Setelah proses evakuasi di Papua, jenazah Aris dipulangkan ke Sulawesi Selatan.
Jenazah diterbangkan dari Wamena menuju Sentani sebelum melanjutkan perjalanan ke Makassar pada Jumat (18/9/2026).
Aris tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sekitar pukul 14.40 WITA.
Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong bersama keluarga ikut menyambut kedatangan jenazah.
Setelah ibadah penghiburan di Makassar, jenazah dibawa melalui jalur darat menuju Toraja Utara.
Jenazah Aris tiba di Tongkonan Kalintiong, Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, pada Sabtu (19/9/2026).
Perjalanan itu menjadi kepulangan terakhir Aris dari Papua ke kampung halamannya.
Dua Duka dari Jayawijaya
Dua kasus tersebut terjadi dalam situasi berbeda.
Aprida diserang saat menjalankan tugas kedinasan bersama rombongan Dinas Pertanian.
Sementara itu, Aris menjadi korban ketika menjalankan pekerjaannya sebagai sopir di jalur Wamena–Mbua.
Namun, keduanya memiliki satu benang merah.
Aprida Rapi’ (49) asal Tana Toraja dan Aris Sanda (41) asal Toraja Utara sama-sama tewas dalam serangan bersenjata di Jayawijaya hanya dalam rentang enam hari.
Aprida meninggal pada 9 September 2026.
Enam hari kemudian, Aris tewas pada 15 September 2026.
Dalam kedua kasus, aparat keamanan mengaitkan serangan dengan kelompok bersenjata yang beroperasi dari wilayah Ndugama.
Dua peristiwa tersebut kembali menunjukkan risiko keamanan yang masih dihadapi warga sipil dan pekerja yang beraktivitas di sejumlah wilayah Papua Pegunungan.





































