Scroll untuk baca artikel
EnterSehat

Uji Lab Kasus MBG Sorong Temukan Bacillus cereus pada Buah Naga Potong, Kadarnya Lewati Batas

×

Uji Lab Kasus MBG Sorong Temukan Bacillus cereus pada Buah Naga Potong, Kadarnya Lewati Batas

Sebarkan artikel ini
Sejumlah siswa menjalani perawatan usai dugaan keracunan MBG di Kota Sorong, Papua Barat Daya.
PERAWATAN SISWA MBG SORONG — Sejumlah siswa menjalani perawatan usai dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (16/9/2026). Hasil uji laboratorium kemudian menemukan Bacillus cereus pada sampel buah naga potong. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Laboratorium menemukan Bacillus cereus 2,5 × 10² CFU/gram pada sampel buah naga potong MBG di Kota Sorong.
  • Satgas MBG menyebut kadar itu melampaui persyaratan yang digunakan, yakni di bawah 10² koloni/gram.
  • Sampel nasi, ayam woku, tempe, tumis sayur, dan air dilaporkan memenuhi persyaratan.
  • Temuan bakteri belum membuktikan buah naga sebagai penyebab pasti karena spesimen korban tidak tersedia.

JAMLIMA.COM, SORONG — Hasil uji laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada buah naga potong dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sorong, Papua Barat Daya.

Satgas MBG Kota Sorong mengumumkan hasil pemeriksaan tersebut pada Senin, 28 September 2026.

Laboratorium menemukan Bacillus cereus sebesar 2,5 × 10² CFU per gram atau sekitar 250 CFU/gram.

Ketua Satgas MBG Kota Sorong Ruddy Laku mengatakan angka tersebut berada di atas persyaratan yang digunakan dalam pemeriksaan.

“Buah naga potong ditemukan bakteri Bacillus cereus sebesar 2,5 x 10² CFU per gram,” kata Ruddy.

Satgas menyebut batas yang digunakan berada di bawah 10² koloni per gram.

Menu Lain Memenuhi Syarat

Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah komponen menu dari SPPG Malaimsimsa Klabulu.

Sampelnya meliputi nasi putih, ayam woku, tempe goreng tepung, tumis sawi dan tauge, serta buah naga potong.

Petugas juga memeriksa air yang digunakan dalam pengolahan pangan.

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Sorong Meri Tandigau mengatakan hanya buah naga yang menunjukkan masalah.

“Hasil pemeriksaan, untuk semua sampel makanan memenuhi syarat, kecuali sampel buah potong, yaitu buah naga potong,” kata Meri.

Pemeriksaan juga mencakup Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.

Sampel Berasal dari Bank SPPG

Hasil laboratorium tetap perlu dibaca secara hati-hati.

Sampel yang diperiksa bukan sisa makanan yang langsung dikonsumsi siswa atau guru yang sakit.

Petugas mengambil bahan dari bank sampel SPPG Malaimsimsa Klabulu pada 17 September 2026.

Laboratorium kemudian melakukan pemeriksaan pada 18 September 2026.

Satgas juga tidak memperoleh sisa makanan yang dikonsumsi korban.

Selain itu, muntahan maupun feses korban tidak tersedia untuk pemeriksaan.

Karena itu, hasil tersebut membuktikan keberadaan Bacillus cereus pada sampel buah naga.

Namun, data yang tersedia belum cukup menetapkan buah naga sebagai penyebab pasti seluruh kasus.

Kasus Bermula 16 September

Gangguan kesehatan muncul setelah siswa dan guru SMP Muhammadiyah Al-Amin mengonsumsi MBG pada Rabu, 16 September 2026.

Keluhan yang dilaporkan meliputi sakit perut, pusing, muntah, dan diare.

Laporan awal menyebut 26 siswa dan lima guru mengalami keluhan.

Delapan siswa sempat mendapat penanganan di Rumah Sakit Sele Be Solu.

Dalam pembaruan berikutnya, 14 siswa dilaporkan menjalani perawatan rumah sakit dan 30 siswa mendapat rawat jalan.

Sebanyak delapan guru juga mengalami sakit perut dan diare.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan perkembangan pendataan sejak laporan awal.

Karena itu, angka tersebut tidak sebaiknya dijumlahkan sebagai korban baru.

Mengenal Bacillus cereus

Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang banyak ditemukan di lingkungan.

Bakteri ini dapat mencemari pangan dan berkembang ketika penyimpanan tidak sesuai.

Kontaminasi dapat menimbulkan dua pola penyakit.

Tipe emetik lebih sering menyebabkan mual dan muntah.

Sementara itu, tipe diare dapat memicu kram perut dan diare cair.

Gejala tipe emetik umumnya muncul dalam satu hingga enam jam.

Pada tipe diare, masa inkubasinya sekitar enam hingga 24 jam.

Sebagian besar kasus ringan dapat pulih dalam waktu singkat.

Temuan Bakteri Belum Membuktikan Penyebab

Dalam investigasi kejadian keracunan pangan, temuan mikroorganisme perlu dibandingkan dengan data epidemiologi dan pemeriksaan pasien.

Pedoman internasional menggunakan jumlah bakteri tertentu dalam makanan atau temuan organisme pada spesimen pasien sebagai bagian dari kriteria konfirmasi.

Kriteria tersebut bukan batas keamanan pangan Indonesia.

Namun, prinsip itu menunjukkan bahwa temuan bakteri pada satu bank sampel belum otomatis membuktikan sumber wabah.

Indonesia mengatur batas cemaran mikroba pangan melalui regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Peraturan terbaru memperbarui ketentuan batas maksimal cemaran mikroba dalam pangan olahan.

SPPG Diminta Perbaiki Penanganan Pangan

Satgas MBG Kota Sorong meminta SPPG memperbaiki seluruh rantai pengolahan makanan.

Evaluasi mencakup waktu antara proses memasak dan konsumsi serta pengendalian suhu penyimpanan.

Penanganan dan pengemasan buah potong juga menjadi perhatian.

SPPG diminta memasang CCTV di ruang dapur dan memeriksa kesehatan penjamah pangan secara berkala.

Petugas juga harus memastikan kondisi makanan setelah tiba di sekolah hingga dibagikan kepada siswa.

Langkah tersebut menjadi bagian penguatan keamanan pangan dalam Program MBG.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

SPPG Malaimsimsa Klabulu dihentikan sementara setelah muncul laporan gangguan kesehatan.

Penghentian dilakukan untuk evaluasi keamanan pangan dan perbaikan standar operasional.

SPPG tersebut tercatat dengan ID 9100601 dan dikelola Yayasan Dharma Wanita Universitas Muhammadiyah Sorong.

Unit itu mulai beroperasi pada Februari 2025.

Kepala Satgas MBG Papua Barat Daya Ahmad Nausrau mengatakan pengelola wajib memenuhi seluruh rekomendasi sebelum kembali beroperasi.

“SPPG yang diberhentikan sementara wajib memenuhi seluruh rekomendasi perbaikan sebelum kembali beroperasi,” kata Ahmad.

Hasil laboratorium kini menjadi dasar penting untuk memperbaiki penanganan pangan di SPPG tersebut.

Namun, penetapan sumber pasti gangguan kesehatan tetap membutuhkan bukti epidemiologi dan laboratorium yang memadai.