Scroll untuk baca artikel
Sehat

Tips Aman Mengonsumsi Ikan Asap, Kenali Risiko Kanker dan Cara Mengolahnya

×

Tips Aman Mengonsumsi Ikan Asap, Kenali Risiko Kanker dan Cara Mengolahnya

Sebarkan artikel ini
Ikan asap matang yang disajikan bersama sayuran sebagai ilustrasi cara aman mengonsumsi ikan asap.
IKAN ASAP - Ikan asap menjadi salah satu lauk tradisional masyarakat Indonesia. Proses pengasapan, kematangan, dan penyimpanan perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kesehatan. (Foto: Ilustrasi/Jamlima.com)

  • Ikan asap tetap mengandung protein, tetapi keamanan konsumsinya bergantung pada proses pengasapan, kematangan, dan penyimpanan.
  • Pengasapan yang tidak terkendali dapat menghasilkan PAH, yakni kelompok senyawa kimia yang sebagian anggotanya bersifat karsinogenik.
  • Ikan asap dingin berisiko membawa bakteri Listeria, sehingga kelompok rentan perlu memasaknya hingga benar-benar matang.
  • Kandungan garam dan cara penyimpanan perlu diperhatikan, terutama bagi penderita hipertensi, ibu hamil, dan lansia.

JAMLIMA.COM, JAKARTA — Ikan asap menjadi salah satu lauk tradisional yang digemari masyarakat Indonesia.

Aroma khas dan rasanya yang gurih membuat makanan ini cocok disantap bersama nasi dan sayuran.

Meski demikian, cara pengolahan ikan asap perlu diperhatikan. Proses pengasapan yang kurang tepat dapat meningkatkan paparan senyawa berbahaya.

Selain kontaminan kimia, penyimpanan yang tidak sesuai juga dapat memicu pertumbuhan bakteri.

Lantas, bagaimana cara menikmati ikan asap agar tetap aman bagi kesehatan?

Mengapa Ikan Asap Memiliki Risiko Kesehatan?

Ikan merupakan sumber protein hewani yang membantu memenuhi kebutuhan gizi tubuh.

Namun, proses pengasapan dapat menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

Senyawa ini terbentuk antara lain melalui pembakaran bahan organik yang tidak sempurna.

Otoritas Keamanan Pangan Eropa atau European Food Safety Authority (EFSA) menjelaskan bahwa sebagian PAH bersifat genotoksik dan karsinogenik.

Artinya, beberapa senyawa tersebut dapat merusak materi genetik dan berpotensi menyebabkan kanker.

EFSA juga mengidentifikasi proses pemanggangan dan pengasapan sebagai sumber paparan PAH dalam makanan.

Meski demikian, konsumsi ikan asap tidak otomatis menyebabkan kanker.

Risikonya bergantung pada kadar senyawa berbahaya, jumlah paparan, serta pola konsumsi dalam jangka panjang.

Hindari Ikan Asap yang Terlalu Hangus

Warna kecokelatan merupakan salah satu ciri ikan yang telah melalui proses pengasapan.

Namun, permukaan yang sangat hitam akibat pembakaran berlebihan sebaiknya dihindari.

Penelitian mengenai PAH menunjukkan bahwa metode dan kondisi pengasapan memengaruhi kadar kontaminan.

Karena itu, konsumen perlu memilih ikan yang diolah secara higienis dan tidak mengalami pembakaran berlebihan.

Bagian yang hangus sebaiknya dibuang sebelum dikonsumsi.

Namun, tindakan tersebut tidak menjamin seluruh PAH hilang.

Pasalnya, sebagian kontaminan dapat berada pada bagian ikan yang tidak terlihat hangus.

Perlukah Ikan Asap Dipanaskan Kembali?

Tidak semua ikan asap menjalani proses pengolahan yang sama.

Pengasapan panas menggunakan suhu yang lebih tinggi dan dapat sekaligus memasak ikan.

Sebaliknya, pengasapan dingin tidak selalu menghasilkan produk yang matang sempurna.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menjelaskan bahwa pengasapan dingin tidak membunuh bakteri Listeria monocytogenes.

Bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai listeriosis.

Karena itu, ikan asap dingin perlu mendapat perhatian khusus, terutama jika akan dikonsumsi kelompok rentan.

Ibu hamil dan orang dengan daya tahan tubuh lemah sebaiknya tidak mengonsumsi ikan asap dingin siap santap tanpa pemanasan hingga matang.

Sementara itu, ikan asap tradisional yang belum jelas tingkat kematangannya sebaiknya dimasak kembali.

Pengukusan atau pemanasan dalam kuah dapat menjadi pilihan.

Pastikan panas mencapai seluruh bagian ikan sebelum disajikan.

Apakah Ikan Asap Harus Dicuci?

Mencuci ikan asap tidak selalu diperlukan.

Produk siap santap yang diolah secara higienis dapat mengikuti petunjuk penyajian produsennya.

Namun, ikan asap tradisional perlu diperiksa sebelum dimasak.

Jika terdapat kotoran yang terlihat, bersihkan dengan cara yang higienis tanpa mencemari peralatan dapur.

Perlu dipahami, pencucian tidak menjamin seluruh bakteri dan kontaminan kimia hilang.

Karena itu, ikan yang sudah berbau busuk, berlendir, atau menunjukkan tanda kerusakan tidak layak dikonsumsi.

Jangan menggunakan pencucian maupun pemanasan untuk menyelamatkan ikan yang telah rusak.

Penderita Hipertensi Perlu Membatasi Garam

Sebagian ikan asap menggunakan garam dalam proses pengolahannya.

Kandungan natrium dapat berbeda sesuai metode produksi dan jumlah garam yang digunakan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memberikan rekomendasi konsumsi natrium bagi orang dewasa.

Dalam panduan yang diperbarui pada 11 Mei 2026, WHO menyatakan bahwa asupan natrium orang dewasa sebaiknya kurang dari 2.000 miligram sehari.

Jumlah tersebut setara dengan kurang dari lima gram garam.

Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.

Karena itu, penderita hipertensi sebaiknya memilih ikan asap dengan kandungan garam lebih rendah.

Hindari penambahan kecap asin, garam, atau penyedap tinggi natrium secara berlebihan.

Sebagai pelengkap, ikan asap dapat disajikan bersama sayuran segar atau sayur bening.

Jangan Menyimpan Ikan Asap Sembarangan

Pengasapan tidak selalu membuat ikan tahan lama pada suhu ruang.

Daya simpan produk bergantung pada kadar air, penggaraman, pengemasan, serta proses produksinya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menganjurkan penyimpanan makanan yang mudah rusak pada suhu lemari pendingin maksimal 4 derajat Celsius.

FDA juga menetapkan prinsip penyimpanan maksimal dua jam pada suhu ruang.

Jika suhu lingkungan melebihi 32 derajat Celsius, batas tersebut menjadi satu jam.

Karena itu, ikan asap yang memerlukan pendinginan harus segera disimpan dalam lemari es.

Sementara itu, produk kemasan yang stabil pada suhu ruang dapat mengikuti petunjuk produsennya.

Konsumen juga perlu memperhatikan tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan.

Ibu Hamil dan Lansia Harus Lebih Waspada

Infeksi Listeria dapat menimbulkan komplikasi serius pada kelompok tertentu.

CDC mengidentifikasi ibu hamil, bayi baru lahir, lansia, dan orang dengan gangguan kekebalan sebagai kelompok berisiko tinggi.

Sementara itu, layanan kesehatan Inggris atau NHS menganjurkan ibu hamil dan orang dengan daya tahan tubuh lemah menghindari ikan asap dingin siap santap.

Pengecualian berlaku jika produk dimasak hingga panas merata ke seluruh bagian.

Pada ibu hamil, infeksi Listeria dapat meningkatkan risiko keguguran dan kematian janin.

Karena itu, kelompok rentan perlu lebih selektif memilih dan mengolah ikan asap.

Berapa Kali Ikan Asap Boleh Dikonsumsi?

Belum ada batas konsumsi mingguan yang berlaku universal untuk semua jenis ikan asap.

Keamanan konsumsi bergantung pada mutu produk, metode pengasapan, kadar kontaminan, dan kondisi kesehatan.

Masyarakat tetap dapat menikmati ikan asap sebagai bagian dari pola makan beragam.

Namun, sebaiknya variasikan pengolahannya dengan ikan segar yang direbus, dikukus, atau dipepes.

Cara tersebut membantu mengurangi ketergantungan pada makanan yang diproses melalui pengasapan.

Selain itu, perhatikan jenis ikan dan kandungan merkurinya, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak.


Fokus Utama

Ikan asap tetap dapat menjadi pilihan lauk bergizi jika diolah dan disimpan dengan benar.

Namun, konsumen perlu menghindari produk yang hangus, rusak, atau tidak jelas proses pengolahannya.

Perhatikan pula tingkat kematangan dan kandungan garam.

Bagi ibu hamil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, keamanan mikrobiologi menjadi perhatian utama.

Dengan memilih produk berkualitas dan menerapkan pengolahan yang tepat, masyarakat dapat menikmati ikan asap sekaligus mengurangi risiko kesehatan.


Baca juga: Berapa Biji Durian yang Aman Dikonsumsi? Ini Takaran dan Penjelasan Medis